Cerpen : Pohon-Pohon Ibu oleh Teguh Affandi

JIKALAU Ibu mengajariku untuk berkasih sayang sesama manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan; Bapak sebaliknya: kebencian. Napasnya adalah jerit knalpot truk, lengket kepul timbal, amarah kerap pekat di atas kepala. Gerombolan awan jamur mirip ledakan nuklir itu pula yang membuatnya kabur, menyisakanku dan Ibu menghadapi kemandirian yang dipaksakan.

Dia mencakung di muka pagar, ketika mendung gelap menggelayuti ranting mangga kueni. Wajahnya tak jauh berubah. Selonjor kumis yang dulu sangat kubenci sebab lebih mirip lintah kini memutih mirip sekubus jadah. Mungkin juga lintah albino. Tas jinjing di tangan kanan, tangan kiri menjentikkan bara rokok.

Tidak adakah tempat lain untuk dia sambangi, batinku. Kubuat langkah kaki sebiasa mungkin. Meski aku tahu, duka sedang tidak baik-baik saja. Siapa yang berbahagia ketika Ibu baru saja diliputi tanah, penyakit tidak bisa kusogok dengan segala tawaran.

“Aku terpaksa di luar. Nggak enak masuk, masih banyak saudara ibumu,” kata Bapak. Bila batang hidungnya terlihat, alih-alih salam atau pelukan, mereka akan lemparkan sabit ke wajah Bapak.

“Mereka, kan, ipar-ipar Bapak juga,” jawabku sambil membasuh kaki dan tangan di keran depan pagar. Duka-duka dari perkuburan harus dilarungkan sebelum masuk rumah. Bila ada tanah, bunga, daun-daun, sesajen yang turut terbawa, kedukaan akan terus membayangi keluarga sripahan. Meski jiwaku remuk, meski mukaku redam oleh kematian Ibu, tidak akan kubawa sisa-sisa lara dari perkuburan. Biarlah itu semua tersimpan dalam kenangan.

“Kenapa Bapak pulang?”

“Aku masih boleh berduka, kan? Aku tetap orang penting di hidup ibumu… dan kamu.”

“Aku ragu Tuhan menerima doa Bapak. Pohon mangga saja akan susah berbuah kalau pokoknya dilukai paku. Apalagi ini….”

Aku menaiki undakan menuju beranda, meninggalkan Bapak di depan pagar. Langit berkedip oleh kilat ibarat kamera yang diklik. Sore menggelap. Angin tak henti menggoyangkan dahan-dahan di pekarangan. Handuk bekas Ibu, jarik-jariknya, bergoyang-goyang di tali jemuran.

***

“Tubuh perempuan adalah sebatang pohon.”

“Mengapa bisa begitu, Ibu?” tanyaku.

“Pohon dan perempuan selalu indah. Tajuknya adalah kesejukan. Batangnya tegak, penuh ketabahan. Bunga dan buah yang tumbuh dari pohon bersemi dari keikhlasan dan kasih sayang. Kamu suka duduk di bangku di bawah pohon ketapang itu, kan?”

“Kalau perempuan dan semua ibu adalah pohon, Ibu pohon apa?”

Ibu tertawa sebentar. Kusaksikan gingsul di barisan gigi atas. Kisut kulitnya yang mirip kayu jati itu semakin dalam tercetak di wajahnya.

“Ibu memilih pohon randu.” 

“Kukira Ibu akan memilih pohon ketapang atau mangga?”

“Pohon randu panjang usianya. Pokoknya tidak terkalahkan oleh angin, petir, atau badai. Ibu ingin menemanimu sampai tua menggerogoti. Meski tidak lagi bisa memberi buah…”

Ibu tetaplah pohon dengan buah paling berkat, ranting penuh maaf, dan akar-akar kasih. Kepada Ibu Tuhan meletakkan surga. Kepada Ibu Tuhan menghapus duka-duka bocah.

Segelas teh sore itu semakin pahit. Selepas Bapak pergi entah ke mana, Ibu mudah sakit. Gerisik angin pancaroba saja sudah membuatnya rontok, pilek bisa bercokol sebulan lamanya, atau sakit kepala terus menempel pada badannya. Batuk membuat Ibu terjaga sepanjang malam, badannya wangi minyak urut bukan parfum mahal. Tidak mengherankan sebab Ibu menjadi pekerja yang gila-gilaan. Ibu tak malu menjadi penebas padi, membawa truk terbuka dari sawah-sawah pada musim panen, beradu mulut dengan tengkulak kabupaten yang ingin mencurangi harga beli padi pada musim panen.

Benar kata orang: Bapak mengambil peran sebagai benalu di pohon randu Ibu. Bapak hanya mengandalkan penghasilannya dari truk batu yang membawa pesanan dari satu kota ke kota lain. Ketika prahara muncul, Bapak memilih pergi dengan lebih dulu merontokkan semua daun di pohon randu Ibu. Tangan Bapak merampas semua bunga dan bakal buah dengan parang dari dapur. Bapak melukai pangkal batang randu Ibu. Ibu kuyup air mata tanpa suara. Aku yang masih muda nanar tak kuasa berbuat apa-apa. Bapak minggat, kata tetanggaku. Bapakmu kepincut janda, kata yang lain. Bapakmu ketemu pohon anggur, makanya pohon randunya ditinggalkan.

Ibarat pokok yang bersih dari benalu, perlahan Ibu justru semakin makmur-subur. Lima tahun, sepuluh tahun, Ibu menjadi perempuan yang disegani di kampung ini. Rumah kami menjadi lebih tinggi daripada rumah-rumah lain. Lantai dua tempat kamarku dan kamar Ibu. Lantai bawah menjelma gudang hasil panen yang belum sempat diambil oleh pedagang, sepojok ruang tamu yang penuh barang, juga garasi kecil untuk dua truk yang kini disopiri oleh dua pemuda desa, dan sebuah ruangan yang bisa digunakan siapa saja perewang ketika letih menerjang.

Betulkan…?! Ibumu ibarat pohon yang lepas dari benalu, kata seorang tetangga. Kini keluargamu bebas, dan semakin kaya. 

Namun, setelahnya, Ibu meringkih. Kulitnya makin dekik oleh keriput. Rambutnya memutih, mirip kapas randu. Yang kata Ibu pohon randu adalah pohon dengan ketangguhan paling kuat, kini semakin sakit-sakitan. Setiap kali aku berniat menggantikan semua pekerjaan Ibu: biar aku yang membawa bak terbuka ke sawah-sawah, mengurusi keluar-masuk barang, dan menemani sopir-sopir ke kota ketika setor. Ibu menolak.

“Kamu kuliah yang benar, jadi pegawai yang benar,” Ibu menyela. “Pekerjaan kasar ini enggak cocok. Cukup Ibu saja.” Ibu batuk dua kali.

“Kuliah di swasta saja. Biar enggak jauh dari Ibu,” jawabku.

“Kamu lihat sawah-sawah di sekitar ini? Semakin hari semakin sedikit hasil panennya. Ibu tidak tahu, Ibu enggak pinter. Tapi sawah sepertinya mulai membalas keangkuhan manusia. Dulu bengkok lurah bisa menghasilkan 1,5 ton setiap panen, sekarang 6-7 kuintal sudah top. Lihat hutan di sekeliling kampung, dulu rimbun, sekarang terang habis kayunya. Kamu pasti paham, kamu anak sekolahan. Tidak seperti Ibu. Musim hujan makin tidak keruan, kemarau pun lebih panjang. Sekali hujan, banjir. Jadi, biarlah Ibu yang hidup dengan kerja kasar dan berpeluh keringat. Kamu sekolah, selesaikan kuliah, dan jadilah pegawai.”

Aku mengangguk. Kubaluri kaki Ibu dengan balsam. Panas, tetapi lebih panas sudut mataku oleh air mata. Ketika aku selesai kuliah dan hendak pindah ke Jakarta sebab kantor pertamaku ada di sana, Ibu jatuh sakit. Ada benjolan sebesar bola kasti di perut Ibu. Bolak-balik ke rumah sakit, ke pengobatan alternatif. Namun, pohon Ibu semakin layu. Di awal musim penghujan, tubuh Ibu dimakamkan di bawah pohon randu. Pohon kesukaan Ibu.

***

Pengajian malam itu terburu-buru sebab hujan lebat tak sedikit pun mereda. Lebat selebat-lebatnya, seolah kantong-kantong hujan di langit dibuka begitu saja, selebar-lebarnya. Bapak tak ada yang menyapa. Ya, akhirnya kupersilakan dia untuk mandi dan berganti pakaian yang rapi. Anggap saja tamu, batinku. Semua tamu harus diperlakukan dengan baik, bukan?

Aku yang bertugas menyapa para santri yang malam itu kuyup sebab hujan. Bapak duduk bersila di pojok ruangan, dan sesekali memberi senyuman. Kutahu semua sedang dilanda kikuk. Lantai satu rumah dibersihkan, disulap sebagai tempat pengajian. Selama kurang lebih tujuh hari ke depan, pengajian akan diselenggarakan.

Tepat azan Isya dari musala, doa ditutup. Masing-masing membawa sebungkus makanan dalam plastik sesak doa. Berkat malam itu berisi nasi uduk, ayam ingkung, dan beberapa perlengkapan lainnya.

Dan mendadak peeeeeet! Mati lampu. Hujan semakin lebat. Beberapa saudara pamit pulang. Aku dan Bapak menuju lantai atas dengan penerangan lilin. Dan entah mengapa aku hanya ingin duduk di depan televisi yang mati. Aku tak ingin Bapak masuk ke kamar Ibu, apalagi ke kamarku. Kugelar tikar palembang dan kupastikan dia tidak beranjak ke mana-mana. Lagi-lagi hujan semakin lebat, semakin lebat, dan semakin lebat.

Malam itu kami tidak banyak bicara sebab suara hujan turun di atas genting tak terkira lebatnya. Petir pun tak segan mengagetkan.

“Apa boleh Bapak tinggal di sini? Begini-begini aku adalah bapakmu,” katanya.

“Tidak.” Lantas petir.

Tidur kami malam itu sama-sama tidak nyenyak. Aku menelentangkan badan di sofa depan televisi. Bapak rebah dengan gelisah di tikar palembang. Hujan tak berhenti semalaman. Kutahu, kepulangannya adalah kepulangan penuh kalah. Bisa jadi dia telah diusir istri mudanya. Kematian Ibu menjadi dalihnya untuk kembali.

Menjelang Subuh, sirene dari balai desa dan kentungan bertalu mengagetkan. Beduk pun ditabuh semakin kencang.

“Banjir! Banjii……ir!”

Hujan semakin menggila. Aku dan Bapak beranjak ke beranda. Kulihat air keruh sudah menggenang, mungkin satu atau satu setengah meter. Dalam pikiranku berkelebat padi-padi yang tergulung air, sawah-sawah yang kalah, wajah petani yang semakin susah, sapi, kambing, ayam, kerbau ternak yang bangun pagi penuh gelisah, juga, kuburan Ibu dengan sedompol anakan randu. Aku meraung sekencang-kencangnya, tetapi pagi masih gelap dan hujan tak sedikit pun susut. (M-2)

Catatan:

Sripahan: berduka. Perewang: pembantu atau orang sekitar yang dipekerjakan. Bengkok: tanah desa yang dimiliki dan diolah pejabat desa sebagai pengganti gaji, mulai lurah hingga carik, bayan, modin, dll–semakin ke rendah jabatan, semakin kecil luasan bengkok.

Teguh Affandi bekerja sehari-hari sebagai editor di salah satu penerbit di Jakarta. Cerpennya yang berjudul Bulu Kucing dalam Stoples (Media Indonesia, 30 Oktober 2022) menjadi pemenang Scarlet Pen Award 2023, kategori cerita pendek. Menulis cerpen, esai, dan timbangan buku di beberapa media massa. Ia juga pernah menjadi pemenang sayembara menulis cerpen majalah Femina, Green Pen Perhutani, dan Pena Emas Program Pemberdayaan SDM Strategis Nurul Fikri. Buku kumpulan cerpen perdananya baru saja terbit pada Mei 2022, Arum Manis (Gramedia Pustaka Utama).

sumber : Media Indonesia, 18 Jun 2023.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *