Pagi pada sebuah hotel baru akan terasa saat memasuki pintu restoran. Udara dipenuhi aroma masakan yang berebut menghampiri indera penciuman. Namun, peristiwa memperoleh omelet setiap pagi di hotel mana saja punya cerita yang sama, selalu perlu memesan dan menyiapkan waktu untuk antre. Tapi hotel ini, yang berlokasi cukup dekat dengan sirkuit balap pertama di Indonesia, juga menawarkan suasana lain. Taman terbuka di samping restoran terlihat asri dari kaca jendela. Pohon dan kembang tertata apik dan di pinggir kolam kecil tampak dua ekor merpati.
Sarapan bersama mereka diawali sebuah kebetulan oleh rekan satu meja si lelaki, yang seorang vegetarian. Karena ia tak keberatan, piring mereka lantas bersebelahan. Pilihan menu yang mirip, dibaluri sedikit aksen Eropa. Saat ia mulai duduk, lelaki ikal itu dan temannya sedang mendiskusikan perkembangan politik terkini yang digelar dalam sebuah skema pertandingan catur yang dikenal sebagai Sistem Swiss. Itu sejenis permainan tujuh babak dengan aturan khas berpikir cepat dalam waktu maksimal 15 menit.
Laga seperti ini memang menggunakan pengatur waktu, dan karena tak boleh ada bantuan dari luar arena, pemain sedari awal harus memiliki peta yang lengkap mengenai semua posisi. Nilai dihitung dari penjumlahan beberapa sesi pertandingan. Bisa menang, juga bisa seri. Pertandingan berikutnya untuk mereka yang jumlah nilainya berdekatan.
Katanya, segala hiruk-pikuk sekitar arena tak ada artinya. Transaksi dan negosiasi berlangsung cepat, dan tak ada peluang dapat bantuan dari luar. Mereka yang tak siap pasti harus mengalah.
”Petruk (1) kalah nilai tiga kali. Draw untuk Papua (2), karena gencarnya isu revisi menutup pemberitaan kerusuhan.”
”Setuju, tapi benarkah tidak ada yang bisa dilakukan untuk menambah nilai?”
”Sekuelnya cepat, Bung. Menurutku ada sih. Pura-pura keluarkan borgol, biarkan si Stalin Kecil mencari jalan keluarnya dan gunakan kredo milik Don Corleone, ‘Aku akan memberikan penawaran yang tak bisa ditolaknya’ untuk si Fulan….”
”Mungkin dikerjakan. Tapi kenapa tidak terjadi, Bung?”
”Timnya tidak siap. Ibarat kata, di situ lebih banyak yang suka makan dengan cara Eropa, selalu ingin memulai dengan makanan pembuka, padahal lawannya terbiasa dengan mi pangsit, tak enak kalau sudah tak panas lagi. Ah, maaf…. Salahku. Kau penikmat sayuran belaka, tak mungkin paham yang kumaksud.”
”Begini, aku mungkin bisa bantu sedikit soal si Little Stalin dari Wallacea (3). Dia bisa jadi kartu truf untuk meminta perhatian si Pelanggar Kode Etik (4). Tetapi alasan sebenarnya karena saya hanya penonton, tidak ada yang mengajak masuk tim pemain. Sistem Swiss, penonton tidak boleh ikut main. Bha-ha-ha….”
Meja makan restoran kadang tak begitu berbeda dengan sebuah kolam di tengah taman kota. Tak penting di bagian mana kau melempar batunya, riaknya bisa bergerak ke mana saja. Tanpa peringatan apa-apa, si gadis sudah terlibat dalam percakapan cepat itu.
”Sering capek sih…. Rapatnya sering dini hari… meski di sana masih malam.” Itu soal tantangan dalam menjalani profesi menariknya yang melibatkan komunikasi lintas benua.
”Aku punya kawan menemukan cintanya seorang berdarah Eropa, lantas ia pindah mukim ke Kanada. Kini sebuah pertaruhan lainnya mengharuskan mereka bergeser ke Amsterdam. Waktu berjumpa baru-baru ini, ia mengaku ‘sulit’, katanya, ‘untuk menulis sastra dalam bahasa Indonesia saat kau sedang studi mendalami literatur dalam English. Sementara itu, katanya, ’kau sedang belajar bercakap dalam Belanda agar akrab dalam keluarga….”
Sebenarnya si lelaki masih ingin menambah penjelasan, tapi kehalusan intuisinya patut diberi nilai sembilan, katanya, ”Well… ya, benar, itu sering bikin mumet. Struktur berpikir menentukan bahasa, atau mungkin sebaliknya, ya. Perlu kelihaian untuk menyesuaikan itu. Sering salah juga. Amerika, Eropa, tak sama. Asia, Afrika, itu dunia yang berbeda.”
Sarapan masih terus berlanjut, seluruh ketidakpastian sedang berseliweran di udara mencari cara untuk mewujudkan dirinya. Yang pasti adalah si lelaki kini menatap seluruh bagian wajahnya, atas dan bawah. Entah ia.
Sekuelnya cepat, Bung. Menurutku ada sih. Pura-pura keluarkan borgol, biarkan si Stalin Kecil mencari jalan keluarnya dan gunakan kredo milik Don Corleone, ’aku akan memberikan penawaran yang tak bisa ditolaknya’ untuk si Fulan….
***
Pagi itu, masih di meja sarapan. Setelah ia menyebut ancar-ancar alamat tempatnya tinggal, sebenarnya si lelaki telah berpikir meminta izin darinya untuk mengantarnya pulang. Tak begitu peduli, meski menangkap ada semacam peringatan tertentu yang sedang dikirimnya saat menyebutkan alamat rumahnya. Tapi berikutnya ia malah mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dan menarik mundur peluang yang tadi secara kentara dibukanya sendiri.
”Aku mau mampir ke kantor dulu.”
Tak jadi. Dalam kereta antarkota siang itu, si lelaki merenung tentang hutan, sungai, dan laut. Ia mengingat dengan baik pagi yang indah di atas langit Sentani saat ufuk sedang merah. Titik-titik bening embun yang beringsut di kaca jendela pesawat dan hamparan hijau rimba yang luas membentang. Masih tersimpan dalam benaknya gelondong-gelondong kayu mengawali petualangan dari sekitar Boven Digul mengaliri sungai besar dan berhenti di muara tak jauh dari Merauke, tempat perusahaan-perusahaan kayu raksasa berkantor. Dari sana, jika lolos, gelondong-gelondong itu bisa melanglang buana ke mana saja sejauh laut lepas. Sungai-sungai akan sampai ke muara, seperti juga kereta yang sudah jelas tujuannya.
”Asem!” Gerutu si lelaki dalam hati.
Kiranya dia sedang berhadapan dengan tipe yang pandai mengikuti arus, tapi tahu persis yang diinginkannya. Tak harus disesali. Untuk alasan kebijaksanaan, tak siapa pun bisa memaksa yang tak ingin karena tak ada gunanya untuk masa depan. Ia melewatkan suatu kesempatan besar yang mungkin tak akan dijumpainya kembali dalam waktu segera.
***
Mungkin saja lelaki itu telah disesatkan oleh sesuatu. Sampai hari ini chat yang dikirimnya kepada W Mabelle tak jua dibaca.
Seseorang baru saja mengabarkan kepadanya cerita tentang perjalanan. Dengan memberanikan dirinya, si lelaki membagikan kepada dia beberapa kisah tentang sungai. Sungai pertama dari tembang lama Marry Sinclair yang pernah dirilis kembali oleh The Corrs (5) (meski yang ingin dibagi ialah soal keteguhan hati pilot Amelia Earhart dan ekspedisinya). Lainnya dari novel terkenal karya sastrawan Vietnam, Duong Thu Huong. (6) Apalagi yang bisa kita bagikan untuk mereka yang sedang berjuang menuju sesuatu?
Saat itu pun tiba. Ia telah membaca chat-nya. Sebuah undangan konferensi internasional via zoom meeting terkirim beberapa saat lalu sebagai balasannya. Meski belum memutuskan hadir, disapanya si gadis. Sambutannya riang.
Lantas sebuah jeda panjang membentang.
Hal-hal berlaku seperti biasanya. Seperti pagi yang pasti datang walau matahari tak terbit. Seperti cahaya yang tak mampu menjangkaumu karena kau punya sebuah bilik rapat tempat bersembunyi. Seperti orang-orang yang sewajarnya tak perlu bercakap kalau tak ada keperluan dalam waktu-waktu dekat. Ada hal-hal yang tak perlu diburu karena semua hal sudah ada waktunya masing-masing. Waktu ibarat kupu-kupu yang berpindah dari kuntum kembang mekar ke kuntum lain. Adakalanya waktu membuka sesuatu, kali lain ia menutup sesuatu.
***
Karena cerita ini, yang baru saja didengarnya dari seseorang, si lelaki masih memikirkan kemungkinan melanjutkan rencana naik gerbong kereta yang sama dengannya. Mungkin kau pun bisa mempelajari sesuatu dan memberi tahu si lelaki apa yang kau temukan.
Jika setuju, itu berarti kau takkan menaiki gerbong satu khusus perempuan, beralih tempat ke gerbong lain tanpa narasi afirmasi.
Mungkin di gerbong itu tak ada lagi kursi kosong tersedia, dan kau akan berdiri berhadapan selama puluhan kilometer jarak sambil bercakap dan melempar gurau samar dengannya. Mungkin saja ada kursi kosong, dan dia menawarimu duduk sambil berdiri memandangmu dengan datar saja sepanjang perjalanan. Kau tak berharap ia mengeluarkan kata.
Mungkin pula keadaannya terbalik. Engkaulah yang sedang berdiri tanpa memandang ke arahnya, meski ia sangat ingin bertatapan denganmu, mencari tahu sesuatu, menaksir-naksir sesuatu di kedalaman matamu.
Apa pun itu, kau dan dirinya sedang bermain simulasi membangun tujuan yang sama. Melepas dan memeluk harapan masing-masing, menyepakati bagaimana hal-hal sebaiknya dikerjakan. Bagaimana mungkin kau melewatkan kesempatan seperti itu?
”Aku hanya menghindari kemungkinan berangkat ke sebuah tujuan bersama orang lain. Tak ada gunanya. Itu takkan pernah berakhir bagus.”
”Bagaimana bisa?”
Kau luput soal satu hal. Dia sedang mengajakmu berlatih. Semua yang patut dicoba menjadi mungkin tanpa ada kata salah. Karena kalian sedang belajar….
”Karena setelahnya, semua menjadi tak menantang lagi. Aku dan dia lantas menjadi bagian yang punya tugas masing-masing.”
”Mengapa kau mengira dia akan membiarkan itu terjadi?”
”Itulah yang biasanya terjadi.”
”Kau luput soal satu hal. Dia sedang mengajakmu berlatih. Semua yang patut dicoba menjadi mungkin tanpa ada kata salah. Karena kalian sedang belajar….”
”Kata-kata bagus. Sudah pasti itu kau dapat darinya.”
”Wamena (7), Sayang….”
Mereka yang pandai berkomunikasi pasti jauh lebih berhasil untuk bersekutu. Orang-orang cenderung suka bermain bargain untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Tapi dunia memberi tahu kita untuk selalu bicara concern saja, dengan begitu semua jadi lebih mudah.
Kekurangan dari mereka yang telah berpengalaman ialah karena mereka mempelajari sesuatu yang akan terus mereka warisi. Kecuali dia menyadari perlu mencari sebuah jalan keluar lain untuk meninggalkan masa lalu saat sedang becermin. Becermin memberi peluang untuk memperoleh gambaran, sebuah kebalikan atau bahkan bisa melengkapinya.
***
Baik, biarkan aku tutup cerita yang sudah pasti belum selesai ini dengan mengingatkan hal berikut pada kalian. Dalam cerita seperti ini, kau harus membiasakan berpikir bahwa mungkin saja si lelaki masih menimbang tiga chat lain yang belum dibaca. Seseorang dari mereka tidak membacanya, bisa saja karena tidak tertarik. Seseorang lainnya menunda membaca chat yang dikirim lelaki itu, sedang menunggu saja cerita bergulir karena merasa itu lebih pantas. Dan chat terakhir, yang itu untuknya.
Abepura-Papua, 2021
Catatan:
1 Petruk adalah nama tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa. Dalam politik dikenal ungkapan Petruk dadi raja yang kembali populer saat Joko Widodo terpilih sebagai presiden Indonesia.
2 Saat Revisi UU KPK terjadi pada 2019, kerusuhan sedang terjadi di Manokwari menyusul mencuatnya perlakuan rasial yang menimpa mahasiswa asal Papua di Surabaya.
3 Little Stalin adalah julukan untuk seorang politisi dari pulau kecil di sekitar Wallacea. Stalin adalah pemimpin Uni Soviet pengganti Lenin, seorang politisi kelahiran Georgia, sebuah wilayah kecil yang memiliki aksara dan kebudayaan sendiri, terapi pernah keluar-masuk menjadi wilayah Rusia. Sementara Wallacea adalah nama sebuah area yang berasal dari nama Alfred Russel Wallace, seorang naturalis asal Inggris, sebagai rekan-penemu Teori Evolusi bersama Charles Darwin. Area Wallacea mulai dari Lombok hingga sekitar Kepulauan Maluku, termasuk Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, dan Kepulauan Maluku.
4 Ketua KPK Firli Bahuri sebelum dan setelah terpilih disebut melanggar Kode Etik saat menjabat Direktur Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pemilihan pimpinan KPK diawali oleh kontroversi Revisi UU KPK.
5 Lagunya berjudul ”No Frontiers”, dimulai dengan lirik ‘If life is a river.’
6 Menembus Mimpi Hampa terjemahan Landung Simatupang, punya ungkapan menarik soal arus sungai sejarah dan para pemimpi.
7 Wamena berasal dari nama sebuah tempat di Tanah Papua. Salah satu titik penting wacana yang berkait dengan isu kemerdekaan Papua (West Papua).
Aravayana, asal Bima dan sering melakukan perjalanan lintas pulau. Aktif di Garis Wallacea, sebuah komunitas kekerabatan budaya beralamat di Mataram, Lombok. Beberapa cerita karyanya pernah dimuat Media Indonesia, NUSA Tenggara, Lombok Post, tabloid Nova dan Detik.com.
sumber : kompas.id, 01 Nov 2024.
