Cerpen : Siwa Nataraja oleh Ni Wayan Wijayanti

Perempuan di hadapanku terdiam. Tatapannya seolah memohon ampun. Namun hatiku sudah terlalu mengeras, bahkan sekadar hanya untuk meliriknya dengan sudut mata. Menurutku, dia sudah lama mati. Bahkan bayangannya saja sudah terkubur dalam, bersama setiap jengkal tapakan kaki, saat aku menarikan Siwa Nataraja.

***

Tepat beberapa puluh tahun sebelum hari ini, aku yang hanya seorang anak lelaki kecil lusuh, tengah mendengarkan penjelasan Tu Aji dengan saksama.

Aku benar-benar mengagumi sosok pria paruh baya, yang mengabdikan seumur hidupnya pada kesenian dan tradisi. Bahkan saking cintanya, seolah langkah kaki Tu Aji sendiri adalah sebuah tarian.

Sejak diangkat menjadi murid, aku sering ikut rombongan Tu Aji menari. Ia adalah pendiri Sanggar Tari Ajisaka.

Saban hari, sanggar kecil ini selalu banjir undangan menari mengisi berbagai acara, baik adat, pernikahan, hingga sampai ke hotel-hotel megah mancanegara.

Siwa Nataraja berarti manifestasi energi alam sebagai penghancur. Apa pun di semesta ini tidak akan luput dari penghancuran setelah proses penciptaan dan pemeliharaannya,ucap Tu Aji,Setiap makhluk pasti akan terlebur, tak terkecuali bongkahan batu. Ia lambat laun luluh menjadi debu dan hilang bersama angin,” lanjutnya.

Aku mencerna dengan saksama setiap ucapan yang keluar dari guru tari itu, sembari menghirup napas dalam. Merasakan energi yang mengalir bersama desiran darah, melalui sari-sari makanan yang terbakar oleh oksigen. Setiap detik, aku harus menenangkan diri oleh gangguan cemas yang entah bagaimana selalu datang.

Hari itu adalah kali pertama aku tampil menarikan Siwa Nataraja di hadapan orang banyak. Tarian yang menjadi simbol bahwa penghancuran adalah hal abadi. Ia selalu terjadi, seiring berjalannya waktu. Tidak dapat dicegah, serta bersifat dinamis.

Orang-orang Tamil di India sana menarikan tarian ini di depan mayat sebelum dikremasi.” Aku bergidik mendengar penjelasan Tu Aji. ”Jadi tarian ini adalah tarian untuk orang mati?” tanyaku dengan mata membulat, ”Aku tidak mau menarikannya.” Penolakanku membuat Tu Aji terkekeh. Dimainkannya janggut panjang yang sudah semakin memutih. ”Lagi pula, kenapa harus aku?

Pria itu memandangku lekat, ujarnya, ”Karena Aji ingin kau memusnahkan segala dendammu bersama tarian ini. Sebagaimana fungsi peleburan yang dimiliki Siwa, Sang Raja Tarian.Aku terkesiap. Tu Aji mengingatkanku pada kebencian itu.

Menurut orang-orang, kepala panti menemukan aku telanjang, terbungkus plastik hitam dalam timbunan sampah.

Sekiranya jika tidak terdengar tangis bayi saat seekor anjing mengubek-ubek TPA, mungkin aku hanya akan berakhir menjadi seonggok bangkai. Akulah bayi merah, yang kala itu wujudnya tak ubah seperti makanan anjing jalanan.

Orang-orang baik di sekelilingku berusaha menutupi hal tersebut. Namun, seperti menyembunyikan kotoran busuk, lama-kelamaan entah bagaimana, aku mengetahui kenyataannya.

Kenyataan bahwa aku dibuang di tempat sampah. Itu sangat menyakitkan. Kenyataan bahwa hidupku ikut terlaknat dan menjadi aib dua orang yang aku sebut orang tua. Itu pun sangat menyakitkan.

Bertahun-tahun aku hidup dengan hati yang terluka. Terlebih saat melihat anak seusiaku dirayakan ulang tahunnya di panti tempat kami—anak-anak yang tak punya orang tua—ditampung. Terlebih saat aku melihat anak yang dirayakan kelahirannya itu, diciumi kedua pipinya, dan dipeluk dengan rasa sayang. Itu, sangat menyakitkan.

Rasa dendam oleh ketidakterimaan pada takdir yang tak adil, perlahan tumbuh. Makin hari makin subur saja. Berbagai pertanyaan menari-nari di kepala. Kenapa aku dibuang? Kenapa harus aku?

Tu Aji memang pernah bilang, kalau hidup sangatlah singkat. Sesingkat kerlipan mata, dan sesingkat kilatan petir. Jadi untuk apa berlarut pada dendam dan rasa sedih?

Toh, hidup tetap berjalan. Bumi akan terus berputar mengelilingi matahari, sebagaimana anak-anak sapi kamadhuk* yang setia mengelilingi induknya.

Kemudian pada saatnya tiba, Siwa akan menarikan tarian Nataraja. Semesta dihancurkan dari derapan kaki-Nya, lalu diciptakan kembali untuk lagi-lagi menuju penghancuran. Permainan seperti ini terjadi terus-menerus berulang-ulang, dari kalpa* satu ke kalpa berikutnya.

Waktu terus bergerak maju, memakan apa pun dengan keji, seperti jelmaan Kala yang bulat-bulan menelan bulan. Ia akan meninggalkanmu yang masih terjebak dalam masa lalu. Hingga kau tak sadar Nak, kesempatan hidup yang singkat ini kau buat jadi sia-sia.Begitu nasihat Tu Aji.

Tiyang* tidak minta dilahirkan,” tukasku datar.

Jika kau tidak minta dilahirkan, lalu kenapa sejak awal sperma berhasrat menjangkau sel telur dan bersemayam dalam goa gharba* ibumu?Pertanyaan Tu Aji membuatku tercekat, tak bisa membantahnya. Itu sudah sesuai dengan teori yang diajarkan oleh guru biologiku di sekolah.

Dengar, kau sudah telanjur ada. Menyesal pada takdir tidaklah berguna. Kau tinggal menjalani layaknya lakon wayang,” nasihat Tu Aji berulang-ulang kali.

Namun sepertinya Tu Aji salah. Bagiku, waktu berjalan lambat. Suka tidak suka, aku harus terbiasa bertahun-tahun kedinginan tanpa pelukan bapak dan ibu. Aku benci hidupku, terlebih dua orang yang membuatku ada di sini.

Sebenarnya, berkali-kali sebuah suara mengajakku untuk menyelam hingga ke dasar, saat aku bersama rombongan tengah berpesiar menuju pulau seberang untuk menari.

Suara itu mengalun lembut di telinga, seolah dihadirkan oleh semilir angin. Ujarnya, ”Anak muda, dalamnya lautan tidaklah segelap yang kau duga. Jangan ragu, melompatlah!

Berkali-kali juga suara itu memintaku agar menjadi awan saat kami berada di puncak gunung yang tinggi. Bisikan tersebut manis, seperti puisi seorang pujangga yang merayu, ”Hey, mereka menunggumu di atas sana. Lekaslah, gapai deretan awan-awan itu! Kau adalah satu di antara mereka.

Tetapi entah kenapa, belum sempat melaksanakan ajakan dari bisikan itu, sebuah tepukan halus dari Tu Aji, kembali membawaku pada kenyataan. Selalu dan selalu begitu. Hal tersebut membuatku lambat laun tersadar, bahwa ajakan dari suara-suara itu hanyalah omong-kosong belaka. Sial!

Kau harus melepaskannya, menghancurkannya dalam hentakan-hentakan tangan dan kaki. Menarilah! Buat agar ego dari indria-indria itu tidak membelenggumu lagi. Anggap ini seperti sebuah jalan menempuh pengendalian pikiran-Yoga.

Maka begitulah, setiap kali bisikan serta dendam itu datang, aku akan menarikan Siwa Nataraja. Aku membunuh setiap bait amarah dan aneka skenario di kepala, hingga pikiranku kebas dan tak merasakan perasaan apa pun lagi. Aku akan menari hingga tersungkur kelelahan, di tapak kaki lingga yoni tempatku memuja Siwa.

Aku menari seolah berpikir tengah mengantarkan ajal seonggok mayat yang seumur hidup takkan kumaafkan. Mayat bapak dan ibuku yang bahkan aku sendiri tak tahu bagaimana rupanya.

Membayangkan mereka mati sehingga tidak sengaja membuangku, lebih membuatku lega. Ketimbang menghadirkan gambaran bahwa mereka tengah hidup bahagia dan tenteram, sementara diriku terseok-seok babak belur dipermainkan takdir.

Dalam tarian ini, aku anggap mereka telah benar-benar mati, sehingga rasa marah dan putus asa itu tidak lagi menyergapi otak warasku.

Kurasa kali ini Tu Aji benar, dengan cara begitu, perlahan kecemasanku hilang. Bisikan suara-suara yang dulu riuh kini terdengar lebih hening. Seolah mereka melebur bersama peluh, lalu menguap kepada langit, tempat satu-satunya peraduanku setiap malam.

Suatu ketika, selepas menari di sebuah ballroom hotel yang tengah mengadakan pesta, seseorang menghampiriku di belakang panggung. Ia bilang ada wanita paruh baya sedang menungguku di halaman belakang sana. Aku mengerutkan kening, dan berjalan ke tempat orang itu.

Tanpa diaba-aba, jantungku tiba-tiba berdegup kencang seperti sebuah firasat. Seolah Siwa tengah menari dalam batin sambil menabuh genderang layaknya gaung yang tak berirama.

Wanita itu menatapku dengan getir. Sepasang matanya membendungkan air. Itu adalah sepasang mata yang sama, yang seperti selama ini aku lihat saat bercermin. Sepasang mata yang sama, dengan mataku.

Seulas bibirnya pun, mirip seperti bibir yang selalu kupoles saat pentas menari. Perempuan itu tersenyum datar, seolah menahan getaran hebat yang terus-terusan menghujani hening. Sayup-sayup dia bergumam seolah pada dirinya sendiri, ”Nak, apa kabar?

Seiring gumamannya, bisikan-bisikan di kepalaku kembali hadir satu per satu. Bertambah banyak, bersahut-sahutan. Suara tersebut ramai meneriaki hal-hal yang tak aku pahami. Bising.

Tiba-tiba tangan ini bergerak. Rasanya aku ingin menarikan Siwa Nataraja, dengan mayat wanita itu tergolek tepat di hadapanku. Sebagaimana tradisi dari orang-orang Tamil yang selalu diceritakan Tu Aji.

Rabu, 13 Maret 2024

Catatan:

Kamadhuk*: Sapi suci kepercayaan masyarakat Hindu

Kalpa*: 4.320.000.000 tahun

Tiyang*: Saya (Bahasa Bali halus)

Goa gharba*: Rahim wanita

Ni Wayan Wijayanti, lahir di Gianyar-Bali. Tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media seperti KompasCeritanet, Majalah Bobo, Tatkala.Co, Indonesiana.Id, Negeri Kertas, Cerano, dan lain-lain. Merupakan Finalis Ubud Reader and Writer Festival 2004. Karyanya yang lain sempat terpilih sebagai 30 cerita terbaik McD’s Indonesia tingkat Nasional 2022. Saat ini aktif sebagai seorang SEO Content Writer untuk beberapa agensi dan sales marketing penginapan wilayah Ubud.

sumber : kompas.id,31 Mei 2024.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *