HARI sedang bergegas menuju malam, ketika Yahya dengan seluruh warga desa bersama mencari adiknya, Mahmud, yang menghilang sejak lima hari lalu. Tiada satu orang pun yang mengingat ke mana Mahmud kecil bermain, atau dengan siapa ia terakhir terlihat. Seolah-olah seisi desa terlampau sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sungai tampak tenang, dan hutan bersiut ditiup angin senja.

“Matahari keburu tenggelam di ufuk sana, Yahya,” ujar seorang pemuda dengan tak acuh.

“Iya! Dan sudah lima hari kita bahkan tidak menemukan satu jejak pun di mana Mahmud berada,” timpal yang lain.

Orang-orang sebenarnya sudah menyerah sejak pencarian hari kedua. Gabungan warga desa, tim SAR, juga sanak keluarga menyisir desa hingga perbatasan hutan dan tepian sungai. Tetapi tak menghasilkan apapun kecuali kehampaan belaka.

Pada hari ketiga, seorang tetua di keluarga berujar kepada abah jika Mahmud telah dibawa kerabat jauh di belantara hutan gaib. Dan seluruh keluarga mengamini hal yang sama. Tetapi Yahya tak meyakini hal demikian.

Tumbuh di lingkungan intelektual kota, membuat Yahya lupa diri jika ada hal-hal yang bekerja di luar logika. Sesuatu yang menjadi pegangan warga lokal jauh sebelum mengenal istilah-istilah peradaban.

“Kita masih harus menyisir daerah tepian sekali lagi, sebab di sana ia mengatakan hendak bermain dengan kawannya,” tukas Yahya dengan gelisah.

Dahulu sekali, orang-orang desa meyakini ada anak yang dilahirkan dengan memiliki saudara kembar yang tinggal jauh di dunia seberang. Anak-anak ini adalah anak yang terpilih. Sosok yang akan menjaga si anak, sebagaimana seorang saudara yang tumbuh bersama sejak kecil, terutama ketika si anak bermain di daerah-daerah terlarang atau dikeramatkan. Saudara kembar inilah yang menjadi penjaga keselamatan si anak.

“Kau mesti sadar, Yahya, ia barangkali telah tiada kini.”

“Kalau pun kita tahu ia telah tiada, tak ada juga jaminan kita bisa menemukan jasadnya di mana-mana,” sahut pemuda lain dengan nada liris.

Yahya tahu, secara logika hal itu benar adanya. Namun, ada penebusan yang mesti ia bayar. Perantauannya di kota besar membentangkan jarak raksasa dengan adiknya, seperti bagaimana sungai ini membentang di antara dua tepian yang berbeda, di antara dua peradaban yang tampak seperti saudara kembar itu.

Yahya sesumbar, baginya, tak ada hal mistis yang melingkupi hilangnya Mahmud. Hanya ada satu penjelasan logis di sana, dan itu adalah sesuatu yang tentu bisa disasar dengan rangkaian upaya dan kerja keras.

“Aku hanya memerlukan tenaga kalian, tanpa ada komentar-komentar!” bentak Yahya kepada pemuda-pemuda itu.

Kesombongan itu membuat pemuda-pemuda merasa Yahya terlampau gila. Beberapa berbisik satu sama lain, untuk apa mencari seorang adik yang sedari kecil selalu dihardik dan tak pernah diberi kasih sayang. Sebagian lain berujar, ini hanya permasalahan egonya, ia barangkali merasa mesti menguburkan adiknya dengan layak, dengan begitu ada hal baik yang bisa dikenang orang tentang hubungan mereka berdua.

Ketika suara azan Magrib berbunyi, warga desa tahu, itu artinya penyisiran mesti dilanjutkan esok hari. Yahya pulang dengan tungkai lemas, juga seluruh kalimat kawan-kawannya yang bergema di kepala, menghantuinya seperti cerita tidak masuk akal yang pernah dikisahkan kakeknya sewaktu ia masih kekanak.

“Abah belum sempat memberitahumu, Yahya,” ujar mamak ketika Yahya melepaskan sepatu gunungnya di teras rumah.

“Tentang apa itu, Mak?” jawab Yahya lesu.

“Kamu, begitu juga adikmu, punya saudara kembar jauh di sana,” sahut mamak dengan mata menatap jauh ke arah sungai. Mata mamak kosong, cahaya hidupnya meredup, seperti berusaha mengikhlaskan anak bungsunya merantau ke dunia yang lain, percaya suatu saat ia akan kembali, baik maujud atau tidak.

“Lantas kenapa aku tak dibawa ke sana juga?!” bentak Yahya ketika melihat respons mamak yang tampak ikhlas.

Mendengar bentakan itu, abah keluar dari dalam rumah, untuk memastikan Yahya tak menghardik, atau menyumpahserapahi sang mamak. Abah tahu, ia mesti menjelaskan secara menyeluruh apa yang sebelumnya tak sempat diceritakannya kepada Yahya—utang yang mesti dilunasi, jauh sebelum ia telanjur mengunyah pendidikan yang mendasari semuanya dengan hal-hal logis belaka.

“Ada hal-hal yang mestinya abah beri tahu padamu sebelum kamu merasa lebih dibanding adikmu, dan kawan-kawanmu di sini, Yahya,” potong abah dengan tenang.

Kehadiran abah membuat Yahya malu, ia segera bersembah sujud dengan mamak, tanpa memalingkan wajahnya kepada abah sedikit pun. Ia tahu risiko yang mengancam dirinya jika ia terlampau durhaka, ia tahu ada mala yang menanti satu kutukan untuk meluncur ke hidupnya.

“Seperti saudara-saudara abah dulu, abah juga harusnya ikut melarungkan nasi kuning dengan persembahan lain seperti ketan ke tepian sungai waktu Mahmud lahir. Ada saudara kembarnya di sungai ini, tapi waktu itu kita terlampau miskin, Yahya,” jelas abah dengan tatapan kosong.

“Apa ini? Tak mau aku disuapi cerita-cerita dongeng yang aneh ini—”

“Dengarkan abah, supaya kau tak terlampau durhaka dengan semua orang termasuk kembaran yang menjagamu di tanah rantau sana!” bentak abah memotong kalimat dari ujung lidah Yahya, bentakan yang melesatkan hening ke seisi rumah.

Yahya tahu, dalam darahnya ada cerita yang terlampau sukar untuk dipercaya. Orang-orang sering kali tertawa mendengarnya, namun seperti sanak keluarganya, ia bisa lari dari berbagai maut seumur hidupnya karena ia dijaga oleh seorang kembaran dari dunia nun jauh di sana, dunia yang abstrak dan tak pernah bisa digambarkan oleh nalarnya itu.

“Mahmud akan pulang, Yahya. Ia akan kembali, ia telah berangkat, meninggalkan kita tanpa salam, karena begitu pula kita memperlakukan saudara kembarnya saat itu; tanpa salam, menghilang begitu saja.”

“Tetapi aku tak sudi adikku pergi dengan saudara kembarnya yang berwujud buaya itu! Aku tak sudi di antara kami ada sesosok buaya yang menggantikanku untuk menuntunnya hidup!”

Mamak, masih dengan mata yang menatap jauh ke arah sungai, menyahut dengan nada yang lirih, “Memangnya kau bisa apa, Yahya? Sejak kecil, kau bahkan tak pernah hadir di sampingnya. Kau selalu menempatkannya sebagai anak bawang, bahkan memukulinya ketika ia tidak mengerjakan sesuatu dengan benar.”

Udara seperti berhenti sesaat, mengisi sesak di paru-paru Yahya.

“Kau yang sejak dulu tak pernah ada untuknya, kini hendak menjadi pahlawan dengan mencarinya ke sana kemari.”

Abah dan Yahya tahu, suara itu, bukan suara mamak, suara itu adalah suara yang terlampau berat dan serak untuk seorang wanita paruh baya. Mereka sama-sama tahu, mamak tak ada di sini, adalah si kembaran Mahmud yang menyahuti ucapan lantang Yahya. Ucapan yang menempatkannya di ujung tombak duka.

Mamak pingsan seketika, menyisakan kecanggungan di antara Yahya dan abah.

“Mahmud akan pulang Yahya, baik maujud ataupun tidak.”

***

Pagi itu, ketika Yahya masih tertidur pulas, seluruh warga desa berlarian ke arah tepian sungai untuk menyaksikan sebuah fenomena. Di antara kerumunan warga desa, abah dan mamak adalah dua orang yang paling depan berdiri menyaksikan itu. Yahya yang mendengar keramaian dari dalam rumah panggungnya, ikut meramaikan kerumunan karena penasaran.

Betapa terkejutnya ia menyaksikan Mahmud diantar pulang oleh seekor buaya putih, yang memiliki tatapan tanpa dosa, seolah ia hadir hanya untuk mengantar kembali jasad Mahmud. Orang-orang saling berbisik, meyakini bahwa ada suatu utang di masa lalu yang meminta bayaran dengan nyawa.

“Kau, tak akan mampu membayar dosamu kepada Mahmud, sebab aku adalah kakak yang lebih kakak daripada dirimu,” ujar buaya putih itu. Buaya itu menambahkan, “tetapi, ini adalah kerendahan hatiku; segera kuburkan anak ini agar kaulah yang menjadi pahlawan atas jasad ini.”

Dengan melihat reaksi sekitar, Yahya tahu buaya itu hanya berbicara padanya, dan bukan kepada siapa pun di antara kerumunan itu. Buaya itu menyelam ke dalam sungai, dan hilang begitu saja. Orang-orang melihat Yahya, dan ia memandang orang-orang dengan tatapan kosong. Ia telah kalah, betapa ia merasa begitu malu melihat dirinya mengambil penghargaan atas kerja seekor buaya yang dinafikannya. ***

 

 

Andika Pratama. Lebih dikenal Dikablek, lahir di Samarinda, 11 April. Ia menulis puisi, cerpen, esai, secara lepas. Buku pertamanya, Memoar Tangan-Tangan Beku, diterbitkan Langgam Pustaka pada 2022. Menempuh studi S-1 Sastra Indonesia di Universitas Mulawarman, juga mengurusi perpustakaan alternatif bernama Menuju Rubanah. Bisa dihubungi melalui media sosial [at]dikablek.