Cerpen : Perempuan Berjari Enam oleh Boiman Manik

Aku bermimpi, berada di tengah kebun kopi. Ada seorang nenek tua, berambut putih, dan berjalan seperti mencari sesuatu. Punggungnya terlihat berat dan menonjol seperti punuk unta, aku memperhatikannya dengan canggung dari belakang. Jalannya goyah dan menghentak-hentak tanah. Tidak lama kemudian, dia berkumpul dengan beberapa orang dewasa dan anak kecil.

Ada bapakku serta adik-adiknya yang sebagian kukenali, di sebelah Si Nenek ada ibuku yang sedang menggendong seorang anak kecil. Sesaat Si Nenek itu mencium kening para anak-anak yang ada di sana.

”Semua sudah berkumpul?” Kata Si Nenek seraya mengarahkan pandangannya satu per satu ke semua orang yang ada di sana.

”Belum ompung (1), masih kurang satu orang lagi,” seorang anak kecil menunjuk seorang gadis yang duduk cukup jauh dari kumpulan orang itu.

Si Nenek dan orang-orang yang ada di sana pun memanggil-manggil gadis itu. Namun, dia tidak menyahut. Kemudian, ketika mereka sudah lelah memanggil, gadis itu memandang nyalang ke arahku, dan kumpulan orang itu tiba-tiba ikut memandangku pula.

***

Aku merasa asing dengan kebiasaan yang dijaga ketat keluarga. Besok, mangokal holi (2), upacara penghargaan untuk leluhurku akan dilaksanakan. Namun, itu menjadi satu dari dua kekhawatiranku. Yang kedua, aku takut bertemu tanteku yang kakinya pincang: Namboru (3) Rindu.

Bukannya aku membenci dia, tetapi sejak kecil dia selalu memperlakukanku dengan buruk. Kadang, saat aku sedang di kampung dan berada di dekatnya, aku dibentak untuk alasan yang sepele. Dulu, aku pernah menumpahkan kopi, dan aku kemudian segera membersihkan tumpahan kopi tersebut. Sebagai anak kecil sudah sewajarnya aku dipuji karena mau bertanggung jawab, dan Namboru Rindu justru memilih untuk membentakku.

Keluargaku yang lain tidak ada yang menentang tindakan tanteku itu, hanya membiarkan hal tersebut terjadi begitu saja. Namun, aku berusaha untuk tidak membencinya, karena ini yang selalu dipesankan oleh mama dan keluarga yang lain.

Maka, pulang kampung kali ini aku merasa terganggu jika harus bertemu dengannya. Aku tahu kadang dia suka membuatkanku masakan yang enak, bahkan dia juga pernah menyiapkan tempat tidurku waktu kecil dengan selimut tebal yang hangat. Namun, perlakuan kasarnya, yang kurasakan sejak kecil, masih terbayang hingga saat ini. Mama mengatakan sebaiknya aku menjumpai dia, mungkin ada kerinduan yang begitu besar, dan begitulah kerinduan yang sama dirasakan oleh orang-orang di kampung kepada mereka yang merantau.

Perjalanan dari Jakarta menuju Pulau Samosir kelewat melelahkan. Kampungku tidak jauh dari Danau Toba, berada di atas perbukitan yang banyak diisi ladang kopi. Tangis haru keluarga besar menyambut kami setibanya di rumah bolon (4) utama. Kami bertukar rindu, dan mama kemudian memberi perintah kepadaku untuk menemui

Namboru Rindu. Ibu yang egois! Aku sudah lelah, tetapi harus menemui orang yang pemarah, pikirku.

Langit berwarna gelap pekat dengan kondisi dingin dan kabut yang mulai menyelinap di kampung membuat tubuhku menggigil, angin yang berkesiur merangsek ke dalam jaket tebal yang kugunakan, tetapi tetap kuputuskan untuk menemui Namboru Rindu. Rasa menggigil di bulan purnama ini membuat gigiku saling beradu, dan ujung jariku mengeras, aliran udara yang mengalir dari hidung menuju paru-paruku juga terasa dingin dan menusuk. Aku berjalan menyusuri rumah-rumah lain seraya mendengar lolongan suara anjing dalam setiap hentak langkahku. Aku sudah tersandung berkali-kali akibat jalan yang tanpa penerangan berarti.

”Sehat namboru?” sapaku setelah memanjat anak tangga untuk naik ke atas pintu rumah lalu membukanya. Aku melihat dia sedang duduk bersandar dengan tongkat di sebelahnya, dan ia sedang duduk di dekat perapian, sambil menjepit sebatang rokok di sela-sela jari tangan kanannya yang berjumlah enam. Jari tersebut tumbuh dari pangkal jempolnya, yang sejak kecil selalu membuatku bertanya-tanya mengapa ia ada di sana.

Tanteku tampak terkejut seraya bersusah payah meraih tongkatnya saat melihatku, dan ingin melompat lalu memelukku seperti ada rindu yang begitu besar dan harus dia tuntaskan. Kuhampiri dia yang kepayahan berdiri, lalu kubalas pelukan tersebut dan air matanya merabas di pundakku.

”O, amang (5), sudah lama tidak kulihat, kau semakin mirip bapakmu. Sudah berapa umurmu sekarang Kristo?”

”Tiga puluh lima tahun namboru.”

”Bukankah sudah terlambat?”

Seketika aku menggigit bibir, kemudian menimpali: ”kata siapa?”

”Oh ayolah, mama tidak marah soal ini?”

”Dia sudah bosan,” aku menjawab singkat saja.

”Ah, begitu ya.”

Dengan langkah goyah, Namboru Rindu pergi memasak air panas, membuka dua bungkus mi instan, dan meniup-niup perapian agar apinya semakin membesar. Aku sudah menolak untuk makan karena sudah jelak dengan berbagai macam makanan hari ini, tetapi dia memaksa. Kuturuti saja, setidaknya aku khawatir dia berangsang soal ini. Ada rasa gatal yang tidak bisa digaruk di pundakku saat semangkuk mi sudah tersaji di hadapanku.

Mata Namboru Rindu mengarah padaku, ada kesepian yang tidak biasa dan belum pernah kulihat sebelumnya. Aku merasa nelangsa dengan tatapannya, kemudian dia menunduk, dan mengarahkan matanya menatap lantai kayu tempat kami berdua duduk sambil meletakkan mangkuk yang telah kosong. Diambilnya segelas air hangat, membersihkan kerongkonganya, lalu kembali menatapku.

Bere (6)-mu, si Pinto, baik-baik saja di Jakarta sana?”

”Kami jarang bertemu, mungkin baik-baik saja.”

”Baguslah.”

”Yang aku ingat dia sempat ikut ke Bandung, saat Uda (7) Toni ingin seranjang kembali dengan istrinya. Tubuhnya tinggi dan wajahnya tampan seperti bapaknya,”

”Jangan cari istri seperti Inanguda (8)-mu itu ya!” Suaranya mendadak tinggi.

”Tentu saja,” jawabku seraya menciut. Aku membetulkan posisi duduk, dan sambil memeluk kedua kaki aku berkata: ”siapa juga yang mau dengan perempuan pencemburu buta!”

”Mamamu disalahkan ya?”

”Bahkan difitnah karena dia seorang janda.”

”Dari dulu uda-mu memang suka cari kesenangan di tempat lain.”

”Kali ini dengan pembantunya,” kataku sambil mengerutkan dahi membayangkan hal tersebut.

Kemudian aku bertanya mengapa rumahnya selalu kosong. Seketika aku menyesal lantaran hal itu membuat air mukanya sedih seraya memasang wajah penuh amarah

Kemudian aku bertanya mengapa rumahnya selalu kosong. Seketika aku menyesal lantaran hal itu membuat air mukanya sedih seraya memasang wajah penuh amarah. Mulutnya ingin menjawab, tetapi maksud yang kutangkap ia ingin berhenti berbicara. Tak lama kemudian dia menjawab sekenanya: ”tidak tahu.”

Mataku memicing menatap langit-langit rumah yang kayunya mulai rapuh habis dimakan rayap. Goyang sedikit saja karena angin, mungkin rumah ini akan merintih lalu roboh. Malam itu kuputuskan untuk kembali ke rumah bolon utama, galibnya aku harus tidur di rumah itu pada hari pertama tiba di kampung. Kukatakan padanya, seusai acara aku akan datang kembali dan menginap. Ia mengangguk saja.

Acara mangokal holi diadakan untuk menghargai ompung, sekaligus jadi acara untuk berkumpul seluruh keluarga. Baik yang merantau atau menetap di kampung, semua harus ikut. Penghargaan pada leluhur menjadi perlu diadakan, demi hidup kami, para penerus marga agar menjadi lebih baik.

Aku menerima salam, ulos, dan tangis dari ratusan tetamu dan saudara yang datang.

Raja Parhata (9), seorang pria tambun, pendek, dan berkumis tebal yang mulai memutih, berulang kali mendoakan keluarga kami, para leluhur, dan diriku sendiri. Sebagai anak laki-laki pertama di keluarga besar kami, aku membawa beban berat di keluarga, bahkan nama ompung boru (10) akan berubah mengikuti namaku menjadi Ompung Kristo.

Sebagai penutup ada harapan keturunan dan marga kami harus diteruskan. Matanya memandang ke arahku, dan aku mengangguk tanda setuju. Dari kejauhan Namboru Rindu berdiri terpisah dari keramaian, tetapi ia mengarahkan pandangan tajam yang bermaksud memaksa juga atas apa yang dikatakan Raja Parhata yang pada akhirnya muskil kutolak.

Sepotong daging ayam disajikan di hadapanku sebagai bagian dari mangupa-upa (11). Daging tersebut disusun sedemikian rupa mirip ayam yang sedang tengkurap. Para uda dan namboru-ku berkumpul, memanjatkan doa dalam bahasa yang tidak begitu kumengerti.

Raja Parhata menghampiriku dengan kesulitan karena perut buncit yang menyiksa kancing bajunya. Ia memiliki kumis yang tampak menyatu dengan bulu hidungnya, ada juga misai yang membuat orang ini tampak semakin terlihat jenaka. Ketika ia menyuruhku dengan suara keras, lantang, dan tegas untuk mengambil sepotong daging ayam, aku melihat kedua bulu tersebut saling beradu dan bergetar, aku ingin tertawa saat itu juga, dan kemudian aku terdiam saat dia berkata potongan daging yang kumakan itu kelak akan membawa diriku menemui jodohku.

***

Dinginnya malam kembali datang setelah semua acara adat selesai. Aku menuju rumah Namboru Rindu, memenuhi janjiku kemarin. Lagi-lagi rumah itu hanya diisi dirinya sendiri. Dua anaknya yang lain pergi entah ke mana, dan suaminya juga tidak terlihat ada di rumah itu, hanya Namboru Rindu sendiri dan tongkatnya saja yang menjadi temannya.

”Kapan kau akan mangoli (12) amang?”

”Entahlah …,” aku menjawab dengan suara pelan.

”Kau tidak dengar apa yang dikatakan Raja Parhata tadi?” Suaranya meninggi seperti biasa.

Aku menatap wajahnya. Dengan penuh keraguan sorot mataku menunjukkan bahwa aku mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki gempal dengan kumis bergetar tadi. Mengingat hal itu aku ingin tertawa, tetapi aku kembali menatap lantai, dan berusaha mencari kesibukan lain di pikiranku. Dia menatapku tajam dan menunggu sebuah jawaban.

”Aku tidak tahu! Aku hanya ingin hidup tenang, maka seseorang yang akan hidup denganku harus bisa memberi ketenangan itu,” aku menjawab dengan suara yang meninggi kemudian melembut, ”soal siapa orangnya, ini misteri Tuhan belaka.”

Namboru Rindu kemudian terdiam. Ia mengelus-elus jari keenamnya, mengapit sebatang rokok, dan menyalakannya. Matanya menatap ke arah langit-langit rumah yang hampir ambruk.

”Sejak aku datang ke sini, aku hanya melihat namboru saja,” aku berusaha mengalihkan pembicaraan sambil mengambil bantal untuk kupeluk dan menghalangi pandangannya terhadap sebagian wajahku.

Dia melihatku sesaat, kemudian bungkam sambil menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong. Ketika aku bertanya lagi di mana anak dan suaminya, tiba-tiba ada air mata yang muncul tidak terduga, lalu dia menyeka matanya begitu saja. Aku merasa sebenarnya ia ingin berkata sesuatu, tetapi air mukanya tampak muak dan jijik usai menangis.

Namboru Rindu lalu mematikan perapian yang kayunya mulai meretih, menyiapkan tempat tidur kami berdua, lalu membungkus dirinya dengan selimut. Ia berusaha menutup mata yang telanjur sudah memasang wajah muram. Ia mengatakan sebaiknya aku tidur saja. Namun, malam ini aku sangat tersiksa lantaran rasa dingin di sini sangat menusuk.

Pada malam yang sangat dingin ini, aku bermimpi. Aku mewujud menjadi cicak, dan hinggap pada dinding di ruangan dengan cahaya remang-remang. Suasananya terasa sunyi, dan ada banyak nyamuk yang terbang, tetapi aku tidak memiliki nafsu untuk melahap mereka semua.

Tidak jauh dari dinding tempatku hinggap, ada seorang gadis muda yang sedang terbaring lelap sendirian. Tempat tidur tersebut dikurung dengan kelambu, agar tidak ada nyamuk yang masuk. Dalam suasana hening, aku dikagetkan dengan derak pintu yang berbunyi tiba-tiba. Seorang pria jangkung berkaus hitam masuk dengan mematikan suara langkahnya.

Dengan perlahan ia membuka tangkup kelambu, dan secara tangkas ia mendekap gadis itu. Tubuhnya meronta, memukul dan menendang angin sia-sia, dan berusaha melindungi dirinya. Pria itu masih memaksa, mendekapnya lebih kencang. Tangan gadis itu pada akhirnya melemas, menjuntai ke sisi ranjang. Di sana bisa kulihat ada tangan kanan yang jempolnya bercabang.

Kemudian aku terbangun karena kaget oleh suara teriakan kencang dari arah tempat tidur Namboru Rindu. Kulihat dia tengah menangis dan tubuhnya gemetar ketakutan. Kuperbaiki selimutnya yang berantakan, lalu kuseka keringatnya yang deras bercucuran. Selimut yang hangat mulai membuat Namboru Rindu mendapati dirinya kembali, dan dia kembali lelap dalam tidur.

Catatan:

1. Ompung: kakek atau nenek

2. Mangokal holi: tradisi membongkar makam

3. Namboru: saudara perempuan dari keluarga ayah

4. Bolon: rumah adat Batak

5. Amang: panggilan laki-laki

6. Bere: panggilan dari pihak laki-laki kepada anak dari saudara perempuan, anak dari saudara perempuan atau anak dari saudara perempuan keluarga ayah, keponakan, sepupu

7. Uda: adik laki-laki dari keluarga ayah

8. Nanguda: suami dari uda

9. Raja Parhata: pemimpin upacara adat

10. Ompung boru: nenek

11. Mangupa-upa: ungkapan doa sambil memberi daging yang diselingi nasihat dari orang tua

12. Mangoli: menikah

Boiman Manik lahir di Medan, 11 Maret 1994, dan saat ini pegawai swasta ini bermukim di Bekasi, Jawa Barat. Beberapa tulisan cerita pendek, esai, dan opini karya Boiman pernah terbit di beberapa media daring. Dia juga pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan di tingkat lokal dan nasional.

sumber : kompas.id, 09 Okt 2024.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *