RIUHNYA bunyi dedaunan disebabkan angin pagi yang gelisah. Kicauan burung hutan memecah kesunyian. Sang mentari memercik sinarnya pada wajah-wajah yang saling becermin pada bola mata masing-masing.

Lima puluh tahun yang lalu di sebuah desa tampak rumah sangat sederhana. Dindingnya hanya terbuat dari anyaman bambu atau sering disebut palupuh dalam Bahasa Banjar. Beratap daun rumbia yang sudah tersusun rapi. Rumah sederhana itu dihuni Panang Aman dan Acil Siti. Dalam Bahasa Indonesia, panang adalah paman dan acil adalah bibi.

Panang Aman adalah seorang petani yang sangat rajin. Hasil taninya baik sayur maupun buah akan dijual di pasar dan sebagian lagi untuk keperluan di rumah. Dan istrinya, Acil Siti, selalu menemani suaminya di sawah sembari mencari daun-daun pisang yang juga akan dibawa ke pasar untuk dijual.

Walau hasil yang didapat tidak seberapa, namun itu sudah cukup untuk memenuhi keperluan mereka berdua. Sudah hampir sepuluh tahun Panang Aman dan Acil Siti belum dikaruniai anak. Namun mereka selalu ikhlas diiringi dengan berusaha dan berdoa kepada Allah SWT.

Selepas Isya, terhampar gelap yang panjang. Suara aliran sungai menjadi musik yang mengiringi bambu saling bergesekan dengan suara daun-daunnya seolah berbisik-bisik. Rembulan dengan manja didampingi seekor bintang mengintip pembicaraan dari sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari sungai. Terlihat Acil Siti menutup jendela karena angin yang dingin masuk tanpa permisi.

“Ka, pian kada dulakkah, kita ini beduaan aja di rumah. Padahal sudah sapuluh tahun kita menikah,” ucap Acil Siti sambil mengikat daun menjadi beberapa bagian yang akan dijual besok pagi.

“Ya, handak kaya apa pang ding, amun Allah balum membari. Kita harus sabar. Ujar bidan kandungan pian kada bemasalah, mungkin Allah belum mempercayai kita untuk segera baisi anak. Kita juga jangan berhenti memohon kepada Allah agar kita dikaruniai anak suatu saat nanti,” jawab Panang Aman dengan bijaksana.

“Inggih, aamiin,” jawab Acil Siti sambil menghitung daun-daun yang sudah diikatnya.

Panang Aman dan Acil Siti tak pernah bosan berdoa. Beberapa bulan kemudian, rahmat pun datang menghampiri mereka. Doa-doa mereka dijawab oleh Tuhan. Doa-doa yang tak pernah putus setiap hari bahkan detik itu.

Sembilan bulan Acil Siti mengandung. Pada bulan Ramadan ia melahirkan anak laki-laki. Ketika tangisan bayi terdengar, alangkah senang hati Panang Aman karena doanya selama ini telah dijawab oleh Allah SWT. Namun wajahnya berubah sedih, ketika bidan mengatakan bahwa Acil Siti sudah meninggal.

Panang Aman sangat sedih dengan kejadian itu. Walau dia sedang berbahagia mendapat seorang putra. Namun kehilangan seorang istri yang sudah mempertaruhkan hidupnya juga membuat hatinya hancur. Ia mencoba tidak begitu larut dalam kesedihan karena ia masih mempunyai anak yang harus dijaga.

Ramadhan tumbuh dengan sehat dan pintar. Di usianya yang lima tahun ia sudah pandai membaca Al-Qur’an karena Panang Aman selalu mengajarinya setiap malam. Panang Aman selalu menuruti apa yang diminta Ramadhan. Ia juga selalu membawa Ramadhan ke manapun ia pergi; memancing, ke sawah, dan ke pasar. Ia juga sering mengajak Ramadhan bermain. Panang Aman bisa menjelma menjadi sosok ibu dan juga teman.

Ramadhan kecil sudah tumbuh dewasa. Ia selalu menolong bapaknya di sawah dengan sedikit belajar cara bertani dan menjual hasil taninya ke pasar. Dan akhirnya ia menjadi anak yang mandiri. Karena Ramadhan sudah dewasa dan sudah mandiri, maka Panang Aman menikahkannya dengan seorang gadis yang tak jauh dari rumahnya.

Ramadhan sudah berkeluarga. Ia dan istrinya tinggal satu rumah dengan bapaknya. Tidak berapa lama kemudian Ramadhan dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat dikasihinya. Usia Panang Aman bertambah tua. Wajahnya sudah berkerut, matanya tak lagi cerah, tangan dan tubuhnya yang tak lagi kuat seperti dulu.

Panang hanya bisa berbaring tanpa daya. Ia hanya bisa memandang cucunya tanpa bisa mengajaknya bermain-main seperti dulu ia dengan Ramadhan. Lamunan masa lalu pun menghantarkannya pada sebuah mimpi yang memutar memori lama. Di usia Panang yang sudah tua renta dengan terpaksa Ramadhan dan istrinya harus merawat dan menuruti semua kehendak bapaknya.

Panang Aman sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia juga sedikit cerewet dan sering membuat kesal. Lama-kelamaan Ramadhan merasa lelah dengan keadaan bapaknya. Sehingga ada niat buruk yang akan ia lakukan pada bapaknya. Apakah Ramadhan sudah lupa atas semua kasih sayang dan jerih payah bapaknya selama ini, hingga ia bisa hidup berkecukupan seperti ini. Apakah ia tak ingin membalas semua jasa bapaknya dengan merawat bapaknya dengan ikhlas.

Saat pagi yang masih berselubung kabut. Terasa hawa dingin merasuk kulit. Ramadhan menggendong bapaknya memasuki hutan. Bapaknya tampak kedinginan karena tidak menggunakan pakaian tebal. “Nak, kenapa ikam menggendong abah? Handak dibawa ke mana Abah?” tanya Panang Aman dengan cemas. “Ah, Abah neh! Sudah, bediam aja jangan banyak takun,” hardik Ramadhan dengan marah.

Semak demi semak ia celahi. Hutan belantara telah ia masuki. Panang Aman mulai menyadari bahwa ia akan dibuang ke hutan oleh anaknya sendiri. “Nak, mau kamu bawa ke mana abah? Jangan kamu buang abah, Nak. Maafkan abah yang sudah menyusahkan ikam selama ini,” Panang Aman memohon kepada Ramadhan dengan berderai air mata. Ramadhan tak sedikitpun menggubris dan sama sekali tidak tersentuh oleh tangisan bapaknya.

Sesekali Ramadhan membenarkan posisi gendongan bapaknya. Saat itu juga bapaknya berpegangan dengan erat. Tiba-tiba… prak… Ramadhan hampir tergelincir karena terinjak jambu biji yang lumayan besar. Entahlah. Ramadhan berhenti dan menurunkan bapaknya. Ia sandarkan bapaknya pada sebuah pohon besar. “Kenapa berhenti, Nak?”

Ramadhan tidak menjawab. Ia memungut jambu itu lalu membersihkannya. “Bapak tahu, pasti kamu ingin membawa jambu itu pulang untuk anakmu, Ali. Karena ia sangat suka jambu karantukal (jambu biji),” ucap Panang Aman dengan sedikit tersenyum.

Ramadhan tersentak. “Abah dulu juga begitu denganmu, Nak. Jika Abah mau mencari kayu bakar di hutan, kamu selalu minta carikan jambu karantukal. Abah selalu berusaha membawakannya untukmu. Saat Abah bulik ikam sudah mehadang di muhara lawang menunggu si jambu karantukal kesukaan ikam. Pasti anakmu juga akan seriang itu ketika kamu pulang nanti,” tutur Panang Aman sembari menyeka air mata. Ramadhan terkulai lesu ketika mendengar ucapan bapaknya.

Ia teringat akan kasih sayang bapaknya ketika ia masih kecil. “Abah,” ucap lirih Ramadhan dengan wajah penuh penyesalan. “Nak, teruskan perjalananmu.”

Panang mengangkat tangannya yang gemetar menunjukkan bahwa ia siap untuk dibawa ke manapun. Sedangkan Ramadhan menatap wajah bapaknya yang penuh pasrah. Ia mendekati bapaknya.

“Tidak, Abah, kita akan pulang. Sekarang aku sadar betapa abah sudah sangat menyayangi dan mengasihiku saat aku kecil hingga dewasa. Ulun anak yang durhaka Bah, ulun sudah berniat untuk membuang pian. Ampuni ulun Bah, ampuni dosa-dosa ulun Abah,” Ramadhan menangis sejadi-jadinya. Ia sangat menyesal. ***