Dari kaca jendela di lantai tiga hotel itu kulihat matahari pamitan tenggelam. Suasana kamar temaram. Warna coklat emas memenjarakan keliaranku, termasuk korden yang musti kututup. Namun, wanita berpipi bulat itu mengetuk kamar lagi. Nyelonong seenaknya. Perasaanku merinding. Rasanya seperti pesakitan yang terus dimanja dengan hal-hal yang menyangkut kebutuhan. Kerdipan mripatnya membuat bayangan langkahku sempoyongan.
”Sampeyan belum mengantuk Mas?” tanyanya sembari berpura-pura membersihkan sprei yang sebenarnya sudah bersih. Musim pencitraan, pikirku.
”Tidak kepengin percakapan atau dongeng Mas?” riap mripatnya yang ditonjolkan. Aku tersenyum. Gairah politik dan gairah romantisme bercampur aduk. ”Sampeyan yang mendongeng saja. Aku sudah capek berbicara penuh busa soal anggaran, di warung kopi, siang tadi..,” jawabku kumiripkan gerutuan. Kusetorkan tatapan kosong.
”Enak to Mas, mikir anggaran… Banyak yang tercecer mesti!” gayanya sok tahu. Ah, mengapa di mana pun aku berada selalu ditikam kemuakan manakala menghadapi tipikal wanita semacam ini?
”Aku hanya sebatas berbicara ngalor-ngidul, aku nggak bawa sekarung uang Mbak Ret,” mulutku mencoba mencairkan suasana. Selorohku sepertinya diterima dengan ketersinggungan. Benakku melompat pada adegan seekor kucing yang kuundang untuk makan seumbruk tulang, kemudian kuhardik tiba-tiba karena kelewat ingin dimanja.
Tatapan kami seperti terasa dimesrakan. Seperti gaya peragawati, dia duduk berjuntai seindah mungkin. Mripatnya seperti ingin menelanjangiku secara total. Hampir setiap gerak-gerikku terekam.
”Sampeyan sudah pernah tidur seperti ini Mas?”privasiku terasa disodok.
”Berkali-kali,” sekenanya mulutku mencoba bawel.
”Bisa disebutkan satu per satu?” rasa ingin tahunya meletup. Mulutku terkatup. Lalu kujawab:
”Kok seperti ulangan umum saja, disuruh menyebut satu per satu..,” jawabku. ”Baiklah, aku pernah sekamar dengan ibuku, nenekku, adikku, mbakyu dan … beberapa wanita yang diumpankan kepadaku…” Seperti masih memiliki rasa yang utuh sebagai wanita, Mbak Retno tersinggung. Mulutnya mengatup, diam. Agaknya dia paham, bahwa sebagai penentu suara, penentu kebijakan yang akan mengguncangkan sendi-sendi regulasi—umpan-umpan semacam ini bukan rahasia lagi. Entah musuhku yang ingin melunakkan kegaranganku, entah para calo yang akan keciprataan dari suara kerasku, selalu saja wanita yang diumpankan di atas dipan.
”Sampeyan orang proyek ya Mas?” fasih sekali ia bersilat.
”Sampeyan juga bagian dari proyek,” kataku, mengimbangi. Dan seperti yang ditawarkan sejak semula, ia pun bersedia merentang jadwal hidupnya yang panjang. Mirip sebuah narasi beralur yang tak pernah habis. Wanita penghibur itu kupikir berkali-kali, sudah seperti mesin.
”Sampeyan itu pekerjaannya apa to Mas, kalau boleh tahu?” pertanyaan yang kutunggu akhirnya muncul juga. Aku tersenyum dengan kostumku malam ini. Lelaki dengan umur melompati setengah abad, beberapa gigi sudah tanggal. Kempot pipi menyembul. Tubuh berbalut sarung kombor serta kaos oblong yang konon kata istriku pantas diandalkan!
”Apakah Mbak Ret akan segera meninggalkan kamar ini kalau aku berkata tentang profesiku yang sebenarnya?” godaku. Pemilik pipi dekik itu tersipu.
”Sampeyan staf ahli, staf menteri, atau caleg Mas?!” nafsu itu memburu.
”Aku seorang driver Mbak, sopir!” kataku. Jidat mbak Ret berkerut.
”Aku sangsi. Aku tidak percaya…Sopir kok ditidurkan di tempat semewah ini to Mas?” wanita tiga puluh limaan tahun itu mendesak. Aku menerkam gurat-gurat penafsiran yang berkelebat di benaknya.
”Aku sopir yang pintar Mbak Ret, sopir yang cerdas, sopir yang istimewa, sopir yang pernah mengatur pertemuan para caleg,” aku memperjelas.
”Sopir teladan ya Mas?” terkanya. Aku tersenyum kecut. Tidak pernah bermimpi menjadi sopir teladan sepanjang hidupku. Meski jabatan resmiku hanya sebagai sopir, tetapi sebagai orang Jawa, sepertinya aku larut dalam adukan peribahasa ’witing tresna jalaran saka kulina’.
Ya, aku terbiasa berdiskusi dengan bos-bosku. Pikiranku, kata mereka cepat menyambung, bahkan aku sering memprediksi dinamika politik puluhan kali dan tidak pernah meleset. Terkadang aku tersenyum dalam batin, mengapa orang-orang hebat yang kuantar ikut seminar, simposium, temu muka–justru sering minta pendapat padaku. Padahal modalku tidak lebih hanya membolak-balik koran dan mendengkur di depan televisi.
Aku sopir yang pintar Mbak Ret, sopir yang cerdas, sopir yang istimewa, sopir yang pernah mengatur pertemuan para caleg.
MALAM diam-diam merambat. Menderas di perasaan. Aku kepengin tidur, tetapi bagaimana cara mengusir secara halus terhadap wanita yang dipaketkan dan dihadiahkan khusus padaku malam ini?
”Ngantuk Mas?” aku terperanjat. Ia fasih membaca letih mripatku.
”Bagaimana kalau kamu tidur di kamar ini, dan aku tidur di kamar yang lebih merakyat? Bukankah aku juga rakyat?” aku menawar. Ia beringsut.
”Mas terganggu, kalau aku numpang tidur di sini?”
”Silakan, tetapi, sekali lagi, aku harus tidur di kamar lain Mbak Ret, maaf,” kataku mencoba memberi pengertian. Ia tersipu. Mulutnya manis. Semanis gula yang mengepyur di gelas berkopi.
“Baik, kalau begitu aku segera berkemas, aku mau pulang Mas,” pamitnya. Terharu untuk melepas wanita energik itu. Aku harus mengantarkannya ke bawah seperti selayaknya melaksanakan sebuah kehormatan. Apa pun status tamuku. Kami berdua nyelonong memasuki lift.
Turun ke lantai dasar. Kubuka pintu lift. Aku terkejut: Seorang tetanggaku sekaligus adik kelasku zaman kuliah dulu sudah menunggu di kursi jati artistik dekat taman. Air kolam gemericik.
”Mas!” sapanya. Melihat aku, melihat wanita yang kuantarkan turun itu.
”Ada urusan apa kamu Boy?” aku menelisik. Seperti kurang sopan.
”Aku mengantar Mbak Ret!” katanya jujur. Pikiranku oleng. Ah, Boy, ternyata duniamu dunia politik yang kotor semacam ini?! Pertanyaan itu merundung di kepalaku. Mengendap. Merobek-robek imajinasi.
”Maaf, siapa dia Boy?” tanyaku ingin tahu, ketika Mbak Ret menelusup ke kamar kecil. Seolah memberi keleluasaan pada kami untuk mengerucutkan percakapan.
”Dia umpan yang sering aku gunakan Mas… Pekerjaanku (maaf) calo Mas. Mengurusi hal-hal kebijakan dan goal-goal yang mengarah pada kebijakan Mas,” ia meratap. Menunduk menahan rasa malu. Aku sedih. Terbayang masa kecilku ketika bermain gambar umbul puluhan tahun silam. Boy masih menggunakan celana pendek dan sering menangis manakala kalah bermain.
”Bagaimana kabar keluargamu Boy, anakmu sekarang berapa?”
”Keluargaku bubar Mas, anakku tiga..,” lelaki itu menghela napas. Istriku mengugat cerai ketika dia tahu bahwa aku selalu bersamaan dengan wanita bernama Mbak Ret ini..,” pengakuannya terasa terpatah-patah.
”Dan wanita bernama Mbak Ret itu istri siapa Boy?” aku menelisik.
”Dia … dia sekarang menjadi istriku Mas…” jawabnya bergegas menunduk.
Jantungku berguncang. Mulutku terkatup. Politik! Sungguh mengalir ke jalur indah bagi yang merasakan dan tumbang di kubangan yang mengerikan bagi yang dikalahkan.
Hujan gerimis di luar memisahkan kami. Kubiarkan sepasang suami istri itu ditelan pintu taksi. Aku melangkah ke kamar tempat tidurku seperti semula. Aku kepengin tidur nyenyak malam ini untuk melunasi utang kurang tidur semalam.
Aku membuka pintu, nyelonong kebelet buang air kecil ke kamar mandi. Begitu keluar dari pintu kamar mandi, astaga! Seorang wanita dengan tipikal berbeda sudah duduk di bibir ranjang. Aku mendesah, mengeluh panjang. Aku bergegas menelepon resepsionis.
”Mbak, aku kepingin tidur nyenyak. Siapkan kamar yang bersih dari godaan,” gurauku. Kudengar suara terkekeh menyembul malam itu. Wanita di depanku tersenyum bias. Sulit ditafsir.
”Apa ada makhluk halusnya to Mas?” goda resepsionis. Aku tersenyum.
”Aku ingin tidur di kamar tujuh belas lantai empat Mbak,” rayuku.
”Siap Mas, itu spesialis kamar politik steril godaan Mas,” imbuhnya.
”Bisa dipercaya?” aku menegaskan. Segera aku berkemas. Aku seret koper menuju kamar steril godaan. Wanita penunggu kamar itu, kutinggalkan dengan sopan. Dan di kamar yang kukunci rapi, aku melemparkan tubuhku di kasur yang empuk.
Sebagai lelaki, berprofesi sopir, mendadak aku harus merasa tua kalau hidup hanya digusarkan oleh persoalan remeh temeh demikian. Aku membayangkan para calo politik yang berkeliaran di sudut-sudut kota. Di lorong-lorong hotel. Mereka mengeramkan sejumlah harapan untuk diloloskan. Aku sebagai pembisik telinga para bosku yang bergelimang kemewahan di kota metropolitan ini, sangat paham liku-liku permainan itu. Mendadak aku seperti disentakkan tempat-tempat ibadah yang indah. Lalu dingin AC mengajakku larut tidur.
Aku tersenyum. Teringat kelebat wanita yang disodorkan kepadaku—yang tiba-tiba masih sempat mampir di ubun-ubun kepalaku.
Semarang, 2024
Budi Wahyono, penulis kelahiran Wonogiri. Ratusan cerpennya tersebar di berbagai media cetak, antara lain: Harian Suara Merdeka, Wawasan, Suara Karya, Berita Yudha, Solopos, Kedaulatan Rakyat, Jakarta Post, Surabaya Pos, Bisnis Indonesia, Kontak, Bina, Bahari, Kartika, Cempaka, Majalah Krida, Humor, Keluarga, Trubus, dan lain-lain. Menetap di pinggiran Kota Semarang 50195
sumber : kompas.id, 20 Sep 2024.
