Cerpen : Tak Ada Laki-laki di Rumah Kami oleh Iin Farliani

Sudah berhari-hari dari rumah pertama terdengar bunyi hantaman benda keras yang bertubi-tubi. Terdengar pula suara-suara melengking yang menyakitkan telinga. Orang-orang yang tinggal di sana sedang membangun atap untuk sebuah toko yang menghadap langsung ke jalan.

Lelaki paruh baya dan lelaki muda secara bergilir menaiki tangga kayu. Mereka saling berbagi tugas untuk menata letak genteng-genteng pada atap. Rumah pertama itu selalu dalam keadaan hiruk-pikuk. Jika masuk ke pekarangannya akan tercium bau asap rokok yang sangat kuat.

Suasana berbeda tampak di rumah kedua yang berada di sebelah rumah pertama. Terdengar dari rumah kedua suara ayam berkotek, merebut sisa nasi dan sayur yang menyebar di halaman. Suara air yang mengucur dari keran. Ada aroma sabun cuci yang menguar. Terlihat tiang-tiang jemuran yang digantungi seprai bermotif bunga-bunga, gaun dalam keadaan basah yang tampak berat pada bagian rendanya, baju-baju katun, celana dalam dan tali bra yang menyembul dari lipatan kerut baju tiap kali angin mengayun-ayunkannya.

Fani selalu malu untuk menjemur pakaian dalam secara terang-terangan. Ia mengira siapa saja bisa melongok dari tembok dan menyaksikan apa yang terhampar di halaman. Ia takut jemuran itu dilihat oleh laki-laki meski di rumahnya tak ada penghuni laki-laki.

”Tak ada laki-laki di rumah kami,” jawab Fani ketika seorang pemuda bertanya mengapa selalu Fani yang mengambil galon air dari warung dekat rumahnya. Pemuda itu mengatakan galon itu terlalu berat untuk tubuh Fani yang kurus dan kecil. Alangkah lebih baik kalau ayah Fani atau mungkin saudara lelakinya yang bertugas mengambil galon itu.

Tak ada laki-laki di rumah Fani. Tak ada bunyi gergaji yang bergesekan terus-menerus seperti di rumah pertama yang para lelakinya selalu sibuk membangun sesuatu. Fani teringat percakapan di warung tadi, mirip seperti pengalaman ibunya ketika mengangkut tabung gas, lalu ditanya oleh tetangga, ”Mengapa suami Ibu tidak membantu?”

Ibu Fani selalu menjawab, suaminya pergi merantau ke tempat yang jauh. Di sana ia membajak tanah dan berladang. Waktu kembali tak bisa ditentukan karena suaminya perlu waktu cukup lama untuk memanen semua hasil dari ladang itu.

Tak ada laki-laki di rumah kami.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu datang kembali meski Fani, Ibu, dan Bibi Eli kerap berpindah-pindah rumah. Seandainya kami memiliki rumah sendiri, pikir Fani. Fani sering membayangkan ia menanam banyak bunga di halaman kepunyaan sendiri.

Hari itu Fani dan Bibi Eli hendak membakar tumpukan sampah di gundukan tanah depan gerbang. Fani berpendapat sisa gundukan tanah itu lebih baik digunakan untuk menanam bunga. Jika ada bunga-bunga, pemandangan di depan gerbang tak akan kering kerontang seperti sekarang.

”Hush! Ingat. Di sini kita cuma ngontrak. Nanti kalau kita menanam bunga, besok-besoknya mesti pindah lagi. Jadi percuma saja repot-repot menanam bunga,” kata Bibi Eli.

Tanah di depan gerbang itu tetap dijadikan tempat pembakaran sampah. Sampah-sampah rumah tangga dimasukkan masing-masing ke dalam kantong hitam. Lalu tiap kantong akan diletakkan berjajar di tanah depan gerbang itu.

Fani melihat Bibi Eli berjalan cepat-cepat ke arahnya sambil menjinjing kantong penuh sampah di tangan kanan dan kiri. Air menetes dari lubang kantong, menguarkan bau anyir. Tulang dan kepala ayam, sayuran basi, menyembul di puncak gundukan sampah. Pemandangan itu membuat Fani menyadari betapa sulitnya mempunyai pekarangan bunga.

Bibi Eli telah menuangkan minyak tanah di atasnya, lalu disusul bunyi korek api. Dengan cepat api menjalar membakar kantong-kantong sampah itu. Asap tebal membubung tinggi. Sebagian asap menyelimuti pekarangan rumah dan meninggalkan bau apak pada jemuran yang lupa diangkat. Fani memandang ke atas. Bukan asap rokok dari pekarangan di rumah pertama yang kini terhirup di hidungnya, melainkan asap sampah itu. Keduanya sama saja membuat dada sesak, kepala pusing, dan perut mual.

”Ini hari ulang tahunmu. Kau semestinya bersantai saja,” kata Ibu ketika Fani menawarkan diri untuk membantu Ibu dan Bibi Eli. Mereka duduk melingkar dengan talenan dan nampan besar; memotong banyak sekali sayur dan menguliti paha-paha ayam yang empuk. Fani mengatakan tak apa-apa. Hari ulang tahun atau bukan, semua sama saja. Ia tetap harus membantu.

”Besok Bibi tidak ikut berjualan. Aku ingin mengajakmu ke pantai. Pantai yang cukup jauh.” Suara Bibi Eli terdengar riang. Tangannya kini penuh lemak dan urat ayam. Bibi Eli membisikkan sesuatu, ”Ada rahasia yang ingin kusampaikan padamu. Tapi, tidak di sini. Nanti ibumu marah.”

Sebelum tidur, Fani mencoba membuka jendela kamar. Melalui cahaya lampu kuning samar, ia bisa melihat sebuah lorong yang kini telah bersih dan di bawahnya ada beberapa keramik yang baru dipasang.

Fani menutup jendela. Ia bersyukur lorong yang bakal menjadi kamar itu akan ditempati anak perempuan tetangganya yang baru berusia sebelas tahun. Ia senang karena anak tetangganya itu bukan anak laki-laki sehingga ia tak perlu khawatir kalau misalnya keributan akan terjadi dan menembusi dinding tipis antara lorong yang akan menjadi kamar anak tetangganya dengan kamar Fani sendiri.

Beberapa bulan lalu tiap Fani membuka jendela, pinggiran jendela selalu terantuk barang-barang dalam tumpukan di lorong itu. Lorong itu mulanya digunakan untuk menampung barang-barang rongsokan, seperti sepeda roda tiga, televisi rusak, ban renang, kaleng-kaleng cat, radio rusak, dan barang bekas lainnya.

Di awal menempati kamar ini, Fani selalu merentangkan rapat-rapat gorden agar tidak melihat pemandangan barang rongsokan itu. Kadang-kadang ia menangis mengingat kamar-kamar dari rumah kontrakannya yang terdahulu. Di kamar-kamar sebelumnya, ia masih bisa melihat pemandangan halaman melalui jendela kamar tidur. Tapi, di rumah ini, bila mencoba menguakkan jendela kamar sedikit saja, matanya langsung tertumbuk pada pemandangan barang rongsokan itu.

Fani menggerutu tentang betapa sulitnya memiliki pekarangan yang indah. Namun, segera saja ingatan akan Ibu dan Bibi Eli yang begitu letih mengangkut barang tiap kali mereka berpindah-pindah rumah membayang di benaknya dan membuatnya tak lagi terlalu sering menangisi pemandangan di luar jendela kamarnya.

Suara ketukan pintu terdengar. Ibu dan Bibi Eli masuk membawa selusin donat dalam kotak dengan lilin menyala berdiri di tengah-tengahnya.

”Selamat ulang tahun, Fani. Maaf baru sekarang merayakannya,” kata Ibu sambil mengecup kening Fani.

Bibi Eli mengingatkan perayaan ulang tahun akan dirayakan besok pagi di pantai. Pantai mana? Pantai rahasia. Cukup jauh dari sini. Ibu tak bisa ikut. Pesanan nasi ayam dari para pelanggan mesti diselesaikan besok. Hanya Bibi Eli dan Fani yang akan pergi.

”Semacam piknik berdua,” kata Bibi Eli sambil mengedipkan mata.

Selamat ulang tahun, Fani. Maaf baru sekarang merayakannya.

Pantai yang mereka datangi letaknya di sebuah teluk yang begitu sunyi. Jarak jalan raya dengan dinding pembatas pantai cukup dekat. Orang bisa menyeberang dengan mudah dari satu sisi ke sisi lainnya dan tibalah mereka langsung berhadapan dengan laut. Di sana-sini ada pohon bakau. Ombaknya tenang dan kecil.

Fani sudah lama tak melihat laut. Kesempatan ini sangat langka. Mereka mengambil beberapa foto. Topi jerami Bibi Eli berkali-kali terbang dari kepalanya. Mereka tertawa-tawa. Berlari mengejar topi yang menggelinding ke arah laut, menggali kerang dari pasir, dan membiarkan jari-jari kaki dijilati ombak.

Fani teringat sesuatu. Tentang rahasia yang ingin disampaikan Bibi Eli. Rahasia apa gerangan? Bibi Eli terdiam. Senyum di wajahnya lenyap.

”Ayo, kita berjalan beberapa langkah lagi. Menuju rumah kerang itu.” Bibi Eli menunjuk rumah berwarna biru yang berada di dekat laut. Dihubungkan oleh jembatan, mereka berjalan ke sana mencari Pak Syam. Seorang kuli bertubuh kurus dengan kulit cokelat menyambut mereka, ”Pak Syam sedang tidak ada. Dari kemarin pergi. Katanya menyelesaikan urusan di kota.”

Bibi Eli mengangguk mendengar kata-kata kuli itu. Kedatangan mereka mencuri perhatian sebagian pekerja yang sedang beristirahat.

”Cari Pak Syam? Seharusnya membikin janji dulu,” kata mereka.

Tentu saja lebih baik membuat janji dulu, pikir Bibi Eli. Tapi sudah berapa lama sejak peristiwa terakhir yang menggegerkan di tempat ini? Sudah berapa lama peristiwa itu berlalu?

Bibi Eli mengajak Fani berjalan-jalan ke sekeliling rumah kerang itu. Mereka masuk ke sebuah bangunan semi-indoor. Di dalamnya ada bak-bak. Pipa-pipa terentang di sepanjang lantai yang digenangi air. Sesekali kaki mereka tersandung pipa dan hampir terpeleset.

”Hati-hati,” seru Bibi Eli. Mereka berjalan mengelilingi bangunan itu lalu mencapai pintu keluar di ujungnya.

”Di sini tempat kultur plankton. Pakan kerang,” kata Bibi Eli.

Bibi Eli merasa sedikit gelisah. Tengah hari, Pak Syam belum kembali. Semestinya ia tak perlu bergantung pada Pak Syam untuk menjelaskan semua ini. Toh Fani sudah beranjak dewasa. Ia pasti akan mengerti. Tapi Bibi Eli selalu merasa Pak Syam akan menjelaskan segala sesuatunya dengan baik. Ia lelaki yang pintar menempatkan kata-kata. Kritikan tajam pun bila diucapkan oleh Pak Syam tak akan sampai melukai lawan bicaranya karena ia selalu tahu cara penyampaian yang tepat.

”Di sini tempat terakhir ayahmu dan ibumu bertemu.” Suara Bibi Eli terdengar berat. “Kau ingat ayahmu, Fani?” Bibi Eli bertanya dengan hati-hati.

Fani tak tahu harus menjawab apa. Ingatan tentang ayahnya begitu samar dan tak lengkap. Ayahnya hanya menemani Fani sampai ia berumur tujuh tahun.

Kenangan bersama Sang Ayah yang paling berkesan baginya ketika ia dijemput di sekolah menggunakan sepeda torpedo merah. Satu-satunya kebersamaan yang paling berkesan ketika ia dibonceng menggunakan sepeda itu menuruni jalan curam. Tiap kali mereka menuruni jalan curam itu, Fani mesti berpegang erat-erat pada sadel yang diduduki ayahnya.

Rasa takut kalau sepeda itu akan tergelincir, bunyi klakson kendaraan yang menyahut dari belakang, serta bunyi ban sepeda yang berdecit di jalanan licin, meninggalkan kesan bulat tiap kali ia mengingat ayahnya. Ia duduk dengan tubuh kaku di boncengan, memejamkan mata. Terasa hening. Saat bersama-sama menuruni jalan curam itu, ayahnya juga tak mengucapkan apa pun. Hanya keheningan dan angin. Angin menampar-nampar dari segala penjuru.

Sesudah itu ayahnya sering pergi. Kadang-kadang dijemput kawannya. Beberapa waktu dia tak kembali. Sekumpulan lelaki bertubuh tegap dengan jaket kulit dan sepatu bot mendatangi rumah Fani di tengah malam. Mereka mengacak-acak meja kerja Ayah. Membongkar rak buku, dan membiarkan Ibu dan Fani menangis di pojok. Ayah tak juga kembali. Bibi Eli satu-satunya adik perempuan Ayah memutuskan tinggal bersama. Selang beberapa tahun kemudian, rumah mereka dijual. Sejak saat itu mereka terus berpindah-pindah rumah.

”Kau tahu bangunan tempat kultur plankton yang tadi kita masuki? Dulu di dalamnya ada bilik kecil. Semacam ruangan rahasia. Di situ ayahmu dan teman-temannya pernah mengadakan rapat. Pak Syam sahabat baik ayahmu. Dia yang paling sering membantu menyediakan fasilitas tempat. Demi perjuangan, katanya,” kata Bibi Eli.

”Aku dan ibumu selalu takut berbicara keras-keras tentang ayahmu. Kami takut itu akan melukaimu. Tapi kau sudah dewasa dan sudah belajar di perguruan tinggi sekarang. Kupikir lebih baik kau tahu perihal ayahmu secara lengkap. Ada yang bilang ayahmu hilang di laut waktu tentara datang mengobrak-abrik tempat ini. Tapi aku dan ibumu yakin sampai kini ayahmu masih hidup. Mungkin saja waktu itu ia terjun ke laut dari rumah kerang ini lalu berhasil meloloskan diri. Mungkin saja. Kami selalu berdoa untuknya,” lanjut Bibi Eli dengan suara perlahan.

Bibi Eli dan Ibu tak tahu bahwa Fani sering mendengar pembicaraan mereka tentang Ayah. Dinding rumah kontrakan mereka tipis membuat suara dari kamar sebelah dengan leluasa menyusup dan kadang terdengar sangat jelas meski yang bersangkutan merasa telah berbicara dengan suara pelan.

Namun, suara-suara yang menyusup dari dinding rumah yang tipis itu tak pernah menggoyahkan dinding tebal antara Fani dengan apa yang ia ketahui perihal ayahnya. Jarak yang terjuntai lebar membuat Fani kadang tak tahu harus merasa sedih atau tidak tiap kali ia disadarkan tentang kenyataan bahwa ayahnya tak pernah kembali.

Bibi Eli masih membisu. Ia sesekali memainkan sepatunya, mengeluarkan pasir pantai dari sana. Fani mengerti mengapa Ibu tak ikut bersama mereka ke pantai ini dan menyerahkan pembicaraan masa lalu kepada Bibi Eli. Ia melihat ke laut. Mereka masih duduk membenam di pasir. Terdengar empasan ombak di siang sunyi yang terik.

Fani bangkit dari duduknya. Ia menggenggam tangan Bibi Eli dan berkata, “Ayo kita pulang. Sudah sore. Kasihan Ibu menunggu sendirian di rumah.”

Bibi Eli menatapnya. Matanya menggenang, berkaca-kaca.

Iin Farliani, lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Ia adalah emerging writer Makassar International Writers Festival (MIWF) dan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun 2022. Buku kumpulan cerpennya yang terbaru berjudul Mei Salon (Mizan Pustaka, 2024). Sejak tahun 2013 hingga sekarang masih terlibat aktif dalam kegiatan Komunitas Akarpohon, sebuah komunitas sastra dan penerbitan buku.

sumber : kompas.id, 25 Okt 2024.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *