“Nanti gigi yang dicabut, aku bawa pulang ya, Dok.” pesan Tara padamu.
Kau tertegun. Bocah perempuan di hadapanmu ini duduk dengan wajah riang. Sebelumnya, Tara meminta Bik Minah keluar dari ruang periksa.
“Bagian mana yang sakit?” tanyamu.
Bocah perempuan itu meringis, jarinya mendorong gigi seri tengah bagian atas hingga goyang. Sambil menahan sakit, ia kembali berkata, “Bisa kan Dok? Giginya dibawa pulang?”
“Saya periksa dulu ya,” katamu sambil tersenyum.
Kau pun mengambil sonde dan kaca mulut. Memperhatikan detail gigi bagian atas, dari kanan ke kiri. Amat teliti. Kau melirik wajahnya. Pancar harapan di tatap matanya timbul saat berbincang denganmu.
“Sakitnya sejak kapan?”
“Kemarin Dok,” ucapnya. “Bisa dicabut kan, Dok?”
“Gusinya bengkak dan ada lubang. Pasti suka makan permen ya?”
Tara tersenyum malu-malu.
“Saya kasih obat dulu ya!”
Bening di tatap matanya mendadak keruh. Ia mengatupkan mulut sejenak, wajah kecewa itu lahir seketika. “Kenapa nggak dicabut?”
Kaupun tersenyum sambil menggeleng, “Belum saatnya Fitara,”
***
Satu sore beberapa bulan yang lalu, di halaman belakang sekolah, Genta berpesan agar Tara merahasiakan apa yang dilihatnya. Ia jongkok menghadap kolam ikan. Tangannya tangkas mengeruk tanah. Kemudian meletakkan sebuah gigi di cekungan tanah itu. Sejenak Genta memejamkan mata. Tidak lama kemudian, Genta mengubur dan meratakan tanah di depannya seolah tak ingin orang lain tau kuburan giginya itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Tara polos. Sontak Genta kaget. Prosesi khusyuknya tiba-tiba buyar. Sambil menarik tangan perempuan itu, Genta berjalan dan berkata, “Gigi atas yang copot harus dikubur. Kalau gigi bawah harus dibuang ke atas.”
“Biar apa?”
Genta berhenti, lalu menoleh. “Biar peri gigi mengabulkan doa kita.”
Dua bulan kemudian, rapor semester satu dibagikan. Genta berhasil menjadi ranking satu di kelas. Tara diam-diam mendekati Genta. Tetapi belum genap pertanyaan keluar dari mulut Tara, Genta merapatkan ujung jarinya di bibir Tara.
“Ssstttss… ini rahasia kita berdua. Peri gigi mengabulkan doaku sore itu.” kata Genta dengan wajah berbinar.
Tara menceritakan kisah Genta pada Bik Minah. Di akhir ceritanya, Tara bertanya “Apakah peri gigi benar-benar ada, Bik?”
Bik Minah menangkap pandang mata Tara yang berbinar. Lalu menjawab, “Ada, Nduk,”
Sontak bocah perempuan ini teriak kegirangan. Bik Minah tentu tidak bisa mengatakan tidak. Apalagi mengatakan bahwa peri gigi hanyalah mitos belaka. Pancar mata Tara memperlihatkan kebahagiaan dan pengharapan yang besar. Awalnya, Bik Minah tidak mencurigai pertanyaan itu. Dan menganggapnya sebagai pertanyaan bocah polos belaka. Lambat laun, Bik Minah mulai menemukan kebiasaan baru dari putri majikannya. Tara lebih banyak makan makanan manis. Menghabiskan uang jajannya untuk membeli permen, es krim, dan berbagai jajanan manis lainnya.
Hal-hal semacam ini belum menimbulkan kecurigaan dalam benak Bik Minah. Hingga pada malam-malam tertentu, Bik Minah kerap menemukan Tara tertidur di kamarnya sebelum menggosok gigi. Bik Minah paham betul segala aktivitas Tara. Setiap Tara akan gosok gigi, ia meminta Bik Minah untuk menemaninya. Kemudian Bik Minah akan ikut ke kamar. Menceritakan beberapa dongeng atau mendengarkan keluh kesah Tara hingga tertidur. Beberapa malam terakhir berbeda. Tara kerap menutup kamar setelah makan malam. Ketika Bik Minah mengetuk pintu mengingatkan Tara untuk gosok gigi, perempuan paruh baya ini mendapati Tara sudah tertidur. Paginya, setelah Tara pergi ke sekolah, Bik Minah mendapati sampah permen di kamarnya.
***
Tara datang lagi ke klinikmu. Lagi-lagi ditemani Bik Minah—seorang perempuan paruh baya dengan rambut disanggul berpakaian kebaya desa. Terakhir kali Tara datang ke klinik, kau memberikan resep amoxicillin sirup untuk meredakan gusinya yang bengkak. Tidak lupa paracetamol sirup untuk berjaga-jaga jika timbul demam. Anak usia enam tahun memang rawan demam saat pergantian gigi.
Seperti sebelumnya, Tara meminta Bik Minah untuk keluar dari ruang periksa. Bocah ini duduk dan bertanya pertanyaan yang sama, “Nanti gigi yang dicabut, aku bawa pulang ya, Dok.”
“Lho, masih sakit giginya?”
“Iya Dok, sekarang gantian yang bawah,” Tara menunjuk giginya tanpa menyentuh.
Gigi itu tampak baik-baik saja. Tetapi, kau tetap menerapkan prosedur. Memeriksa gusi yang bengkak sebelumnya, lalu gigi lain. Hasilnya sama saja. Gigi susu seri bagian bawah ini masih masuk derajat satu. Belum bisa dicabut. Kau melihat dari kaca mulut, bengkak gusi di atasnya sudah sembuh. Sedangkan gusi gigi seri bawah tidak bengkak sama sekali. Kau diam sejenak mengamati wajah Tara yang penuh pengharapan.
Suatu pagi setelah Tara berangkat sekolah, Reno diam merenung mendengar penjelasan dari Bik Minah.
“Ini ketiga kalinya dalam sebulan, Tara minta diantar ke dokter gigi,” ucap pembantunya.
“Akhir-akhir ini Tara sering beli jajanan manis,” ucap Bik Minah hati-hati. Bik Minah tidak berani mengatakan kalau Tara sering lalai menggosok gigi. Apalagi menceritakan kalau setiap pagi Bik Minah kerap menemukan sampah permen berserak di kamar Tara.
Bik Minah hanya berani mengatakan kalau akhir-akhir ini Tara selalu meletakkan foto mendiang ibunya di sampingnya saat tidur. Seolah-olah ia sedang tidur ditemani ibunya.
Wajah Reno berubah sedih. Kantung matanya yang hitam seperti menahan sesuatu yang hendak tumpah. Putri semata wayangnya yang berusia enam tahun pasti merindukan sosok ibu dalam hidupnya. Sayangnya, Monica—istri Reno—meninggal saat Tara berusia tiga tahun. Tara tak mungkin bisa mengingat kenangan seperti apa yang pernah terjadi dengan ibunya. Padahal Reno paham betul, Monica begitu menyayangi Tara. Monica sempat memutuskan berhenti mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota S.
“Demi Tara, Mas,” begitu ucapnya kala itu.
***
Samar-samar, kau merenung dan merasa wajah Tara amat familier di benakmu. Sebelum bocah itu datang di klinikmu, kau merasa pernah bertemu dengan Tara di suatu tempat. Tapi entah di mana. Sekali waktu kau berusaha mengingat wajah Tara, meski kesibukan justru mengaburkan ingatanmu. Terlalu banyak wajah anak kecil yang datang padamu. Tetapi, bagimu wajah Tara seolah berbeda. Pandang matanya yang bening, ketulusan ucapannya yang penuh pengharapan, dan senyumannya seolah-olah menarikmu untuk mendekat. Menggugah perasaanmu untuk mengenal Tara lebih jauh.
Lamunan seperti ini kerap datang saat kau menunggu pasien selanjutnya. Dan sore ini, saat bayang wajah Tara kembali datang, perawatmu menyebut nama seorang pasien: Fitara Embun Pagi!
Dadamu terasa dihentak oleh benda tumpul. Seketika, wajah Tara muncul dari muka pintu. Wajah cerah dengan tatapan bening penuh pengharapan. Kali ini ia masuk sendirian.
“Lho, datang lagi? Masih ada yang sakit?” ucapmu sekenanya sambil berusaha meredakan gemuruh di dadamu.
“Katanya, seminggu lagi harus cek rutin,” jawab Tara dengan bibir yang dimanyunkan.
“Kalau sudah tidak sakit, enggak datang lagi juga enggak papa, Tara,” batinmu. Tetapi urung kau katakan. Hatimu berkata agar tidak mengatakannya, seolah kamu tahu perkataan itu bisa merusak harinya.
Kau memeriksanya sesuai prosedur. Gusinya sudah sembuh. Giginya yang goyang tidak tambah parah. Di akhir periksa, Tara meminta swafoto denganmu. Entah bisikan dari mana, kau sempat bertanya, “Tara sekolah di mana?”
“SD Pucuk Cemara, Dok,”
Pemeriksaan singkat itu memaksa ingatanmu bekerja lebih keras. Kau tersenyum mengantar Tara keluar dari ruanganmu. Sejenak berlalu, ingatanmu mengembara kejadian tiga bulan yang lalu. Kau pernah datang ke sekolah itu untuk program edukasi sikat gigi pada siswa kelas 1 dan 2.
***
Monica dikenal sebagai perempuan yang tangguh. Reno paham betul akan hal itu. Sewaktu kuliah, mereka pernah tergabung dalam satu kelompok tim pengabdian. Tak ada satu pun laki-laki yang berani mendekati Monica. Ia memiliki mata yang berbinar indah saat tertarik pada suatu hal. Mata yang ekspresif menangkap hal-hal yang menarik baginya.
Orang-orang pun paham, hanya dua hal yang bisa membuat Monica tertarik. Pertama gunung, lainnya buku. Dua hal ini kerap digauli mati-matian oleh laki-laki yang berniat mendekatinya. Meski akhirnya, mereka lebih tampak planga-plongo jika memaksakan obrolan dengan dua topik ini.
Semua tahu, teman laki-laki kampusnya patut dibuat minder oleh Monica. Perawakannya memang tidak terlalu tinggi. Tetapi tubuhnya padat berisi, khas tubuh seorang pendaki gunung. Selain itu, ia pandai bergaul dengan siapa saja. Kedekatannya dengan semua orang tidak serta merta membuat laki-laki mana pun jadi ke-ge-er-an. Mereka justru kerap terpesona dengan olah bicaranya. Bibirnya yang tipis seperti tidak bisa diam menangkap tiap arah pembicaraan. Tatap matanya yang berbinar indah membuat siapa saja serasa ditikam anak panah. Mereka akan salah tingkah atau sekadar memalingkan pandangan.
Di kelompok pengabdian yang beranggotakan sebelas orang inilah, Reno berada sebagai laki-laki pemurung. Laki-laki yang tidak banyak omong yang lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. Dan sesekali ditemukan merokok sendirian di teras rumah posko. Tapi, siapa sangka, pada laki-laki pemurung inilah Monica menaruh rasa.
***
Malam itu, kau dibuat sibuk oleh berbagai pesan WhatsApp dari Tara. Kau sempat memberikan kontak pribadimu pada Tara, sore tadi. Tidak lupa, kau pun berjanji akan membalas pesan WhatsApp bocah itu.
“Apakah Dokter percaya kalau peri gigi itu nyata?” Kau mengernyitkan dahi dengan pertanyaan Tara.
Pertanyaan itu mengantar ingatanmu berkelana ke masa silam. Sewaktu kau hanyalah seorang gadis kecil ingusan yang sedang berlatih naik sepeda. Saat itu kau menangis akibat jatuh dari sepeda. Bibirmu berdarah. Gigimu tanggal satu. Tanpa kau sadari, seorang teman laki-laki datang menolong dan menenangkanmu, “Sudah jangan menangis, gigi atas yang copot harus dikubur. Kalau gigi bawah dilempar ke atap rumah,”
Ucapan temanmu itu membuatmu diam, lantaran penasaran. Sambil sesenggukan, kau bertanya: kenapa?
Ia membersihkan pasir di tangan dan kakimu. Menuntunmu bangkit, lalu berkata, “Biar peri gigi datang nanti malam. Lalu, kamu bisa minta apa saja.”
“Apa saja?”
“Ya, apa saja bisa kau minta! Pasti dikabulkan!” ucapnya mantap.
Lamat-lamat, sebelum tidur malam itu, kau menitipkan doa. Besok, lusa, atau suatu hari nanti, kau ingin terus hidup bersama dengan teman laki-lakimu itu.
***
Sepulang dari klinik, Reno memperhatikan gerak-gerik anaknya. Laki-laki ini membelikan ponsel baru untuk Tara. Berharap anaknya tidak akan kesepian jika sewaktu-waktu Reno harus kerja lembur. Reno mengira Tara tengah merindukan sosok orang tua yang seharusnya menemaninya. Tapi apa lacur, posisi Reno sebagai kepala staf Operational Development di sebuah perusahaan konstruksi membuatnya sering kerja lembur.
Reno pun mengira ponsel baru yang dibelikannya berhasil menyingkirkan perasaan sepi di dada Tara. Beberapa kali, Reno melihat anaknya tersenyum-senyum sendiri saat membuka ponsel. Bik Minah juga memperhatikan raut bahagia di wajah Tara sejak mendapat ponsel baru dari majikannya.
Saking sayangnya pada ponsel barunya itu, Reno memergoki Tara tertidur di ruang tengah. Di depan TV yang menyala, bocah ini tertidur dan ponsel itu setia di sampingnya. Reno mendekat. Memperhatikan raut wajah malaikat kecilnya. Ia pun penasaran dengan sesuatu di dalam ponsel Tara. Gegas Reno mengambil dan membukanya.
Tiba-tiba dadanya berdegup kencang. Matanya menggenang melihat foto wallpaper di ponsel anaknya. Sebuah swafoto Tara dengan seorang perempuan berkaca mata yang mengenakan baju dokter di ruang periksa.
Perempuan itu, ya!
Tidak salah lagi, sangat mirip dengan wajah Monica, mendiang istri Reno.
***
Kalian semakin akrab. Tara kerap mengabarkan aktivitasnya, kau pun demikian. Tara pun bercerita akhirnya gigi susu seri bagian atas telah tanggal. Ia pun mengubur gigi itu di halaman belakang rumah. Kau senyum-senyum sendiri membaca pesan WhatsApp Tara. Seperti melakukan perjalanan ke masa kecil, kau melihat dirimu sendiri dalam diri Tara.
Suatu sore yang tidak kau duga. Tara kembali datang ke klinikmu. Awalnya kau kaget, nama yang dipanggil oleh perawatmu bukanlah Tara. Bocah ini membuka pintu ruang periksa, lalu memanggilmu dengan riang gembira.
“Lho? Tara? Gigimu ada yang sakit?” tanyamu sambil mengelus kepalanya.
Tara menggeleng, kemudian menoleh ke belakang. “Ayahku, Dok.”
Kau tidak sadar, seorang laki-laki berada di belakang Tara kini menatapmu. Sejenak kau beku. Mata kalian saling tatap. Tak ada lagi bahasa verbal tercipta. Wajah itu, tatap matanya, dan senyum hangatnya. Pantas, ya… pantas saja kau merasa begitu familier dengan Tara. Tatapan mata Tara, senyum hangatnya, sangat mirip dengan ayahnya.
Reno, laki-laki yang pernah menolongmu saat kau jatuh dari sepeda hingga gigimu tanggal. Laki-laki yang saat kau kecil mengatakan, “Sudah jangan menangis, gigi atas yang copot harus dikubur. Kalau gigi bawah dilempar ke atap rumah.”
Kau pun tersenyum, sambil mengingat-ingat doa yang kau panjatkan malam itu pada peri gigi. []
Ponorogo, Oktober 2024
Sapta Arif, pengajar sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Karya-karyanya telah tersebar di pelbagai media lokal dan nasional baik cetak maupun daring. Buku kumpulan cerpennya berjudul “Di Hari Kelahiran Puisi” dan “Bulan Ziarah Kenangan”. Berkomunitas di Sutejo Spektrum Center (SSC), menjadi bagian dari Booktube Indonesia, dan sebagai penjaga toko buku @jbb_bookstore. Bisa dihubungi melalui IG: @saptaarif.
sumber : kompas.id, 04 Apr 2025.
