LELAKI itu bukan Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, atau Goenawan Mohamad. Juga bukan Sutarji, Rendra, atau Afrizal Malna. Bukan pula Wiji Thukul, Pinurbo, atau penyair populer lainnya. Laki-laki itu sengaja menyembunyikan nama aslinya. Orang-orang pun, dengan gampangan, memanggilnya Mas Ganjil atau Pak Ganjil. Rupanya dia sangat senang dengan sebutan itu.

“Itu nama yang bagus. Aku suka… Aku jadi ingat, dulu orang tuaku mau kasih nama Gandhi, tapi merasa aku tak pantas menyandang nama besar itu, mereka pun menggantinya dengan sebutan lain. Tapi ini rahasia,” ujar Ganjil setelah mereguk teh di kedai kopi.

Mengarang memang hobi dia. Apa saja bisa jadi tema. Jika kamu ngasih kata ‘tembakau’ maka dia bisa bercerita tentang “daun-daun yang meronta ketika dipetik dan ditimbun lalu dibawa para pedagang VOC ke Eropa. Batang-batang tembakau menangis. Namun senja meyergap kesedihan mereka dengan hawa dingin yang perkasa”. Dia lalu tertawa. Berderai. Bikin ramai seluruh isi kedai.

Para politisi lokal suka memanfaatkan kegemaran si Ganjil merangkai kalimat. Menyusun baris-baris puisi atau narasi. Dengan upah sebungkus rokok, mereka pun mengumpan satu kata kepada Ganjil. Misalnya ‘rakyat’. Maka, kata rakyat itu pun beranak-pinak: “rakyat itu terbuat dari baja yang disepuh kekuatan sang waktu, hingga bisa menerobos ke segala ruang dan menyemburkan mimpi buruknya”.

“Jadi jangan pernah main-main sama rakyat, ya?” ujar sang politikus dengan wajah cerah.

“Tak apa main-main dengan rakyat, kalau memang berani. Tapi ingat, rakyat itu punya sihir yang bisa mengubah kalian jadi belatung!” ujar Ganjil.

“Jadi rakyat itu sakti ya? Tapi kenapa kalah melulu?” ucap Marsial.

“Bukan kalah. Tapi mengalah. Mengalah itu artinya menuju ke jalan Allah. Jadi, sesungguhnya rakyat itu tak pernah kalah. Tapi, para politikus dan penguasa selalu merasa selalu menang…” Ganjil tersenyum.

Orang-orang tertegun. Mereka saling pandang. Ada yang menganggukkan kepala. Ada yang mengerutkan dahinya. Sang politikus mengisap rokoknya kuat-kuat. Ada gurat cemas di wajahnya.

“Hei. Kau ini penyair atau paranormal?” tanya sang politikus.

“Terserah kaulah. Aku hanya bersekutu dengan kata-kata yang muncul begitu saja. Lalu aku tangkap.”

“Kau pikir kata-kata itu dikirim Tuhan?” Politikus itu memancing reaksi.

“Tak tahulah… Aku bukan wali, bukan orang suci apalagi nabi.”

“Jangan-jangan kata-kata itu dikirim setan atau iblis?”

“Tak masalah. Kata-kata bagus tak jadi buruk hanya karena digenggam setan atau iblis. Barangkali justru merekalah yang merawat makna kata-kata itu. Beda dengan manusia yang malah sering menghajar kata-kata untuk menipu…”

“Kau kan cuma mau bilang, para politikus itu sering merusak kata-kata demi retorika gagah tapi memperdaya!” Wajah sang politikus tampak tegang.

Ganjil mengangkat bahu.

Dengan urat-urat wajah yang tampak mengeras, ia meninggalkan warung. Beberapa lembar uang ia tinggalkan, sambil melirik ke pemilik kedai.

Pemilik kedai tersenyum. “Sampeyan memang dermawan. Tak salah dulu kami pilih sampeyan jadi wakil rakyat…”

Sang politikus menghentikan langkahnya. “Nah kalian dengar sendiri. Aku tidak pernah menyakiti hati rakyat…”

Lalu dia pergi. Orang-orang saling memandang.

“Jaga omonganmu, kalau ingin selamat!” ujar Jrakah.

Ganjil hanya tersenyum. Tak tampak rasa takut. “Aku tak akan menarik satu kata pun dari omonganku. Apalagi minta maaf. Aku selalu beriman pada puisi-puisiku. Aku yakin, setiap kebenaran selalu berasal dari Tuhan…”

Ada yang tersenyum. Ada yang melipat wajahnya. Beberapa orang meninggalkan kedai.

***

Malam menjelang pukul dua dini hari. Kedai sudah ditutup. Pemiliknya sudah tidur melingkar di bangku pojok. Ganjil masih duduk. Tak ada kantuk. Ia menulis berlembar-lembar puisi atau apa saja, sambil tubuhnya begerak-gerak seperti penari.

Mendadak beberapa sosok dengan wajah yang dibebat kain hitam menyergapnya. Membekap mulutnya. Memukulinya. Ganjil tak melawan. Darah mengalir dari kepala. Membasahi tubuhnya. Tapi Ganjil tetap meneruskan menulis puisi. Bahkan dengan darahnya sendiri. Para pengeroyok pun takjub dan ketakutan. Mereka pun lari tunggang langgang. ***

 

*) Indra Tranggono, penulis esai dan cerpen, tinggal di Yogyakarta.