Cerpen :Tapanaga oleh Daviatul Umam

Sebagai ketua RT, Sidik jadi orang terdepan dalam memperjuangkan kesejahteraan warganya. Ia satu-satunya aparat desa yang menolak keras rencana reklamasi pantai yang dicanangkan Kalebun Mahri sejak 2013. Ia tak segan mengumpulkan warga untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah tertutup, ia menyampaikan rencana Kalebun Mahri, mewanti-wanti warga agar bersama-sama menolak rencana tersebut, serta menerangkan sejumlah alasan kenapa harus menolaknya.

Itulah mengapa, Sidik tak pernah lagi dilibatkan dalam setiap rapat desa begitu Kalebun Mahri tahu bahwa Sidik telah memprovokasi warga. Suatu hari, para tetua dan pemuda Tapanaga diundang ke balai desa. Semua aparat desa juga hadir pada pertemuan itu, kecuali Sidik. Tentu saja Sidik juga tahu diri dengan tidak memaksakan datang karena memang tidak ada pemberitahuan sama sekali. Ia cukup menunggu keputusan rapat dan mengamati pergerakan kaki tangan Kalebun Mahri dari jauh.

”Ini demi Gersik! Khususnya demi Tapanaga!” suara Kalebun Mahri menggelegar ketika memberikan orasi di hadapan mereka. Beberapa aparat sesekali manggut-manggut khusyuk. ”Kita tidak mau, kan, terus-terusan bekerja kepada perusahaan? Kita harus punya lapangan kerja sendiri, memegang kendali sendiri, semuanya kita atur sendiri. Makanya jangan gampang terprovokasi oleh orang yang tidak jelas maunya apa.”

Satu-dua warga tampak tersentuh hatinya oleh pidato Kalebun Mahri sehingga mengangguk-angguk setuju. Bagaimana tidak, kenyataannya, selama puluhan tahun masyarakat Gersik bekerja sebagai buruh tani garam kepada perusahaan yang memberinya upah rendah. Belum lagi jika curah hujan tinggi. Proses kristalisasi jadi terganggu dan kualitas garam memburuk. Otomatis perusahaan rugi, menyebabkan upah yang diterima para buruh semakin murah. Malah kerap tidak dibayar.

Tapi mereka tetap bertahan karena cuma pekerjaan itulah yang dianggap paling menjanjikan. Dan memang begitulah faktanya. Selain itu, bagi mereka, bertani garam adalah salah satu wujud penghormatan kepada nenek moyang. Sebab, memang demikianlah mata pencarian masyarakat Gersik secara turun-temurun sejak lahan garam seluas 126,36 hektar itu masih dikuasai kolonial Belanda.

Dengan luas lahan garam yang hampir menyamai luas wilayah Desa Gersik tersebut, tidak ada satu pun warga memiliki lahan kosong untuk dicocok-tanami. Rumah-rumah warga Tapanaga bahkan berjejalan di kawasan pesisir dengan halaman sempit. Selebihnya adalah bentangan samudra. Sebagian dari mereka memanfaatkannya sebagai tempat mengais rezeki tambahan. Apabila musim hujan bertandang dan produksi garam acapkali gagal, tiada pilihan lagi selain menjadikan laut sebagai satu-satunya harapan yang tersisa.

Di atas gelombang biru itulah nyawa para laki-laki Tapanaga dipertaruhkan. Sepanjang hari mereka menjaring ikan dengan mengendarai biduk, bertarung dengan ombak dan sakal. Kadang kala dipanggang terik matahari, kadang juga didera hujan badai dan terancam halilintar. Sementara itu, bila air sedang surut, kaum hawa berduyun-duyun menuruni tepi laut, berlomba mencari kepiting dan tiram untuk kemudian dijual ke pasar kecamatan. Terkadang laku habis, tetapi lebih sering dibawa pulang dan dimasak sendiri.

Itu sebabnya Sidik mati-matian menolak rencana reklamasi pantai. Ia sangat khawatir proyek tersebut bakal mencemari laut dan memusnahkan biota laut. Jika itu sampai terjadi, warga Tapanaga bakal kehilangan mata pencahariannya. Kecemasan lain terkait pendangkalan pantai sehingga potensi banjir rob yang biasa terjadi tiga kali dalam setahun akan meningkat.

Hingga suatu ketika, darah Sidik menggelegak tatkala warga Tapanaga dihebohkan dengan penemuan sebuah tiang bambu yang terpancang di wilayah perairan, tanpa diketahui siapa pelakunya. Di ujung tiang, terpampang papan nama bertuliskan ”20 Hektare Lahan Ini Kepunyaan Kepala Desa Gersik, Menunjuk Pada Sertifikat Hak Milik No. 475/2013 a.n. Mahriyanto, S.Pd.”

Sidik mengerahkan warga supaya mencabut tiang itu. Persetan jika ia harus berurusan dengan Kalebun Mahri atau siapa pun. Ia beranggapan, 20 hektar laut yang hendak disulap menjadi lahan tambak garam hanyalah akal-akalan pemerintah untuk kepentingan segelintir orang saja. ”Lagi pula, sejak kapan laut bisa dibeli atau dimiliki perseorangan?!” seru Sidik saat berbicara di antara lingkaran warga.

Alhasil, warga Tapanaga lebih memercayai Sidik ketimbang Kalebun Mahri. Selain karena alasan penolakan Sidik sangat masuk akal, selama ini ia memang dikenal tepercaya oleh warga. Menjadi dosen di perguruan tinggi tidak membuatnya ongkang-ongkang kaki di menara gading. Statusnya sebagai ketua RT pun tidak membuatnya enggan berbaur bersama masyarakat dan benar-benar menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

Jelas Kalebun Mahri tidak tinggal diam. Ia senantiasa berpikir keras bagaimana cara agar rencananya tetap berjalan mulus. Luasnya jaringan pertemanan di kalangan elite, kuatnya dukungan dari aparat desa, bahkan ada sebagian masyarakat Gersik turut bergabung dalam pencanangan proyek tambak garam itu, membuatnya yakin bahwa ia tidak akan kalah melawan Sidik yang bukan siapa-siapa di matanya.

Lagi pula, sejak kapan laut bisa dibeli atau dimiliki perseorangan?!

Lalu tibalah hari di mana seorang warga Tapanaga dikejutkan dengan munculnya truk besar yang menurunkan ekskavator di tepi pantai. Spontan ia berlari ke rumah Sidik, tetapi Sidik tidak ada. Istrinya bilang, Sidik sedang di kampus. ”Biar saya telepon, Pak,” katanya. Lantas pergilah orang itu ke rumah Matroni—kawan Sidik yang juga getol menyuarakan hak-hak rakyat di medsos—menyampaikan apa yang dilihatnya di tepi pantai. Setelah itu ia juga mengabarkan hal serupa kepada warga lain sehingga kabar tersebut cepat merambat ke seantero Tapanaga.

Tak lama kemudian, secara kompak warga Tapanaga—laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda—bergegas menuju pantai. Wajah mereka memerah. Sebagian menjerit, ada pula yang menangis. Dan, ketika hampir tiba di lokasi, alangkah terkejutnya mereka melihat kerumunan manusia berseragam cokelat. Kisaran dua puluh orang. Adapun dua orang lainnya berkemeja putih dengan celana panjang berwarna arang.

Alih-alih ciut, warga terus merapat ke arah kerumunan seraya berteriak dan menyebut-nyebut asma Tuhan. Tak mau kalah sigap, orang-orang bersenjata api itu bergerak menghadang. Terjadilah adu mulut. Warga mengata-ngatai para polisi. Sedangkan para polisi berusaha tetap santai sembari terus mencoba menenangkan massa. Mirip dengungan sekawanan lebah.

Percekcokan rupanya sulit reda. Malah teriakan-teriakan warga semakin memanas disertai jeritan histeris ketika ekskavator mulai merangkak maju ke pantai yang airnya tengah susut, sebelum kemudian cakar besi raksasanya bergerak mengeruk pasir laut. Umpatan demi umpatan terus menghujani para polisi. Lalu seciprat ludah mendarat di muka salah satu dari mereka. Lekaslah ia mencabut pistol dan menembakkannya ke udara. Dor!!! Mendadak keributan menjadi senyap dalam beberapa detik. ”Jangan memaksa kami memakai cara kekerasan, Pak! Bu!” bentaknya mengisi keheningan.

Jangan rampas ruang hidup kami!”

”Tapi tolong hargai kami juga, Pak!” Ternyata masih ada seorang warga berani bersuara lantang. Tak lain itu suara Matroni. ”Tolong jangan semena-mena!” imbuhnya dengan kedua mata melotot, seolah-olah dua bola matanya menyemburkan api.

”Jangan rampas ruang hidup kami!” celetuk warga lainnya menimpali.

”Hentikan proyek ini!”

”Kami butuh makan!”

”Pergi! Pergi! Pergi!”

Salah seorang lelaki berkemeja putih mendekat. Kedua tangannya terangkat sebagai isyarat agar suasana menjadi kondusif, ”Tenang! Tenang! Ini demi kesejahteraan kalian!”

”Kesejahteraan macam apa?! Ini penindasan namanya!” sahut Matroni. Adu mulut pun kembali berkobar.

Di tengah-tengah kegaduhan, Sidik datang. Tergopoh-gopoh ia turun dari motornya, dan langsung berlari kencang ke pantai. Polisi yang terlambat menyadari kedatangan Sidik tak sempat mencegahnya. Sidik lolos. Segeralah beberapa warga menyusul Sidik, termasuk Matroni. Betis mereka berlumur lumpur hitam. Tidak ada satu pun polisi menghampiri mereka karena takut seragamnya kotor. Maka tiada yang bisa dilakukan para polisi saat itu kecuali berdiri termangu.

Situasi sangat mencekam tatkala Sidik mencoba menghalang-halangi aksi cakar besi raksasa yang sedari tadi mengeruk pasir laut. Matroni dengan tangkas menahan tindakan Sidik yang amat berbahaya bagi keselamatan dirinya. Namun, sekuat tenaga Sidik berontak hingga terlepas dari cengkeraman tangan Matroni, dan kembali mencoba menghentikan pekerjaan sopir ekskavator.

***

Warga Tapanaga sangat lega karena pengerukan pasir laut di hari itu berhasil dihentikan oleh Sidik. Tentu keberhasilan itu juga berkat perjuangan serta dukungan warga lain. Walau demikian, mereka masih menyimpan rasa waswas kalau-kalau Kalebun Mahri kembali mendatangkan ekskavator beserta rombongan petugas keamanan. Mereka berjaga-jaga sambil lalu berbagi pendapat untuk mengantisipasi hal itu.

Setiap hari bersikap penuh awas, apa yang mereka gelisahkan tidak terjadi. Tidak ada tanda-tanda atau gejala apa pun. Laut bersertifikat itu terpantau aman. Satu bulan berlalu tanpa kegaduhan apa pun. Kepala Pemda berkunjung ke balai desa Gersik untuk memediasikan dua kubu, antara aparat desa dan warga Tapanaga. Sebelumnya sudah ada pemberitahuan terkait hal itu. Namun, tiada satu pun warga menghadiri musyawarah. Mereka juga bersikap apatis terhadap Pemda karena selama ini dipandang lalai dalam menangani kasus Tapanaga.

Terpaksa Bupati beserta tiga pejabat bawahannya mendatangi langsung rumah Sidik. Mula-mula mereka meminta maaf atas kelengahannya dalam penanganan kasus Tapanaga. ”Sejak awal kami sudah menyampaikan kepada Pak Kalebun,” tutur Bupati kepada Sidik dengan gaya bicaranya yang renyah. Tangan kanannya bergerak-gerak menyesuaikan intonasi. ”Silakan lanjutkan reklamasi pantai jika memang ditujukan untuk kepentingan umum, dan masyarakat tidak keberatan. Tapi kalau masyarakat menolak, kata saya, sebaiknya jangan diteruskan biar tidak menimbulkan konflik.”

Sidik meladeninya setengah hati tanpa banyak berharap. Barulah Sidik menampakkan raut semringah usai Bupati mengatakan maksud utamanya, “Demi mengakhiri konflik ini, juga demi memenuhi keinginan warga Tapanaga, kami berjanji akan mengurus pencabutan SHM laut Tapanaga. Secepat mungkin.” Sontak dua warga yang sedari tadi mencuri dengar percakapan di samping rumah Sidik melonjak girang. Buru-buru mereka mengabarkan berita baik itu kepada para tetangganya.

Sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan, besok malam mereka bakal menggelar syukuran. Mereka akan memanjatkan puja-puji dan doa bersama di tepi pantai Tapanaga. Segala sesuatunya dipersiapkan sejak pagi, termasuk bahan makanan untuk perjamuan, juga sebuah sesajen untuk dilarungkan ke lautan.

Naas, kesenangan mereka terusik oleh panorama langit sore yang teramat gelap. Awan hitam begitu tebal dan mengerikan. Tak terelakkan, hujan tumpah ruah. Dalam hitungan menit air bah sudah menggenang setinggi pergelangan kaki. Air laut juga meninggi dan terus meninggi. Sudah bisa ditebak, banjir rob datang lagi, menyerbu permukiman penduduk, untuk kesekian puluh kalinya.

Sementara itu, Sidik berada dalam perjalanan dari kampus. Tubuhnya kuyup tanpa lindungan mantel. Adapun akses menuju Desa Gersik lumayan pelik. Jalannya rusak parah dan terabaikan selama bertahun-tahun. Batu-batu bertonjolan di sana-sini. Sebagian lain tanahnya terkeruk membentuk kubangan-kubangan. Karenanya, sambil menahan gigil Sidik sangat hati-hati menyetir di bawah terjangan hujan yang kian beringas.

Ketika Sidik hendak melewati jalan becek yang membelah dua petak kebun pisang, sorot lampu motornya memperlihatkan sebatang pohon pisang merentang dan merintangi jalan. Ia tidak bisa lewat jika tidak menyingkirkannya. Ia berhenti lalu turun dari kendaraannya dengan lampu tetap menyala.

Pengecut!

Belum sempat menyentuh batang itu, jantung Sidik dibuat hampir copot oleh kehadiran lima sosok manusia yang tiba-tiba bermunculan dari kiri-kanan, yang sejak tadi bersembunyi di balik kebun pisang nan rimbun. Tampang mereka semua dibalut kain. Cuma mata dan alisnya yang tampak. Dengan tatapan sedikit buram, Sidik mencoba mengingat-ingat bentuk mata dan alis itu secara bergantian. Dua di antaranya ia kenal. Sangat kenal.

Kepalang tanggung karena sudah terkepung, Sidik memilih mematung saja dengan berusaha tetap tenang dan waspada. Seraya menunggu pergerakan mereka, ia melirik satu-persatu celurit yang tergenggam erat di tangan kanan masing-masing. ”Pengecut!” umpatnya sebelum meludah kasar ke tanah.

Sumenep, 2025

Keterangan:

Kalebun (Madura): kepala desa

Daviatul Umam, menulis puisi dan prosa. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah ini bergiat di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace. Kini bermukim di tanah kelahirannya, Sumenep, Madura.

sumber : kompas.id, 30 Mei 2025.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *