“KAU pernah lihat tulpar [1] yang terbang dengan sayap bercahaya menghampirimu?” tanya pensiunan polisi pada Akila, anak perempuannya, yang tengah hamil sembilan bulan. Akila berada di apartemen pensiunan polisi. Mereka berdua duduk di teras, memandang kota senyap, minum cay [2] pelan-pelan, dalam kenikmatan. Sudah malam, matahari masih berkilau [3] dan angin berembus membawa harum bunga tulip taman Mevlana Museum, tak jauh dari apartemen pensiunan polisi.

Kini Akila terbaring di Rumah Sakit International Kolan di jantung kota Istanbul. Ia naik taksi ke rumah sakit ini untuk melahirkan bayi lelaki, yang wajah, alis, hidung, dan bibirnya mirip kakeknya, pensiunan polisi yang tinggal di sebuah apartemen Kota Konya. Akila terus memandangi bayi lelaki dengan rambut lembut bergelombang itu.

“Aku belum pernah melihat tulpar. Apa Baba [4] pernah melihatnya?” tanya Akila saat itu, di apartemen pensiunan polisi.

“Kuda bersayap itu terbang menghampiriku, dalam mimpi yang begitu jelas,” kata pensiunan polisi, kemudian menikmati etli ekmek [5] kesukaannya, dengan perangai yang menampakkan rasa nikmat. “Kulihat Kerem, guru tari sema, menunggangi tulpar, turun dari langit purnama, di sisinya seekor kuda bersayap yang mengajakku mencapai taman tulip aneka warna bunga.”

“Apa Baba bertemu Anne [6] di sana?” tanya Akila. Ia tahu, Kerem, guru tari sema ayahnya, sudah meninggal dunia. Kerem memberi ayahnya pekerjaan sebagai aparat keamanan di Mevlana Museum setelah pensiun dari dinas kepolisian Ankara. Kerem mengajari ayahnya menari sema, serta mementaskan tari itu di Mevlana Cultural Centre. Bahkan ketika pensiunan polisi itu dalam kesedihan, Kerem menghibur hatinya. Akila beberapa kali bertemu Kerem. Takjub dengan ketenangan Kerem, penari sema berjubah panjang bertopi menjulang, sepasang matanya jernih cemerlang.

“Kulihat berpasang-pasang suami-istri di taman bunga tulip, memadu kasih, tapi tak kulihat ibumu di sana.

Baba tak mencoba mencari Anne?”

“Aku cari ibumu, tapi Kerem mencegah. Aku pun berhenti mencari dia. Tiap orang menentukan nasibnya sendiri di taman bunga tulip itu.”

***

SENYAP malam Akila belum bisa memejamkan mata, masih terbaring di rumah sakit setelah melahirkan. Tak ada Kemal, suaminya, seorang pilot penerbangan antarbenua, yang tak bisa menungguinya. Bayi lelaki yang baru dilahirkan sudah tertidur, dengan sepasang mata terpejam, bibir mungil. Ia teringat pesan terakhir Baba. Mereka duduk di ruang tamu, minum cay dan menikmati etli ekmek.

“Kalau bayimu lahir lelaki, beri nama ia Mevlana Jalaludin Rumi,” kata pensiunan polisi pada Akila.

“Apa dia akan tumbuh menjadi lelaki seperti Baba?”

“Oh, dia akan jadi dirinya sendiri.”

Baba ingin dia jadi polisi?”

“Ia boleh menjadi apa saja sesuai dengan keinginannya. Mungkin ia akan jadi pilot seperti ayahnya,” balas pensiunan polisi itu. Akila melihat sepasang mata ayahnya yang berkilauan, sepasang mata seorang pecinta Mevlana Jalaludin Rumi, yang menikmati hidupnya untuk menari sema.

“Anakku kelak akan menjadi cucu kesayangan Baba.”

“Semoga. Tapi aku seperti tak bakal melihatnya,” kata pensiunan polisi itu dengan pandangan mata yang jauh. “Kerem sudah menjemputku dengan tulpar, dan membawaku terbang ke taman bunga tulip yang menenteramkan.”

Telepon genggam Akila berdering. Kemal, suaminya, menelepon dari Dubai, “Kamu sudah melahirkan?”

“Sudah. Tadi sore. Laki-laki. Wajahnya mirip Baba.”

“Tentu ganteng. Boleh aku usulkan nama untuknya?”

Baba menghendaki anak kita diberi nama Mevlana Jalaludin Rumi.”

Terdiam agak lama, kemudian tawa Kemal berderai. “Boleh, boleh. Nama kesayangan Baba.”

***

SEMALAMAN Akila tak dapat tidur. Ia teringat pertemuan terakhir dengan ayahnya, malam hari sebelum pulang ke Istanbul. Ia lihat ayahnya sibuk melukis di atas kertas gambar dengan pensil. Ia tak menduga goresan-goresan yang pada mulanya berupa garis-garis pendek dan tipis itu, semakin jelas membentuk seekor kuda bersayap.

Mula-mula gambar kuda bersayap itu masih tampak biasa. Tetapi kemudian kian tampak kuda terbang itu dengan sepasang sayap yang kukuh terentang, kedua kaki muka terangkat, badannya ramping, dan ekornya terjuntai. Bulan purnama di atas surai di tengkuknya.

“Kenapa kuda bersayap itu tampak bercahaya?” tanya Akila takjub.

“Ini kuda bersayap yang menjemput seseorang yang penuh keiklasan dalam menjalani hidup,” kata pensiunan polisi.

“Karena itu tampak bercahaya sepasang sayapnya.”

Pensiunan polisi itu terus menggambar. Akila mulai melihat ayahnya mengendarai kuda bersayap, memegang tali kendali yang halus, dengan mengenakan jubah putih dan topi menjulang yang biasa dikenakan penari sema.

“Berapa kali Baba melihat kuda bersayap itu?” tanya Akila, malam itu ketika ia menunggui pensiunan polisi suntuk melukis.

“Tiga kali berturut-turut dalam mimpiku,” tukas pensiunan polisi. “Aku seperti benar-benar mengalaminya.”

Telepon genggam Akila berdering. Terdengar suara Anka, kakak lelakinya, “Kau sudah dengar kabar kalau Baba meninggal?”

“Aku baru dengar kabar ini darimu,” balas Akila dengan suara bergetar, gugup, dan merasakan suatu kehampaan dada yang kosong. Tetapi ia teringat akan kisah kebahagiaan ayahnya saat bermimpi menaiki kuda bersayap dan berada di taman bunga tulip. “Aku sedang melahirkan di rumah sakit. Tak bisa pulang.”

“Biar kuurus pemakaman Baba.”

***

BUNGA-BUNGA tulip bermekaran di taman-taman kota Istanbul. Kemal menjemput Akila dan bayi mereka, Mevlana Jalaludin Rumi. Mobil sedan mereka bergerak di antara kemacetan jalan kota, pulang ke apartemen. Akila memasuki apartemennya dengan perasaan gugup, karena ia merasakan suasana yang berbeda dengan saat meninggalkannya. Kini di apartemen itu tinggal Anne yang lumpuh dan tak bisa bicara. Seorang perawat didatangkan Kemal untuk mendampingi Anne. Perawat itu masih muda, cantik, dan cekatan. Ia akan pulang pada sore hari dan datang ke apartemen pada pagi hari. Akila merasa perawat ini seseorang yang memiliki kesabaran merawat ibunya.

Vas keramik berisi bunga-bunga tulip dibawa Kemal dari kamar Anne di Konya. Bunga-bunga tulip pembelian Baba sebelum meninggal, masih mekar segar, seperti sebuah kenangan terakhir. Akila teringat kata-kata Baba saat mengisahkan mimpinya dijemput kuda bersayap, “Aku melihat berpasang-pasang suami-istri di taman bunga tulip, memadu kasih, tapi tak kulihat ibumu di sana.”

Memasuki kamarnya, Akila masih menimang Mevlana Jalaludin Rumi mendekati meja. Di atas meja terdapat tumpukan uang lira dan sebuah gambar kuda bersayap. Baba duduk di atas punggungnya memegang tali kendali. “Tumpukan uang lira dan gambar itu kuambil dari laci meja Baba,” kata Kemal, dengan suara tenang. “Rupanya Baba sudah menabung untuk perawatan Anne. Gambar itu sungguh aneh. Aku mengenal turpal, tapi tak pernah membayangkan Baba mengendalikan kuda bersayap di atas taman bunga tulip saat purnama.”

Sepasang mata Mevlana Jalaludin Rumi terbuka saat Akila memandangi gambar kuda bersayap dengan sayap bercahaya dan Baba menunggang di punggungnya. Bibir bayi itu rekah senyum, dan sepasang kakinya meronta, untuk menunjukkan kebahagiaannya.

***

GAMBAR kuda bersayap itu dicetak lebih besar dan dibingkai. Akila meminta Kemal untuk memasangnya di dinding kamar. Gambar itu tampak lebih indah seperti sebuah peristiwa yang benar-benar dialami Baba. Tiap kali Mevlana Jalaludin Rumi menangis, Akila membopongnya, menghadapkan wajah bayi itu ke gambar kuda bersayap di dinding kamar. Ia akan berhenti menangis. Memandangi gambar itu dengan mata berbinar, sepasang kaki meronta-ronta, seperti kebahagiaan yang diluapkan seketika.

Akila merasakan ketenteraman, saat melihat bayinya tersenyum. ***

 

 

Istanbul, Juli 2022 – Pandana Mereka, Februari 2023

 

Keterangan:

[1] Tulpar: kuda bersayap dalam mitologi Turki

[2] Cay: teh Turki

[3] Matahari tenggelam di Turki antara pukul 19.30 hingga pukul 20.30

[4] Baba: ayah

[5] Etli ekmek: roti berisi daging serupa pizza khas Konya

[6] Anne: ibu

 

 

S Prasetyo Utomo lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Ia menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 2018. Sejak 1983, ia menulis cerpen, puisi, dan esai sastra di beberapa media massa. Kumpulan cerpen terbarunya, Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).