Ini adalah hari kesepuluh kau mengekor di belakang adikmu. Ya, adikmu yang duduk di semester enam. Kadang kau memaksa ingin berangkat mendahului adikmu. Seperti pagi ini saat jarum pendek jam masih memeluk angka lima dan jarum panjang baru bergerak meninggalkan angka enam, kau sudah gegas keluar rumah. Kedua tanganmu seakan kokoh mendorong pintu besi rumahmu. Padahal, saat ini kau memasuki bulan ketiga puluh lima. Kau seakan tak memedulikan perutmu yang semakin membuncit.
Suara derit pintu besi terdengar membangunkan penghuni rumah membuat semuanya keluar. Ibumu dan adikmu menggelengkan kepalanya. Bi Mun juga ikut-ikutan di belakang mereka.
”Kakak mau ke mana sepagi ini?”
”Kampus.”
Adikmu berkacak pinggang. Tangannya membetulkan kacamatanya yang menuruni batang hidungnya. Sementara rambutnya masih awut-awutan. Ibumu tak kalah mengangkat kedua alisnya seperti tidak percaya dengan kelakuanmu akhir-akhir ini. Langkah adikmu memburu mendekatimu. Mulutnya merapat di kuping sebelah kananmu.
”Yang kuliah siapa? Aku ’kan?” suara adikmu begitu menekan dan ketus terhadapmu. Kau hanya bisa terdiam. Dan kau menyadari itu.
Kau mengerutkan jidatmu hingga tampak garis-garis yang menyerupai jerami kepanasan. Ibumu ikut memegang tanganmu, setengah menyeretmu untuk masuk kembali ke rumah.
”Masih pagi. Ayo masuk rumah lagi. Tutup pintu besinya.” Perintah ibu kepada Bi Mun.
Kau tak bisa mengelak. Kau mencoba untuk patuh. Adikmu ikut mendorong kembali pintu besi sampai benar-benar rapat.
”Kakak kenapa sih, semangat banget berangkat ke kampus. Kan aku yang jadi mahasiswanya juga. Lagian masuk kelasnya ntar jam delapan. Aku juga belom mandi.”
Kau mengangkat kedua ujung bibirmu, hingga barisan gigi putihmu bak Mutiara tampak rapi terlihat. Tangan kananmu mengelus perutmu yang buncit. Kau menghela napas dalam lalu melangkah menuju ke ruang tengah.
”Bawaan bayi, Ra.”
”Bawaan bayi … tapi harus kira-kira donk, kak,” Jawab adikmu yang mengekor di belakangmu.
”Tunggu aku siap-siap dulu, kak.”
Kau duduk di sofa persis di depan televisi yang sedang menyala. Berita pagi di sejumlah stasiun televisi mengabarkan panggilan darurat. Negara kita bisa terancam dengan tindak tanduk para petinggi politik. Kau meraih remot lalu mencoba mengalihkan pada stasiun TV lainnya. Acara gosip mulai mewarnai pagi yang menusuk kulitmu. Kau merekatkan mantel yang sengaja kau pakai pagi ini.
Tenggorokanmu terasa kering. Kau baru ingat. Rupanya kau lupa belum minum susu hamil. Kau teringat dengan pesan suamimu semalam, katanya ini anak pertama yang telah dinantikan selama lebih dari enam tahun, kau harus rajin minum susu dan asam folat agar kebutuhan vitamin ibu hamil terpenuhi.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Bi Mun datang dengan tergopoh-gopoh memberikan segelas susu hamil rasa strawberry. Kau sengaja menyimpan stok tiga varian di rumah agar kau tidak bosan. Bi Mun sendiri sudah tahu jadwal memberikan susu kepadamu. Selama kau hamil, kau sengaja tinggal di rumah ibumu sampai bayi di dalam perutmu lahir. Kata suamimu, lebih tenang kau ada yang menemani sehari-hari. Sebelum suamimu benar-benar bisa pindah kerja ke kota yang kau tinggali.
”Terima kasih, Bi.”
Bi Mun menganggukkan kepala setelah menyodorkan segelas susu, kemudian berlalu meninggalkanmu yang asyik menonton berita. Hampir saja susu yang baru kau teguk kau muntahkan. Mirisnya, begitu kau mendengar berita pembuangan bayi yang tak berdosa yang dikabarkan salah satu stasiun televisi.
”Apa dia tidak punya hati pake buang-buang bayi segala. Aku susah payah mengikuti program bayi tabung dan menunggu penantian hampir enam tahun demi kehadian seorang anak. Bahkan aku rela keluar bekerja dari perusahaan.” Ucapmu tiba-tiba.
Kau membanting remot TV hingga terdengar suara prak mencium lantai. Ibumu memburu dengan napas yang ngos-ngosan dari arah belakang. Tatapannya seakan mempertanyakan apa yang terjadi denganmu.
”Apa yang terjadi, Zie?”
Kau tak menjawab, hanya telunjukmu yang bergerak tepat menujuk ke arah layar televisi yang masih menyala.
”Lihat, Mah. Pembuangan bayi. Lagi dan lagi, apa ibunya tidak memiliki hati nurani.””Astagfirullah ….,” ucap ibumu sambil mengelus dadanya.
Bawaan bayi, Ra.
Ibumu meraih susu yang ada di tanganmu. Kau dipapahnya agar kembali duduk di sofa.
”Baiknya kau jangan sering-sering menonton berita seperti itu. Tidak baik bagi ibu hamil. Itu mungkin bayi yang tidak memiliki bapak.”
Ibumu mengelus-ngelus perutmu. Lalu menempelkan kedua telapak tangannya di perutmu. Bibirnya komat-kamit merapalkan dedoa. Tatapanmu kau alihkan kepada ibumu yang khusyu dengan ayat-ayat suci yang dibacakan.
”Matikan saja televisinya,” perintah ibumu saat selesai membaca doa.
Kau mencari remot televisi yang hendak kau matikan. Namun kau baru tersadar, remot televisi sudah membuyar terpecah tak membentuk di lantai. Kau dan ibumu saling menatap.
”Lain kali jangan kau ulangi lagi. Emosimu jadi tidak terkontrol. Sewaktu hamil perbanyaklah membaca doa dan ayat suci. Berapa hari kau tak pernah menyentuh kitab suci?”
Ibumu melangkah menuju televisi dan memijit tombol yang berada di bawahnya. Televisi mati seketika. Kau memikirkan kata terakhir yang ibumu ucapkan.
”Kak. Cepet habisin susunya ayo kita berangkat.”
Adikmu menyembul tiba-tiba menuruni undakan anak tangga dari lantai dua. Di tangannya sudah menenteng tas dengan buku-buku didekapnya. Seketika kau meneguk susu yang teronggok di meja, kau menghabiskannya hingga tandas. Kau raih tasmu di atas meja, lalu mengekor di belakang adikmu.
”Saat di kampus, kakak jangan banyak tingkah. Apalagi cari perhatian dengan teman-temanku. Hari ini banyak tugas. Lagian kenapa si kakak ngidamnya pengen ngikuti aku ke kampus mulu.”
”Memang itu keinginanku, gitu. Aku juga kalau bisa protes. Udah aja ngidamnya pengen jalan-jalan ke Paris atau ke Pluto sekalian. Kenapa juga aku pengen ikut ke kampusmu. Buang-buang waktuku.”
Kau menundukkan kepala menatap perutmu. Kau merasa bersalah dengan sikapmu selama ini. Tentu adikmu tidak mau terus kau buntuti. Hampir setengah bulan. Mungkin adikmu risih. Tapi mau bagaimana lagi. Kau sangat bersemangat setiap pagi bangun dan bersiap hendak ke kampus. Ini benar-benar di luar nalar dan keinginanmu. Rasanya seakan ada tenaga baru yang memberi kekuatan. Padahal biasanya kau lebih suka membuat roti di rumah.
Demi anak dalam kandungan, apa yang kau inginkan semua kau lakukan. Tapi beberapa temanmu banyak juga yang mengolok-olok. Mana ada ngidam pengen ke kampus melulu. Memang bayimu nantinya mau jadi profesor apa? Atau begitu lahir mau langsung ngajar mahasiswa, atau juga begitu lahir mau langsung di wisuda?
Ucapan teman-temanmu di grup WhatsApp tak kau ambil pusing. Namanya juga bawaan bayi.
”Selesai kelas, kakak jangan ngikuti aku dengan teman-temanku, ya.” Ucap adikmu saat memarkirkan kendaraan roda empat di kampusnya.
Saking sudah hapal menuju kelas di mana adikmu belajar. Kau meninggalkan parkiran lebih dahulu. Teman-teman adikmu menyapamu dengan menyunggingkan senyum terbaik mereka.
”Hai bumil?”
Kau cipika-cipiki dengan teman sekelas adikmu seakan tiada jarak dan segan di antaramu dan mereka. Kau menerobos barisan laki-laki yang sedang nongkrong depan kelas sebelum dosen masuk. Mereka pun menyapamu seakan sudah kenal lama dan menganggapmu seperti mahasiswa yang lain.
Hai bumil?
Kau benar-benar mengeluarkan buku. Ya, tepatnya buku catatan. Kau tanpa ada beban terus menerus mengikuti perkuliahan layaknya mahasiswa yang lain. Awalnya kau sempat ragu mengikuti keinginan yang tiba-tiba ingin mengikuti adikmu ke kampus. Tapi, keinginan itu semakin kuat dan kau menjalani hingga tak terasa memasuki minggu terakhir lahiran.
Di kala mahasiswa lain mengerjakan tugas. Kau mengerak-gerakan tanganmu melukiskan tokoh dalam drama korea. Tanganmu ternyata lihai mengerakkan ujung pensil mencipta serupa dengan aslinya.
Ketika perkuliahan selesai, kau pun melipat kertas, lalu keluar kelas. Kau tidak mengikuti adikmu dengan temannya sebagaimana pesannya saat di mobil. Kau berjalan kaki menuju gerbang kampus. Kau tak peduli dengan lirikan mahasiswa yang lain. Kau menahan beban perutmu yang semakin berat. Kedua matamu melihat ke kanan dan kiri. Kedua ujung bibirmu terangkat. Kau menemukan apa yang kau inginkan.
”Pesan dua bungkus, Mang.”
Penjual dengan gerak cepat membungkus bahan buah-buahan muda yang membuat air liur terangsang. Kau mencari tempat yang teduh. Di bawah pohon ketapang, kau menikmatinya. Potongan buah mangga muda, timun, jambu air, nanas, dan kedondong yang dikucuri dengan bumbu rujak petis yang pedas dan manis.
Bulir bening mulai membintik di wajahmu. Sesekali kau seka dengan punggung tanganmu. Setengah terisak kau menikmati rujak petis itu. Kau sejenak merasa terbebas dari omelan ibumu di rumah dan kau juga tak perlu mendengarkan ucapan sumpah serapah dan kekesalan adikmu yang tak mau kau buntuti terus. Satu cup plastik rujak petis dengan bumbu yang super pedas dan manis telah beralih ke dalam perutmu. Kau melanjutkannya pada cup plastik yang kedua. Belum setengahnya kau habiskan. Sepertinya perutmu mulai terasa mulas. Terasa melilit dan mulas yang tak biasa semakin menjadi. Keringat semakin deras mengucur di sekujur tubuhmu. Kau tak tahu harus meminta bantuan siapa. Adikmu entah kemana dengan teman-temannya. Kau mulai waswas. Jangan-jangan ….
Lia Laeli Muniroh. Penulis kelahiran Garut yang saat ini menjadi pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di MA Plus Al Mujammil Garut, Jawa Barat. Pegiat literasi dan penikmat sastra. Bergiat di komunitas menulis NIMU CLUB. Tulisan cerpennya tersebar di berbagai buku antologi dan media massa nasional seperti: kompas.id, Radar Bromo, Radar Kediri, Radar Banyuwangi, Sastra Riau, Suara Merdeka, Idestra, Manglé, dan Cendana.com. Memenangkan berbagai lomba menulis sastra. Buku yang sudah ditulisnya antara lain: Anak Ratau Jadi CEO (Memoar, 2022), Warisan Cinta Penjerat Asa (Novel, 2023), dan Dari Lelah hingga Berdusta (Kumcer, 2023) serta 53 buku antologi berbagai genre.
sumber : kompas.id, 27 Des 2024.
