inar dari sang pusat tata surya menembus jendela bersama gerobak sarapan yang berkeliling. Gema sepatu penjaga menggema di koridor sempit, diikuti oleh roda gerobak besi yang berdecit setiap kali bergerak. Sebaskom nasi putih, sepiring tempe goreng, sambal, dan sayur rebus ala kadarnya telah dikirim pada setiap sel di blok pertama. Aku menyaksikan betapa rakusnya para penghuni di sana, bahkan pada tempe goreng, asupan protein satu-satunya pada pagi ini.
”Makan!” teriak Bagas, sipir yang terkenal dengan sikap tegasnya pada tahanan di sana.
Satu per satu tangan keluar dari balik pintu untuk mengambilnya. Tak ada yang berani protes pasal menunya. Jika mengeluh, maka jawaban yang didapat tetap sama: ”Kalau tak mau, tidak usah makan.” Di sudut ruangan, seorang pria muda bertato menatap tanpa minat. Sementara yang lain, kakek tua berusaha mengunyah karena giginya yang bisa dihitung jari. Burung gereja menghibur mereka, namun suara sendok yang beradu dengan mangkuk stainless-nya lebih nyaring.
”Antarkan ke blok sembilan, Mel,” pintanya. Aku mendorong troli sebelahnya menuju tempat yang dimaksud.
Blok itu ada di paling ujung, harus melewati udara yang lembab bercampur aroma besi karat dan keringat. Dinding sisi kiri dipenuhi coretan tangan, beberapa berupa angka menghitung hari, yang lain bentuk umpatan putus asa. Terus kudorong troli yang berjalan lembut, tak ada cacat sedikit pun, ini. Aku pikir, lebih mewah dari troli restoran bintang tiga. Lorong per lorong aku lewati. Makin dalam makin sunyi. Aula besar serbaguna pun masih sepi. Tempat itu akan penuh ketika jadwal ibadah dan pelatihan skill dimulai. Saat memasuki area blok sembilan, aroma kopi arabika bercampur wangi rokok mahal samar tercium.
”Jangan lama-lama,” kata sipir gerbang dengan ekspresi datar.
Aku lebih bisa bernapas di sini, lebih luas dari blok depan. Sel itu memperlihatkan kasur empuk berukuran 120 kali 200 cm dengan seprei berkatun Jepang. Aku menganga pada kamar mandi dalam yang mewah, smart TV, dan lemari kayu jati yang kokoh. Tak ada tatapan kosong di sana. Seorang pria berambut cepak dengan kaos anti UV berwarna coklat duduk di kursi kayu, menyeruput kopi dari cangkir proselen. Dia tersenyum saat aku mengetuk dan mengantarkan sepiring nasi goreng dan telor mata sapi setengah matang di atasnya. Pria ini lebih cocok disebut pebisnis dibandingkan dengan tahanan enam tahun. Menurut catatan, dia terlibat kasus pencucian uang bersama pejabat.
Sel sebelahnya masih menunjukkan isi yang sama. Penghuninya membaca koran, secangkir kopi hitam di tangan kanan, dan kakinya selonjor di atas meja. Rautnya lebih menakutkan daripada pebisnis tadi. Aku menyodorkan sepiring nasi pecel dengan tangan gemetar pada pria yang katanya merupakan mafia sekaligus bandar narkoba itu. Cepat-cepat aku lanjutkan perjalananku. Kuantarkan hidangan para raja dengan isi yang berbeda setiap selnya. Berhadapan pada orang-orang borjuis yang sedang menikmati masa liburannya di sini. Macam-macam kasus, tapi korupsi mendominasi.
”Kau baru di sini, ya?” tanya pria tua yang tinggal di sel nomor sepuluh. Tangannya dihiasi cincin emas dan batu berlian mahal.
Aku mengangguk, tapi dia tertawa kecil melihat anak bawang ini. ”Jangan khawatir, di blok ini kami lebih beradab,” katanya. Senyuman paling baik kuperlihatkan padanya meski dia pasti tahu bahwa itu palsu. ”Saya lebih senang di sini,” lanjutnya tiba-tiba.
”Kenapa, Pak?” entah keberanian dari mana aku bertanya seperti itu padanya.
”Di luar sana, orang sibuk berlari. Mereka mengejar uang, kekuasaan, nama besar sampai mereka lupa caranya menjadi manusia,” pembukaan yang cukup lantang. Aku menegakkan punggung dan membuka telinga lebar-lebar. ”Di sini, saya tak perlu berurusan dengan pesaing. Tak perlu repot menghindari bilah pisau dari belakang.”
Aku menggigit bibir. Itu bukan jawaban yang asik. ”Bukankah Bapak kehilangan kebebasan?” tanyaku sambil melirik sudut-sudut sel, tak yakin dia benar-benar kehilangan.
”Di luar sana saya selalu dalam bahaya. Di sini, saya punya kamar sendiri, makanan selalu ada, dan yang paling penting…” dia letakkan sendoknya perlahan, ”Saya masih memegang kunci.”
Caranya bicara begitu santai, seakan sel ini merupakan ruang kerja dengan batasan yang bisa dinegosiasikan. Dia begitu terang-terangan untuk pertemuan pertama. Cerita rakyat tentang jual beli dalam jeruji bukanlah mitos. Makin dalam kamu masuk, makin tenang suasananya. Tak ada lumut yang bertengger seperti blok tiga atau empat. Tak ada teriakan atau pertengkaran seperti di blok satu atau dua.
Di luar sana, orang sibuk berlari. Mereka mengejar uang, kekuasaan, nama besar sampai mereka lupa caranya menjadi manusia.
”Mel, cepat keluar!” teriak Bagas yang ternyata sudah mencariku dari tadi. Aku berdiri buru-buru dan berpamitan pada penghuninya. Pria tua itu tersenyum melambaikan tangan.
Aku melewati sembilan sel lainnya lagi. Mereka menatapku dengan tatapan curiga bersama buku 1001 Kiat Sukses di genggamannya. Ada pula yang sudah berlari di atas treadmill, menghisap cerutu, menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, atau menonton acara televisi.
”Kenapa blok ini berbeda, Gas?”
”Blok satu sampai empat, tempat orang-orang miskin yang kerjaannya sambung ayam, mencuri, mabuk dengan oplosan, judi, kebut-kebutan di jalan,” katanya sambil tetap berjalan menyusuri lorong. ”Blok lima dan enam isinya napi dengan kasus berat, tapi hanya bisa membayar di bawah 500 ribu. Mereka rata-rata pembunuh, perampok, narkoba skala kecil.”
Tempat ini lebih mirip dengan hotel. Jika kau tak punya uang, bersiaplah tidur di atas alas tipis. Blok tujuh dan delapan berisi tiga orang napi setiap sel dan berstatus sebagai bawahan orang-orang blok sembilan yang setia. Mereka adalah tukang pukul, penagih hutang berjas, distributor barang ilegal, dan yang tak sengaja kecipratan dana dari bos mereka. Bentuk selnya persis kamar asrama universitas. Blok sembilan, tempat mereka yang namanya terpampang di berita nasional dengan senyum penuh wibawa. Napi-napi itu dulu duduk di kursi emas dan menandatangani kertas yang mengubah hidup jutaan orang. Meski sekarang hanya kursi kayu, tapi tanda tangan mereka masih berlaku. Hidupnya tak banyak berubah, mereka masih bisa menyeruput kopi hitam kental yang entah bagaimana bisa mereka bawa ke dalam.
”Selanjutnya kau bertugas di blok sembilan, Mel. Pakailah kaca mata kuda,” kata Bagas ketika sudah sampai di gerbang paling depan.
Aku ke meja informasi. Ruangan itu penuh sesak pagi ini. Wajah-wajah menunggu dengan gelisah, sebagian membawa rantang, pakaian, atau sekadar surat. Seorang ibu paruh baya menggenggam erat sebuah amplop tebal, sesekali mengintip isinya. Sampai ada seseorang yang menghampirinya, menerima amplop tadi. Bukan tahanan, tapi sipir dengan perut buncit. Ada lagi seorang gadis muda yang berulang kali memeriksa ponselnya. Rambutnya panjang terikat, wajahnya pucat tak pakai riasan, bajunya juga tipis, dan sandal jepit seharga sepuluh ribu rupiah tergenggam di kaki-kakinya yang penuh koreng. Dia tak punya amplop di tangannya.
”Itu sudah lama menunggu, tapi belum diproses,” kata Rahayu, penjaga meja informasi. Aku meminta penjelasan lebih lanjut. ”Tak bawa apa pun,” singkatnya.
Tiba-tiba, ada pria berkemeja rapi datang dan berbicara pelan dengan petugas. Bukan suara memohon seperti gadis itu, tapi nada perintah yang halus. Selang lima detik, dia masuk dengan bahu lebarnya.
”Ada pesanan buat blok paling dalam,” bisiknya sambil menunjuk sebuah kotak di atas meja belakang. Di atasnya tertulis alamat, blok sembilan sel sepuluh. Ada kopi, rokok, roti tawar, nutela, pisang, dan air soda. Hal ini wajar, tapi ada satu hal yang membuatku tambah bergidik, sebotol Penfolds Grange Hermitage.
”Ini,” Rahayu menghampiriku dan melemparkan sebuah amplop kecil ke atas kardus. ”Seseorang menitipkannya untuk napi di blok dua sel terakhir, nomor tahanan 2489.”
Amplop kusam tanpa tulisan, hanya angka sederhana, 2489. Isinya terasa datar dan kaku. Aku mengantarkannya dengan susah payah karena botol anggur itu memberatkan langkahku. Pada saat tiba di blok dua, sel 48, aku menyebutkan nomor tahanannya. Dia tergopoh, tapi mukanya tampak semangat. Pintu dibuka dengan kasar.
”Pasti dari istriku,” katanya. Dia duduk di depan pintu sambil membuka amplopnya. Semua orang penasaran, termasuk aku.
Dua lembar foto bayi terpampang jelas di sana. Senyumnya makin lebar saat menatap foto-foto itu. Jemarinya gemetar, menyentuh kertas itu hati-hati seolah takut merobeknya. Tangisan dingin mulai pawai. Napi lain mulai bersorak mengucapkan selamat. Sel itu, hanya ada rokok murahan, tak ada piring putih datar seperti blok dalam, tapi tatapan mereka menunjukkan sesuatu yang tak pernah kulihat, ketulusan.
”Selamat, Pak,” ucapku. Dia terus mengelus wajah sang anak.
”Istriku bilang dia akan menungguku. Dia berhasil melahirkan anak kami,” bisiknya, tapi terdengar.
Tak ada transaksi di sini, tak ada jual beli barang. Hanya kebahagiaan sederhana seorang pria yang tahu bahwa dirinya telah menjadi bapak. Katanya, dia masuk sini karena persoalan oplosan. Jiwanya yang hampir gila memaksanya bertahan, oplosan jadi pelampiasan. Raut wajah bahagianya tiba-tiba mendung.
Istriku bilang dia akan menungguku. Dia berhasil melahirkan anak kami.
Napi 2489 juga bercerita bahwa sang istri menjual cincin kawinnya untuk biaya lahiran. Dia benar-benar menangis sesenggukan. Leher yang hampir dia gorok sendiri masih utuh. Bapak baru ini telah menemukan alasannya untuk hidup dan pulang ke rumah. Meski dalam perasaan takut pandangan sang anak padanya, tapi niatnya pulang tak pernah dia hilangkan. Dua tahun lagi, saat dirinya keluar, pasti sang anak sudah bisa berlari memeluknya. Aku harap, ketika waktunya tiba, dia tidak dianggap sebuah noda yang harus dihapus atau sampah masyarakat yang tak berguna.
”Terus, kau berharap apa setelah menjual cerita sedih itu?! Minta belas kasih?” itu suara sipir buncit tadi. ”Kau juga ngapain di sini, Anak Baru?!” Aku pun langsung berdiri dan hendak melanjutkan pengiriman. Pintu sel 2-48 kembali ditutup.
”Terima kasih, Mbak, sudah mengantarkan ini,” kata 2489 dengan suara yang lebih ringan. Aku memberinya senyum, bukan palsu seperti di blok ujung. Sipir tadi melirik tajam padaku, namun langkahku tak peduli.
Aku berjalan santai menuju sel bapak tua bercincin emas. Penjaga gerbang otomatis membukakan jalan saat aku memperlihatkan barang bertuliskan 9-10. Dia mengikutiku sampai sel terakhir. Penghuninya menatapku dengan senyum tipisnya. Pria itu masih duduk di tempat yang sama, mengenakan kemeja lengan panjang. Dia berjalan membuka pintu, memperlihatkan wajah senangnya.
”Ah akhirnya sampai juga,” katanya santai.
Pria tua membuka kotak kiriman dengan gerakan tenang, mengambil botol Penfolds dan mengamatinya dengan tatapan puas. Petugas depan pura-pura sibuk melihat data, sesekali mengamati kami di dalam. Sang tuan dari sel sepuluh itu tertawa kecil sambil mengeluarkan rokok dan mulai menyisipkan pada sela jarinya. Setelah asap mulai mengebul, kembali dia duduk dan membuka anggur istimewa tadi. Dituangnya pada gelas kaca yang sama mahalnya. Dia teguk dengan menutup mata, menikmati setiap milinya yang berharga. Seolah waktu berhenti, seolah dia sedang berada di ruang tamu rumah mewahnya. Penghuni yang berusia 50 tahun ini memperkenalkan pada pegawai negeri sepertiku tentang anggur merah yang berasal dari Australia tersebut. Minuman yang sudah ada sejak 1951 dan pernah dilelang pada tahun 2004 seharga 38.420 dolar Amerika Serikat. Dia sedang berbicara asetnya yang lolos dari pantauan.
”Orang tua ini sudah tak punya keluarga, Mel.” Napi kelas atas ini tak sedang bercanda. Istrinya minta cerai saat dirinya tertangkap. Usia pernikahan 25 tahun dan selama itu pula wanitanya ikut menikmati mobil mewah, berlian, bahkan liburan ke Eropa. Istrinya itu kabur sendiri, meninggalkan sang suami di balik jeruji emas. Kisah orang kaya yang punya alur sama, sangat mudah ditebak. Mereka punya satu anak, satu-satunya pewaris. Katanya, dia mati dibunuh pesaing sang ayah. Tiga peluru di dada, satu di kepala. Meski dongeng lama, miris sekaligus ngeri mendengar penderitaannya.
”Dulu, saya bisa membuat orang hancur dalam semalam, tapi begitu di sini, orang yang tak lebih baik dari saya bertepuk tangan,” jelasnya padaku yang sudah bolak-balik menelan ludah.
Bapak tua itu tiba-tiba tersenyum menatapku, berbaring di atas kasur, dan memejamkan matanya. Napasnya teratur dan perlahan menghilang. Aku masih mematung di tempat. Napi kelas atas yang barusan meneguk anggur mahalnya dengan begitu elegan, kini terbaring diam. Sipir yang mengikutiku masuk dan mendekatinya. Tak ada sautan. Badannya mulai dingin. Aku melirik gelas anggur yang masih tersisa di meja kecilnya. Cairan merah pekat itu terlihat biasa saja, tapi pikiranku sudah berspekulasi buruk. Dia segera menghubungi petugas lewat handy talky-nya. Sipir lain berlari ke arah sel paling dalam ini. Salah satu di antaranya memandang ke tubuh yang terbaring, lalu mendesah pendek.
”Cepat juga,” gumamnya.
Aku menoleh bingung. ”Maksudnya?”
Dia segera memberi isyarat pada rekannya untuk membawa raga itu. Tak ada jawaban dari pertanyaan dan rasa penasaranku. Bagas menarikku dari sana. Laki-laki di sebelahku ini sedang mengarang sebuah skenario indah seakan menyampaikan bahwa kematian ini wajar. Aku ingin percaya, tapi kematiannya begitu mendadak. Satu jam yang lalu, sang tuan masih menyesap anggur merahnya. Sekarang, dia hanya seorang napi yang dipaksa keluar karena mati.
”Ini aneh, Gas.”
”Mel, ada hal-hal yang lebih baik tidak kau ketahui,” jawabnya cepat dan tegas.
”Jadi, kita juga dibungkam?” pandanganku lurus ke depan.
”Kita petugas yang tak berdaya. Bisa apa?” Sewilayah ini telah terkubur ke inti bumi, tanpa terkecuali. Petinggi yang datang dengan catatan kejahatan luar biasa tetaplah penguasa bagi mereka yang lemah, termasuk aku dan Bagas.
Belum sempat aku mengajukan petisi lagi padanya, dia melayangkan fakta. ”Kau kira semua napi di blok sembilan bisa menikmati anggur mahal dan kasur empuk hanya karena uang? Tidak, Mel. Mereka tetap bermain dalam aturan yang lebih besar.”
Aku terdiam. Pikirku, kebebasan dari sang tuan yang mati memang ada di sini. Ternyata, kebebasan yang sebenarnya baru saja dirinya mulai. Tidur dalam damai di dalam peti putih bersama lukisan, botol Penfolds, gelas kaca, dan kemeja putih favoritnya. Tak ada pesaing yang ingin menjatuhkannya. Sebab, sang tuan sudah benar-benar jatuh. Dia yang dulunya di atas bumi, kini ikut terkubur. Hanya beberapa sipir yang mengantarkannya, tak ada sang mantan istri atau pun rekan kerjanya, dia benar-benar sendiri. Wartawan yang berkumpul tengah lantang membicarakan kematiannya. Sayang, sang tuan tidak bisa lagi menunjukkan senyum wibawa bersama jas Prada-nya pada kamera. Semua pengantar jenazah memasang riasan paling tampan, kecuali aku. Anggap saja sebagai perwakilan keluarganya yang tengah berduka, sedangkan mereka siap tampil.
”Pendapatmu salah, Pak. Kunci itu bukan milikmu,” aku sampaikan pada mayat yang bisu di liang sana. Sejak saat itu, blok sembilan pun terlihat lebih menakutkan daripada kedatangan pertamaku. Satu orang telah pergi, tapi permainan tetap berjalan. Entah siapa berikutnya.
Auranita Gibrani Darmawan, bisa dipanggil dengan nama Aura. Lahir di Malang pada tahun 2003, tetapi tumbuh dan besar di Indragiri Hulu, Riau. Ketertarikan dengan sastra sejak kecil membuatnya memilih berkuliah di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM).
sumber : kompas.id, 06 Jun 2025.
