Anak itu bertubuh kurus-kering seperti seutas lidi. Celana panjang abu-abunya terlalu pendek sehingga menampakkan kaus kakinya yang melorot ke mata kaki. Ia datang paling akhir. Saat berdiri memperkenalkan diri—”Nama saya Gabustois”—teman-teman barunya mentertawainya.
Guru kelas sampai harus memukul meja dengan penggaris kayu supaya murid-murid diam. Setelah tawa reda, murid bernama aneh itu dipersilakan duduk dan mereka kembali belajar.
Tois, begitu ia biasa dipanggil (kadang tanpa ”s”), sering menjadi bulan-bulanan canda oleh teman-teman sekelasnya bahkan sampai ia menangis dan mengadu kepada gurunya. Tetapi ia tetap menjadi obyek perundungan teman-temannya sampai mereka lulus SMA.
Hal lain yang membuat Tois menonjol adalah kemampuannya untuk selalu bisa menebarkan senyum pepsodent di saat suka maupun duka.
Hal paling menonjol yang pernah ia tunjukkan kepada teman-temannya adalah ia bisa bermain biola. Ada seorang murid perempuan di kelasnya yang memiliki ayah pemain keroncong dan Tois sering bertandang ke sana untuk bermain biola. Tak ada hubungan apa pun antara Tois dan murid perempuan itu karena murid perempuan itu terlampau cantik dan memandang Tois sebagai bahan candaan belaka seperti teman-teman sekelasnya yang lain.
Hal lain yang membuat Tois menonjol adalah kemampuannya untuk selalu bisa menebarkan senyum pepsodent di saat suka maupun duka. Jika ia dibuat menangis oleh teman-temannya, senyum pepsodent-nya itu akan terbit kembali tiga detik setelahnya, seperti matahari yang bersinar di atas kepala orang jahat dan orang baik.
Tois tidak menonjol dalam pelajaran. Tetapi tak pernah sekali pun ia mencontek saat ujian. Hal inilah yang membuat guru-gurunya bangga. ”Lihatlah Tois. Ia tak pernah mencontek seperti kalian.” Begitu jam istirahat, Tois langsung dirundung. Kepalanya dikeplak, kaus kakinya ditarik sampai melar. Tois menangis. Tetapi ia tahu, jika mengadu, hukuman berikut dari teman-temannya akan sangat menggebu. Maka ia belajar bersabar, hanya menebarkan senyum mataharinya.
Tois lulus SMA dengan nilai lumayan bagus dan berhasil masuk fakultas kedokteran di universitas negeri. Namun ia hanya berhasil bertahan satu tahun di sana. Ia tak mampu mengikuti pelajaran hingga akhirnya orangtuanya memindahkannya ke universitas swasta yang terjangkau.
Di universitas yang baru ini ia menjadi begitu giat belajar hingga akhirnya bisa lulus dengan nilai bagus dan melanjutkan ke jenjang S-2.
Tak ada yang mustahil dalam hidup manusia.
Kerja keras yang ia curahkan untuk belajar setiap hari berbuah matang seperti mangga jatuh dari rantingnya. Lalu yang mengejutkan lagi, ia mendapat beasiswa S-3 ke Jepang. Betapa bangga dirinya. Ia tak dapat meluapkan kebahagiaannya dengan kata-kata, kecuali: ”Tak ada yang mustahil dalam hidup manusia,” katanya kepada dirinya sendiri.
***
Semasa di Jepang ia menemukan hobi baru: fotografi. Ia membeli kamera mahal dan banyak memotret bunga sakura di saat musim semi dan musim salju.
Setelah lulus dari S-3 di Jepang ia menjadi dokter spesialis paru dan bekerja di sebuah rumah sakit swasta cukup mentereng di Jakarta. Istri yang dihamilinya di luar nikah sejak sebelum menjadi dokter umum, sekarang sudah memberinya dua anak. Hidupnya sangat berkecukupan. Ia bisa membeli rumah mewah di kawasan perumahan elite di Jakarta Selatan dan membeli piano untuk ruang tamunya, selain beberapa biola untuk koleksi, motor tril dan mobil Hardtop.
Ia menjalin hubungan baik dengan semua rekan dokter yang bekerja di rumah sakit tempat ia bekerja. Kadang mereka melakukan trip atau kemping keluarga. Tetapi ia tak memiliki teman karib di sana, tempat ia mencurahkan isi hatinya. Semuanya ia pendam sendiri atau jika ia utarakan, hanya kepada istrinya, itu pun hanya sedikit, secukupnya saja, seperti menabur garam pada makanan.
Tak sekali pun mereka menyinggung-nyinggung soal Tois yang dulu pernah menangis atau kaus kakinya ditarik hingga melar.
Suatu kali teman-teman sekelasnya di SMA mengundangnya masuk grup Whatsapp. Dari grup ini ia mendapat kabar tentang teman-teman sekolahnya dulu. Dan mereka, begitu tahu bahwa Tois sudah menjadi dokter, jatuh kagum kepadanya. Tak ada jejak perundungan masa lalu yang tersisa dalam obrolan, semuanya bersikap biasa seolah Tois bukanlah subyek perundungan mereka dulu. Tak sekali pun mereka menyinggung-nyinggung soal Tois yang dulu pernah menangis atau kaus kakinya ditarik hingga melar. Kini semua teman menaruh respek kepadanya, apalagi begitu mengetahui kalau Tois meraih S-3 dokternya di Jepang.
Meskipun begitu, setelah menyambut Tois masuk, beberapa hari kemudian grup itu cenderung sepi postingan, seperti biasa. Grup diam seribu bahasa, seperti sebelumnya.
Hingga suatu kali diundang masuk teman lain yang cukup terkenal cantik di kelas mereka, tetapi yang jarang terdengar kabar dan jarang berkomunikasi dengan teman-temannya. Grup seketika ramai kembali. Menanyakan kabar ini dan itu. Rima, teman mereka ini, bekerja sebagai penyanyi di sebuah pub.
Ia kerap memposting video saat dirinya sedang menyanyi dan berlenggang-lenggok di atas panggung. Banyak pujian atas kecantikan dan performa Rima yang membuat mata para teman laki-lakinya melotot seperti hendak meloncat dari lubangnya.
Tois mengirim pesan ke grup mengatakan ia tak tahu kalau Rima bisa menyanyi, disertai dengan emotikon tangan meminta maaf dan wajah menunjukkan senyum matahari. Rima menjawab: ah bisa aja, itu hanya pekerjaan kok dok, daripada tidak makan, Rima menyertakan emotikon wajah tersipu malu.
Setelah grup sempat ramai beberapa hari, empat hari kemudian Rima keluar dari grup. Seorang teman yang dekat dengannya mengatakan kalau Rima harus mengganti nomor ponselnya untuk melindungi keamanan pribadinya dari seorang stalker. Grup pun menjadi sepi kembali.
***
Suatu ketika Tois memposting foto langit senja sehabis hujan. Ada yang mengatakan kalau fotonya bagus dan menanyakan dipotret menggunakan kamera apa. Tois langsung memposting foto dirinya sedang tersenyum dengan deretan gigi putih mengkilat berdiri dekat jembatan, di belakangnya sungai dan gedung dengan latar negeri kanguru, sambil mengalungkan kamera berlensa panjang.
Lalu teman lain berkomentar: Hindari kamera yang nomor serinya cuma satu dan lensanya ada lingkaran merahnya, yang kaya yang dipakai pak dokter di foto di atas. Muahalllll…
Lalu yang lain: jam tangannya dong, punya Setnov tuh.
Ini jam tangan hadiah dari mahasiswa saya, kok, kata dr. Tois. Mana mampu saya beli. Lalu dr. Tois memposting fotonya sedang berdiri bersama mahasiswa-mahasiswanya, ia dengan senyuman mataharinya.
Yang lain berkata: Gokil pak dokter Tois. Sudah ganteng, pintar, berprestasi, bisa main biola, kaya-raya pulak! Ngga ku-ku…
Tois membalas: Alhamdulillah. Makasih. Segala puji hanya untuk Allah. Saya sendiri masih punya banyak utang, kok. Tanya tuh sama Arif.
Kenapa jadi nyangkut ke si Arif? tanya yang lain.
Saya pinjam duitnya dari Arif. Arif tuh yang banyak duit (emotikon jempol).
Yang lain: Hehe, rumah yang di depan rumah itu dijual berapa, dok? Pengin tau aja. (Sebelumnya dr. Tois memposting foto rumah dijual bertingkat dua di depan rumahnya).
Kalau tidak salah, dia minta 3,7 M.
Gokil! Ngga ku-ku, deh. Hahaha…
Tetanggaan yuk, Pren. Saya juga pakai KPR. KPR-nya dibantuin si Arif. (Emotikon senyum tersipu). Arif yang dimaksudkannya ini bekerja di sebuah bank pemerintah cukup terkenal.
Ngga mampu, dok. Hehe, komentar yang sebelumnya.
Kalau di KPR ini cicilannya berapa ya? tanya teman lain.
Dr. Tois menjawab: Mungkin masih bisa ditawar. Terus uang muka biasanya 1/3 dari harga yang disepakati. Terus cicilan tergantung mau nyicil berapa tahun (5, 10, 15 tahun?) Secara kasar, cicilan 30 juta sekianlah per bulannya.
Teman itu langsung memberikan emotikon tangan meminta maaf dengan kata-kata: Ngga kuat, dok.
Lalu tak lama kemudian grup menjadi hening.
***
Dua bulan kemudian, seorang teman mengabarkan anak dr. Tois meninggal karena pneumonia. Grup kembali ramai dengan ucapan belasungkawa. Lalu dr. Tois muncul mengucapkan terima kasih dan mengundang teman-temannya untuk melayat ke rumahnya. Semuanya beralasan tak bisa datang. Selain karena tak akrab, mereka juga takut menginjakkan kaki di rumah berlantai dua yang mewah milik dr. Tois: Segan melihat senyum matahari dr. Tois saat menyambut mereka datang melayat.
Setelah itu grup hening kembali.
Seminggu kemudian ada yang mengirimkan tautan berita politik, disambut oleh meme dan berakhir dengan humor bapak-bapak (”Mengapa kakek selalu tersenyum?” Jawab: ”Karena kakek tak bisa mendengar apa pun yang kamu katakan”).
Postingan adem-ayem ini berlangsung selama sebulan. Sebelum akhirnya muncul postingan video dari dr. Tois yang menampilkan dirinya sedang mencoba motor BMW dengan mengenakan seragam SMA, masih dengan senyum pepsodent-nya. Ia menyertakan tulisan: Ini motor kudu sungkem sama vespa saya waktu SMA dulu kali, ya… (diakhiri dengan emotikon tangan minta maaf, emotikon ”peace”, dan wajah senyum matahari).
Mereka juga takut menginjakkan kaki di rumah berlantai dua yang mewah milik dr. Tois: Segan melihat senyum matahari dr. Tois saat menyambut mereka datang melayat.
Beberapa orang memuji dan mengatakan: mantap, dr. Tois keren, disertai emotikon jempol. Ada yang berkomentar dengan maksud bercanda: Tidak kena zonasi, dok?
Aman, Pren. Kasudin-nya CS saya. (Disertai tiga emotikon favoritnya).
Lalu grup hening selama beberapa jam.
Jelang tengah malam, muncul komentar baru: Acara apa nih, dok? Pakai baju SMA segala?
Dr. Tois menjawab: Acara ulang tahun 17 BMW Chapter Jakarta, Pren. Sweet seventeen. Makanya pakai seragam SMA. (Tiga emotikon favorit).
Grup hening kembali.
Lalu teman yang sama bertanya lagi: Wow, mau turing kayanya nih bentar lagi pak dr. Tois pakai BMW. Pertanyaan ini tak dijawab hingga matahari muncul di pagi hari.
Baru menjelang pukul dua siang dr. Tois membalas: Belum dapat lampu hijaunya, Pren.
Setelah itu seseorang memposting undangan seminar bisnis syari’ah beserta alamatnya. Dr. Tois langsung membalas: Saya kenal pemilik gedung ini, nih. Beliau seorang pembalap di Sentul & Mandalika. Sukses terus Pren dengan bisnisnya. Tak lupa dr. Tois menyertakan emotikon jempol dan wajah tersipu malu.
Ya, pak dokter, umurnya 40 tahun tapi sudah jadi triliuner. Hadir ya? Iseng-iseng, hehe…
Maaf, Pren. Saya ada operasi di jam tersebut. Saya nonton beliau balapan saja, Pren. Kali ini tanpa emotikon.
Setelah itu grup hening kembali. (*)
Jimmy Anggara, Bekerja sebagai penerjemah. Tinggal di Jakarta. Cerita pendeknya pernah dimuat di berbagai media cetak dan digital.
sumber : kompas.id, 28 Mei 2025.
