KURUVILLE, TAHUN 2007

 

Pinto menunggu dengan tegang. Sudah sepuluh menit lewat dari waktu yang dijanjikan. Yang membuatnya lebih jengkel adalah bahwa ia belum mengenal orang yang akan dijumpainya itu. Perempuan itu meneleponnya hanya beberapa saat sebelum ia selesai mengemasi barangnya untuk pulang.

“Aku punya informasi penting untukmu,” kata perempuan itu di telepon.

Pinto tak berhasil membuat wanita itu mengatakan informasi apa yang hendak disampaikannya itu.

“Aku tinggi dan cantik. Temui aku pukul empat di bar Hotel IH. Cari tempat duduk yang menghadap ke pintu.”

Lalu telepon di seberang sana ditutup. Naluri wartawan Pinto membuatnya pergi juga ke tempat itu. Pukul empat telah berlalu sepuluh menit. Ternyata, begitu banyak perempuan tinggi dan cantik yang beredar di tempat itu. Dan itu membuat Pinto sulit menebak sasarannya.

Pinto sudah hampir membayar minumannya dan pergi dari tempat itu setengah jam kemudian. Perempuan penelepon itu belum juga muncul di situ. Seorang perempuan tinggi dan cantik menyerobot bon minuman Pinto itu dari pelayan yang membawanya.

“Anda masih punya janji minum denganku, bukan?” tanya perempuan itu sambil duduk di sebelah Pinto.

“Setengah jam yang lalu aku berjanji dengan seseorang di sini. Sekarang ini aku tak punya janji dengan siapa-siapa lagi.”

“Kuhargai keterusterangan Anda. Maaf. Maaf. Maaf. Aku yang salah. Tetapi itu juga karena lalu lintas terhambat peserta kampanye pemilu. Macet.”

“Maka pemilulah yang salah,” Pinto menebarkan kedua tangannya, mencoba memahami persoalan keterlambatan perempuan itu. Memang cantik perempuan itu. Pakaian dan aksesorinya mahal. Kuku dan jari-jari tangannya terawat. Betisnya indah, dan ada selingkar gelang tipis dari emas di bawah salah satu kakinya, untuk mempertegas keindahan betis yang berisi itu.

“Oke, jadi informasi apa yang hendak Anda seberangkan?”

Well, to begin with, ada dua hal yang ingin terlebih dahulu kusampaikan. Pertama, aku bukan orang yang tak punya nama. Namaku Cathleen. Kau boleh panggil aku Cat, seperti teman-teman dekat selalu memanggilku. Kedua, aku haus dan ingin minum sambil mengatur napasku dulu.”

Pinto tersenyum sambil melambaikan tangan memanggil pelayan. Pelayan itu pun segera datang.

“Kupikir wiski akan melemaskan lidahku,” kata Cat.

Premium brand?”

Yes, Chivas, please.”

On the rock?”

Cat mengangguk.

Pinto memesankan dua Chivas on the rock. Perempuan yang sungguh canggih, pikir Pinto. Mungkin hanya mengisap cerutu dan terbang aerobatik saja yang belum dilakukan perempuan ini, pikir Pinto lagi. Dan ah, berapa banyak sudah laki-laki yang tertelungkup kehabisan tenaga di tempat tidurnya?

“Kau tentu menyukai pekerjaanmu, ya?” tanya Cat.

Pinto tersenyum lebar.

“Apalagi karena pekerjaanku memberi kesempatan untuk berjumpa dengan orang-orang misterius sepertimu.”

“Aku misterius?”

“Ya,” kata Pinto tegas.

“Coba katakan unsur apa pada diriku yang membuat aku lebih misterius daripada orang-orang lain yang ada di sini?”

Pinto tergagap. Diangkatnya kedua tangannya, tak hendak menjawab pertanyaan itu.

“Oke, aku terlambat setengah jam,” kata Cat. “Apakah itu membuatku misterius? Aku meneleponmu dan minta bertemu secara mendadak. Apakah itu membuatku misterius? Lalu aku memesan wiski. Apakah itu juga membuatku misterius?”

Pinto mengangkat tangannya sekali lagi. Perempuan di depannya itu ternyata tak cuma cantik. Otaknya pun cukup baik berfungsi. Pada masa sekarang, gabungan kecantikan dan kecerdasan makin banyak saja mewujud.

Wiski itu pun datang. Pinto mengangkat gelasnya, menyambut angkatan gelas Cat. Wiski itu hangat meluncur di tenggorokan mereka.

“Sebenarnya bukan aku yang punya informasi itu,” kata Cat ketika meletakkan gelasnya ke meja.

“Dan kau baru mengatakan hal itu setelah kubelikan wiski, ya?”

“Kalau kau merasa rugi, biar kubayar sekalian wiskimu.”

Cat tak menangkap gurau Pinto tadi. Ternyata.

“Tak dapatkah kau menangkap bahwa aku hanya bergurau?”

Cat terjengak.

“Bergurau adalah bisnisku, Pinto. Tetapi, guraumu setingkat di atasku. Aku harus berguru padamu,” katanya sambil mengangkat gelasnya ke Pinto.

Adalah Pinto yang sekarang digalau berbagai pertanyaan. Sebuah teka-teki yang tampil dalam sosok perempuan elok itu belum lagi dapat dipecahkannya. Bahkan beberapa inisiasinya untuk memecahkan teka-teki itu patah di tengah jalan.

Anytime,” jawab Pinto terpojok tanpa pilihan.

“Di sebuah kamar di atas sana,” kata Cat sambil menudingkan jarinya ke atas, “seorang temanku siap mengajakmu bicara. Dan dialah yang mempunyai informasi untukmu.”

“Ceritakan dulu padaku tentang temanmu itu.”

“Kau sudah punya cerita tentang dia. Masih ingat Patrick Uhai?”

Pinto memukul jidat. Patrick Uhai. Ikan besar.

“Suruh dia turun ke sini. Cepat.”

“Bagaimana kalau ia menyuruhmu naik ke atas?” tanya Cat.

“Katakan kalau aku tak berani naik lift dan hari ini tungkaiku ngilu, tak bisa naik tangga.”

Cat tertawa. Lalu pergi setelah menghirup habis wiski di gelasnya.

Patrick Uhai, gerutu Pinto. Penyelundup senjata itu memang pernah ditulisnya untuk laporan utama di majalahnya. Empat tahun yang lalu. Pinto sendiri yang memimpin tim penulisannya.

Patrick muncul tanpa Cat. Di ambang pintu bar yang lebar itu. Senyumnya lebar. Perutnya ramping.

Alive and well,” seru Pinto sambil berdiri menyambut pria itu.

“Dan sudah keluar dari penjara, Bung,” sambung Patrick sambil mengguncang tangan Pinto.

Lalu didekatkannya bibirnya ke telinga Pinto sambil berbisik.

“Dan itu tak perlu kau tulis, ya?”

Pinto memandang Patrick duduk di depannya. Vonis 20 tahun penjara itu ternyata hanya dijalaninya empat tahun? Mustahil itu terjadi tanpa dukungan orang kuat.

Patrick mengangkat gelas bekas Cat dan mencium aroma minuman yang tertinggal. Tangannya menggapai udara, dan seorang pelayan datang bergegas. Ia hanya menunjuk ke gelas yang sudah kosong itu.

Chivas, Tuan?”

Double.”

Lalu Patrick menyeringai ke arah Pinto.

“Maaf aku tak sempat menyuratimu dari penjara. Aku harus berterima kasih atas tulisanmu. Aku juga suka gambar sampulnya. Lukisan Dali, ya? Sungguh mirip. Aku hanya punya satu koreksi atas tulisanmu. Waktu itu pacar-pacarku bukan hanya dari Hong Kong dan Taipei. Kau tak tahu, ya, bahwa aku juga punya pacar di Zurich dan Stockholm?”

Pinto benci melihat cara Patrick tertawa terguncang-guncang di depannya. Tawa kemenangan yang sangat plastis. Ia tak marah atas tulisan Pinto yang menyebut bahwa dia adalah orang yang hanya kalah berbahaya dari komunisme bagi dunia. Ia juga tak mempersoalkan istilah ‘pialang berbahaya yang siap melaratkan bangsa’ yang dituduhkan Pinto terhadapnya.

Permainan apa pula ini? Pinto menggerutu dalam hati. Ya, permainan apa pula? Patrick mengangkat gelas wiskinya ke arah Pinto. Pinto tidak mengangkat gelasnya.

Pinto tetap tak mengangkat gelasnya. Patrick menyentuhkan pinggir gelasnya ke pinggir gelas Pinto di meja. Lalu mengosongkan isi gelasnya.

Sekali tenggak. Chivas pasti marah jika melihat wiski yang dituakan 12 tahun hanya diminum sesembrono itu.

Patrick mengangkat tangannya lagi ke udara. Meminta pelayan mengirim segelas wiski lagi.

“Mengapa Anda tak menyambut ajakanku untuk berkawan?”

“Masih banyak hal yang kucurigai atas pertemuan mendadak ini,” kata Pinto penuh perhitungan.

“Justru itulah, Sobat. Kuajak kau minum. Dua orang sahabat tidak punya rahasia apa-apa lagi. Dua orang sahabat tidak punya kecurigaan apa-apa lagi.”

Pinto terdiam.

“Kau suka Cat? Dia punyaku. Tetapi, kalau kita bersahabat, dia punyamu juga. Telepon dulu, tentu. Suite 4032. Supaya aku bisa pergi dulu bila aku kebetulan ada di situ. Ha ha ha ….”

Pinto menekan perasaannya. Ia begitu terhina dengan tawaran itu. Ia ingin pergi saja dari tempat itu. Tetapi ia wartawan. Dengan naluri yang cukup tajam untuk mengail bahan berita. Dipaksanya untuk tetap duduk di depan pria memuakkan itu.

Patrick tersenyum lebar memandangi Pinto yang seperti terpanggang di atas kursinya.

“Empat tahun dalam bui tak membuatku rusak, kan?” kata Patrick membanggakan kondisi fisiknya.

Pinto menggelengkan kepalanya.

“Kau tak tahu, ya? Setiap minggu aku masih bisa pergi ke pulau. Dengan status tahananku itu. Dan masih ada pacar-pacarku yang mau menemaniku di pulau. That, my friend, is the power of money.”

Pinto menatap mata Patrick lurus-lurus.

“Aku pun tak mengerti mengapa hukumanmu bisa jadi enam belas tahun lebih pendek.” Kata Pinto tanpa basa-basi.

Ganti Patrick menatap mata Pinto. Mencoba tak terpancing untuk membuka kartu yang tak diperlukan.

Ditenggaknya wiski kedua yang baru disuguhkan. Lalu ia bermain waktu dengan mengeremus sebungkah es batu.

Pinto tak menurunkan tatapan matanya dari pandangan Patrick

“Sudah kulakukan tugasku,” kata Patrick pelan. “Dan inilah bayaranku.”

“Tugasmu adalah untuk membuat seorang menjadi atorni agung. Kau menjadi korban agar orang itu bisa berdiri di atas bangkaimu. Dan bayarannya adalah carte blanche untuk melakukan bisnismu kembali?”

Patrick tertawa kecil.

“Kau lihat bukan? Aku ingin menjadi sahabatmu. Aku sudah membuat diriku kartu terbuka di depanmu.”

Pinto tertawa. Diangkatnya gelasnya dan mengambil seteguk wiski. Ia baru maju selangkah.

“Aku hanya ingin satu hal. Kalau kau temanku, singkirkan mata, telinga, dan hidungmu dari jalanku. Kau akan kuberi dossier yang paling lengkap bila kupandang saatnya tiba.”

“Kenapa harus kau yang menentukan waktunya?”

“Karena aku yang menguasai masalahnya.”

Pinto membiarkan Patrick memenangi papan pertama itu. Dilambainya pelayan itu membawakan bon minumannya.

Patrick merenggut bon itu dan menyorongkan kartu kreditnya yang berwarna platina.

Mereka bersalaman di pintu bar.

***

Cat menelepon Pinto seminggu kemudian. Ia kebingungan mencari Patrick.

“Kata Patrick, aku bisa menanyakannya kepadamu bila tak dapat menemukan dia,” kata Cat.

“Sejak kapan aku sudah jadi kaki tangannya?”

“Kau masih saja bersikap bermusuhan dengannya?”

“Tidak. Aku sudah menjabat tangannya untuk sebuah kesepakatan. Tetapi, itu kan tidak berarti bahwa aku lantas jadi budaknya?”

“Kubelikan kau makan malam?” tanya Cat mengubah arah.

“Ini kan baru pukul sebelas pagi?”

“Ya, nanti malam,” sergah Cat gemas.

Pinto marah setengah mati ketika senja itu turun dari lantai paling atas kantornya, dan menemukan Cat sudah duduk di dalam mobil Pinto.

“Patrick mengajarimu membongkar kunci mobil juga?” hardik Pinto.

“Aku tak membongkarnya,” bantah Cat. “Lihat saja, tak ada yang rusak.”

Cat tersenyum sambil menunjukkan kikir kuku yang memakai coak pada ujungnya. Pinto tiba-tiba merasa tolol di hadapan wanita yang satu ini.

Dihidupkannya mesin mobil itu, lalu mengemudikannya keluar pelataran parkir kantornya. Cat mengelusi tangan Pinto di tangkai persneling.

“Mau bertaruh bahwa malam ini kita akan tidur bersama?” tanya Cat nakal.

“Jangan terlalu percaya diri, Cat. Tak percuma orang menjulukiku Iceman. Dingin seperti balok es.”

“Dan aku wiski yang sempurna untuk balok esmu itu,” sambar Cat.

Pinto memegang kendali malam itu. Ia yang memilih restoran untuk mereka berdua makan malam. Ia yang memilih anggur. Ia yang membayar semua bonnya. Dan—setelah dua botol anggur yang nikmat—Pinto pulalah yang menentukan bahwa Cat tidur di apartemennya.

“Tak sadarkah kau bahwa ini berarti kau akan kalah bertaruh?” kata Cat ketika Pinto menghentikan mobilnya di garasi bawah gedung apartemennya.

“Ah, takkan kubesar-besarkan soal itu,” jawab Pinto.

Mereka menunggang lift naik ke tingkat delapan. Pinto membiarkan lampu kamar duduknya tetap mati, tetapi membuka tirai-tirai jendelanya lebar-lebar. Hanya temaram malam dan cahaya kota saja yang menerangi kamar duduk itu. Pinto membenamkan tubuhnya ke sudut sofanya yang empuk. Cat melepas sepatunya, duduk di karpet, dengan dagu tertelekan ke lutut Pinto. Matanya memandangi Pinto lurus-lurus.

“Ada yang harus kukatakan kepadamu,” kata Cat pelan.

Go ahead,” kata Pinto mengelus rambut Cat.

“Patrick tak punya urusan lagi dengan penyelundupan senjata,” kata Cat tanpa menurunkan pandangannya, lurus ke bola mata Pinto.

“Oke, jadi tugasmu sudah kau laksanakan sekarang?” kata Pinto tak acuh.

Hanya untuk mengatakan itukah Cat dikirim kepadanya?

Cat mengangguk lemah. Lalu diletakkannya kepalanya ke pangkuan Pinto.

“Harus kukatakan itu, Pinto, agar kau tahu bahwa apa yang kulakukan setelah ini bukan lagi bagian dari tugas yang harus kulakukan untuk Patrick.”

“Jangan tertawai aku seperti itu, Pinto,” pinta Cat, menengadah.

Bibirnya yang basah merekah. Dan Pinto membawa bibirnya ke sana.

“Aku menyukaimu, Pinto,” bisik Cat, makin lirih.

***

Cat menelepon lagi, tepat seminggu kemudian. Biasa, mengajak makan malam lagi. Ia terdengar merajuk ketika Pinto tak cukup baik menjawab pertanyaan Cat.

“Mengapa bukan kau yang menelepon aku? Mengapa harus aku yang meneleponmu?”

Cat, ternyata mengajak makan malam di sebuah tempat yang tak pernah dikenal Pinto. Bahkan ia baru tahu bahwa di salah satu sudut kota Kuruville ada restoran sebagus dan sebesar itu.

“Ini punya Patrick,” kata Cat tanpa ditanya. “Jadi kita tak usah bayar.”

Sebuah tempat yang terlalu sepi untuk restoran sebagus itu. Pinto mencoba melakukan deduksi maksimal sambil menikmati makan malamnya. Panggang hati angsa dan articok. Dari sudut matanya ia melihat sebuah tangga ke bawah ketika pintu toilet terbuka dan dua orang masuk ke dalamnya. Lalu, tak keluar lagi.

“Ini bordil atau tempat judi?” tanya Pinto tanpa bisa menahan keingintahuannya.

Cat tertawa melihat Pinto.

“Ini bordil dan rumah judi. Puas?”

Pinto membuat huruf O dengan kedua bibirnya.

“Habiskan dulu makananmu. Nanti kuantar kau berkeliling.”

Pinto mengalami kesulitan meneruskan makan malamnya. Sepasang puting berwarna merah muda—seperti yang dilihatnya di dada Cat minggu lalu tampak-tampak saja di pelupuk matanya.

Cat memenuhi janjinya. Pinto menyarankan agar kopi dipesan setelah mengadakan peninjauan berkeliling. Dari pintu toilet itu mereka menuruni tangga. Dan, astaga, sebuah bangsal rolet dan blackjack terhampar di lantai itu. Sebuah bangsal yang justru lebih besar dari restoran—bangunan di atasnya.

“Kita pasti berada di bawah pelataran parkir di belakang restoran,” kata Pinto ketika tiba di sudut bangsal judi itu.

Cat menunjukkan anak tangga untuk menuju pelataran parkir.

Ratusan mobil, ternyata, diparkir di pelataran belakang itu. Pinto mengenali beberapa mobil duta besar blok kiri dan pejabat republik.

“Aku tak melihat mereka di lantai judi tadi,” kata Pinto sambil menunjuk mobil-mobil pejabat itu.

Cat tersenyum. Diraihnya tangan Pinto dan menggandengnya kembali ke anak tangga itu.

“Mereka tak perlu bermimpi di meja judi lagi. Mereka lebih suka terbuai dalam pangkuan gadis-gadis kami.”

“Dan itu adalah sepertiga yang lain dari establishment ini?” tanya Pinto tanpa meminta jawaban.

Pinto mengurungkan pesanan kopinya.

“Apa yang kulihat ini saja sudah akan membuatku tak dapat tidur dalam tiga hari,” katanya membuat alasan.

“Tidurlah denganku, Pinto. Bukankah minggu lalu kau bisa lelap dalam pelukanku?”

Cat mengerlingnya. Pinto tiba-tiba merasa jijik dengan permainan yang sebagian telah dimainkannya itu.

“Kalau kau tidak racuni minumanku, mungkin aku masih perjaka, Cat,” kata Pinto sambil merentak bangkit.

Pinto meninggalkan Cat di restoran itu. Kini ia benar-benar merasa harga dirinya terhempas di lantai yang paling nista. Pinto menekan pedal gasnya hingga ke lantai. Ia harus berpacu dengan waktu. Patrick bukanlah lawannya yang seimbang kalau saja ia kalah bermain waktu. Dan itulah tiang gantungannya.

***

Mobil berdecit, hampir menabrak pagar, sebelum berhasil membelok dan berhenti di pekarangan rumah Gusto. Para pengawal Gusto sudah mengacungkan bedil di sekeliling mobil Pinto.

“Angkat tangan dan turun pelan-pelan,” hardik komandan jaga.

Pinto mengangkat tangannya.

“Ah, ini kan rumah abangku,” katanya ringan.

“Tetapi, kami bertugas menjaga keselamatan kepala staf kami.”

Gusto, dengan pistol di tangan, menyelinap dari pintu ketika melihat yang menyerbu masuk itu ternyata adalah adiknya sendiri. Disarungkannya pistol itu kembali. Lalu memeluk bahu Pinto dan membawanya masuk ke dalam.

Gusto menggeleng-geleng memandang adiknya yang tegak di depannya dengan senyum yang tak dapat ditebak.

“Kalau kau ingin jadi panglima,” kata Pinto sambil menyentuh gagang pistol di tangan abangnya, “kau harus bergerak sekarang.”

Gusto menunggu.

“Aku baru makan malam di restorannya Patrick Uhai. Ada dua pintu lain yang sempat kulihat. Sebuah pintu ke bangsal judi. Dan sebuah pintu lagi ke tempat teman-temanmu memeluk perempuan-perempuan muda yang hangat.”

Gusto menggeleng-gelengkan kepala.

“Dan kurasa aku melihat pintu yang keempat. Lebih besar dari yang lain. Dan kalau hidungku masih cukup tajam, ada senjata di belakang pintu itu.”

Gusto meraih sepatu dari dalam lemari. Sepasang sepatu yang tebal solnya. Lalu mengenakannya.

“Mungkin aku keliru. Tetapi, rasanya restoran itu juga sedang menggoreng rencana pemberontakan. Ada mobil duta besar blok kiri di sana.”

Gusto membuat instruksi-instruksi cepat melalui pesawat radio. Lalu menyeret tengkuk Pinto dan mendudukkannya dalam mobil jip yang telah dihidupkan mesinnya di depan. Gusto menyorongkan ujung laras pistolnya ke pinggang Pinto.

“Sekarang tunjukkan tempat kita akan makan besar.”

Pinto tertawa karena pinggangnya tergelitik laras pistol itu.

“Kau tak menggerakkan pasukanmu?” tanya Pinto kepada abangnya yang melarikan mobilnya seperti kesetanan. Membelah kota yang sepi.

“Sudah kugerakkan satu peleton sandiyuda untuk melindungi langkah kita,” jawab Gusto.

Sungguh, sebuah operasi yang akan menjadi bahan berita terbaik untuk majalah Pinto. Tak satu pun anggota pasukan sandiyuda itu yang tampak di titik sasaran. Satu gerakan yang sungguh bersih, pikir Pinto. Bahkan tak ada yang mencoba merintangi mobil Gusto yang menerobos masuk dan langsung berhenti di depan pintu restoran.

Pinto tersenyum melihat Patrick muncul dengan muka pucat memandangi Gusto. Bibirnya tampak tergetar. Gusto mencabut pistolnya. Pinto terkesiap ketika laras pistol itu ternyata malah didorongkan abangnya ke tengkuknya. Gusto mendorong adiknya dengan kasar ke depan.

Sebuah pintu besar terbuka. Sebuah rapat lengkap terinterupsi. Memang ada beberapa ‘sahabat’ dari blok kiri di sana. Mereka berdiri tergopoh-gopoh dan memberi saluir kepada Gusto.

“Aku tak mengerti semua ini, Bang,” kata Pinto bergetar.

“Sudah terlambat untuk menceritakan semuanya, Pinto. Maafkan aku,” kata Gusto lirih.

Lalu picu itu pun ditarik. Letusannya menggelegar. Hanya Cat yang terpekik ketika darah menyemburat ke dinding dekat situ. Tubuh Pinto terkulai.

Gusto memeluk tubuh adiknya. Dibiarkannya darah hangat adiknya itu membasahi dirinya juga. Pistol yang masih berasap itu ditempelkannya di kening Patrick.

“Hanya diperlukan satu lagi langkah tolol seperti ini, Patrick,” kata Gusto sambil menurunkan todongan pistolnya, “dan sasaran yang akan kita capai itu hanya tinggal sebuah impian.”

Lalu Gusto mengecup kening Pinto, dan membiarkan tubuh bekas itu luruh ke lantai. ***

 

 

Bintaro, Agustus 1987