Cerpen : Jalan Buntu oleh Raudhatul Tassya Khairunisa

Aku berdiri membeku dari daun pintu. Menatap lekat pada tubuh kaku yang ditutupi kain panjang berwarna coklat itu. Suasana di rumahku di detik itu tidak lagi hangat. Suara jeritan ibu yang terus memanggil nama ayah menusuk hatiku terlalu dalam. Ibu terus mengguncang tubuh kaku ayah sekuat tenaganya, tak percaya dengan kenyataan yang melanda keluarga kami secara tiba-tiba.

Aku masih diam di sana. Mencoba untuk mengelola kondisi rumahku saat ini. Orang-orang menatapku dengan tatapan yang begitu menyedihkan di mataku. Tatapan kasihan yang tidak pernah aku sukai.

Mengapa kalian harus menatapku seperti itu? Mengapa ayahku harus terbujur kaku di sana? Apa salah ayahku, hingga dirinya harus merenggut nyawanya dengan cara yang begitu tragis? Bagaimana pelaku tega menghabisi nyawa ayah begitu saja? Berbagai pertanyaan itu berputar di benakku. Bak kaset usang tanpa jeda.

Puk! Seseorang menepuk bahuku pelan. Berdiri tepat di sampingku. Dirinya menatap lurus ke arah tubuh kaku itu. ”Kamu baik-baik saja?”

Satu pertanyaan itu membuatku menoleh ke arahnya. Tanpa sadar, genangan air mata mengalir dengan deras. Aku tak kuasa menahannya. Aku tak kuasa menyimpannya sendiri, hingga satu pertanyaan itu tiba. Air yang tanpa aku minta untuk mengalir membasahi pipi ini terjadi juga.

Aku menangis hebat. Terduduk di depan pintu. Menutup wajahku dengan telapak tangan. Berusaha untuk menenangkan diri dengan berbagai kebohongan yang aku ucapkan kepada diriku. Agar aku terlihat kuat di mata orang-orang.

Tuhan, aku tidak marah jika Engkau mengambil nyawa orang yang aku sayangi. Aku tidak marah saat kematian itu sampai pada orang yang ada di sekitarku. Dan aku tidak marah atas semua kejadian yang terjadi pada hidupku tanpa pernah aku kendalikan sedikit pun.

Kamu baik-baik saja?

Tapi Tuhan, aku marah. Aku kesal. Aku benci. Ingin sekali meluapkan segala emosi yang ada di dalam hatiku yang semakin menggelembung ini. Ingin sekali aku memaki orang-orang yang tega mengambil nyawa orang yang aku sayangi dengan sekena hatinya. Atau setidaknya, nyawa dibayar nyawa. Tuhan, apa salah ayahku? Mengapa akhir hidupnya harus seperti ini? Mengapa dia harus meninggal dengan cara yang sangat tragis? Mengapa Tuhan?

Aku terus menangis meratapi nasib yang sudah digariskan padaku. Aku tidak marah kepada Tuhan karena telah mengambil ayahku dari dalam hidupku. Tapi aku kesal, kepada orang yang dengan sekena hatinya menghilangkan nyawa ayahku dengan cara yang tragis.

Pelaku itu harus dihukum mati!

***

Seminggu berlalu semenjak kepergian ayah. Rumah yang aku tinggali dulu terasa hangat kini terlihat sangat berbeda. Ibu yang biasanya bersemangat untuk melakukan aktivitas rumah kini mengurung di kamar tanpa sekali pun mau beranjak ke luar.

Aku duduk di depan televisi. Menonton siaran televisi yang ada di depanku dengan kondisi rumah yang semakin hari semakin dingin. Siaran itu terus berputar, tapi pikiranku berkelana entah ke mana. Aku tak ada niat sedikit pun untuk menyaksikan acara yang sedang ditayangkan di TV tersebut.

Tok-tok-tok!

Aku segera beranjak saat mendengar bel rumah berbunyi. Berlari dengan begitu semangat, tanpa berpikir siapa yang akan datang. Aku berharap ayah ada di balik pintu sana. Menunggu dengan hati riang, membawakanku martabak manis, lalu merentangkan tangan untuk mengizinkan aku memeluknya.

Namun, semua bayangan itu sirna, saat aku membuka pintu rumah dan menemukan dua orang dengan baju coklat berpangkat mereka. Berdiri di depan pintu. Menyapaku dengan sopan.

”Selamat siang, Dik. Kami dari pihak kepolisian mengonfirmasi bahwasanya pihak keluarga korban diperkenankan untuk datang ke kantor polisi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Apakah ibu atau kakak kamu ada di rumah? Jika ada, boleh tolong panggilkan sebentar?”

Aku terdiam beberapa saat. Menatap lekat pada salah seorang polisi yang berdiri tepat di depanku.

”Ibu saya lagi tidak enak badan, sedangkan saya tidak memiliki saudara kandung,” jawabku dingin.

”Begitu, ya. Baiklah, jika nanti ibu adik mulai sehat, silakan hubungi pihak kami.”

Polisi tersebut mengeluarkan amplop berwarna coklat, lalu memberikannya kepadaku. ”Ini adalah surat panggilan untuk pemeriksaan atas kasus pembunuhan yang terjadi kepada korban. Agar mendapatkan keterangan lebih lanjut. Dimohon bagi adik untuk menghubungi nomor yang tertera di surat, jika ibu adik kembali sehat. Terima kasih.”

Polisi itu memberi hormat kepadaku sebagai bentuk pamitnya. Saat polisi itu berbalik, aku menanyakan satu pertanyaan yang terus berputar di benakku selama seminggu ini. ”Apakah pelakunya sudah ditangkap?”

Polisi tersebut berbalik saat aku menanyakan satu pertanyaan itu kepadanya. Dengan raut wajah datar, polisi itu menatapku lekat. Entah apa makna di balik tatapannya itu.

”Kami sedang melakukan penyidikan dan memasukkan pelaku ke dalam daftar pencarian orang. Karena korban ditemukan lima jam setelah kejadian, kemungkinan besar kasus ini akan sangat lama ditangani, mengingat tidak adanya bukti-bukti yang lengkap,” ujar polisi tersebut.

Aku termenung mencerna setiap kata yang diucapkan oleh polisi itu. Tanpa sadar aku memilin tangan untuk menenangkan hatiku. Rasa ingin meluapkan semua emosi kembali memuncak setelah seminggu aku tahan.

”Apa ada kemungkinan pelakunya adalah orang yang ada di sekitar ayah? Rekan kerjanya mungkin?” tanyaku dengan penuh harap.

”Untuk itu, kami belum dapat menjawab ya atau tidak. Tapi secepatnya kasus ini akan kami selesaikan dengan mengumpulkan bukti yang ada.”

”Kalau begitu, mengapa tidak menanyakan kesaksian aku? Aku, kan, anak dari korban itu sendiri!” sergahku melangkah maju menatap polisi tersebut.

Polisi itu tampak kaget. Lalu dia mulai mencoba untuk tidak terbawa suasana.

Ehem, ini kasusnya bukanlah kasus yang mudah. Karena ini menyangkut nyawa seseorang. Jadi, kami memerlukan kesaksian yang benar-benar valid.”

”Apakah anak kecil seperti aku yang berumur 16 tahun ini hanya akan membohongi pihak polisi? Apakah aku tidak dapat diberikan kebebasan berbicara? Ini menyangkut nyawa ayahku yang telah direnggut nyawanya dengan begitu tragis. Aku akan memberi kesaksian.”

”Tidak bisa! Kamu tidak memberikan kesaksian yang pasti. Jadi, jika kamu memang ingin kasus almarhum ayah kamu selesai dengan cepat, maka cepat bawa ibu kamu ke kantor polisi untuk dimintai keterangan yang pasti!” Polisi yang ada di sampingnya menyergahku. Segera pergi begitu saja meninggalkan aku yang termenung menatap kepergian mereka tanpa dapat diberikan kesempatan untuk menjelaskan apa pun.

Apa semua orang dewasa semenyeramkan itu? Apa anak kecil seperti aku tidak dapat diberikan keterangan apa pun? Mengapa dunia terasa tidak adil?

Apakah aku tidak dapat diberikan kebebasan berbicara? Ini menyangkut nyawa ayahku yang telah direnggut nyawanya dengan begitu tragis. Aku akan memberi kesaksian.

***

Lima hari kemudian, aku dan ibu pergi ke kantor polisi sesuai dengan surat yang diberikan pihak polisi kepadaku. Aku mengekori ibu, hingga nama ibu dipanggil untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Tentu saja saat ibu dipanggil, hal itu menjadi kesempatan bagiku untuk masuk dengan alasan bahwa aku tidak bisa jauh-jauh dari ibu. Namun, tampaknya, polisi di sana tahu akal bulusku. Mereka segera menghalangiku dan membiarkan ibu masuk seorang diri di ruangan yang bahkan aku tidak tahu bagaimana dalamnya.

”Tapi aku mau ikut ibu!” ucapku memaksa.

”Tidak bisa. Di ruangan ini hanya bisa….”

”Pak polisi tahu apa tentang ibu dan ayahku? Pak polisi bahkan tidak mengatakan apa pun tentang pelaku yang telah mengambil nyawa ayahku. Pak polisi hanya bisa beralibi ini dan itu!” Aku memotong saat polisi itu beralasan yang tidak masuk akal.

Rasanya ada yang tidak beres dalam menangani kasus kematian ayahku, padahal jelas-jelas kasus itu tergolong berat. Yah, aku tahu bahwa aku hanya anak perempuan berumur 16 tahun yang hanya tahu menonton, belajar, dan bermain apa pun yang aku sukai.

Namun, sejak kepergian ayah, sejak kehangatan yang ada di rumah kami hilang secepat angin meniupkannya, sejak itu sadar bahwa kasus kematian ayah bukanlah kasus yang ringan. Dan seharusnya kasus ini lebih diutamakan daripada yang lainnya.

”Pak polisi tidak tahu apa-apa….”

”Nara sayang,” ibu berjongkok di hadapanku. Memegang bahuku kuat. Tatapan itu terasa rapuh dan putus asa. Seolah tak ada lagi yang dapat membuat ibu bersemangat dalam menjalani hidup, karena sosok hangat yang selalu ada di tengah-tengah keluarga kami pergi dengan begitu cepat. Pergi dengan cara yang tragis.

”Kamu tidak boleh mengatakan hal itu, Nara. Polisi tahu apa yang harus mereka kerjakan. Mereka tahu apa yang terbaik untuk menangani kasus ayah. Mereka pasti dapat menangkap pelakunya dan memberi hukuman yang setimpal untuk pelaku itu atas perbuatannya. Jadi, kamu jangan khawatir,” ujar ibu menepuk kepalaku pelan. Tersenyum hambar. Lalu memintaku untuk duduk di kursi tunggu.

Aku termenung mendengar ujaran ibu. Apakah ibu semudah itu menerima semua hal yang terjadi pada keluarga ini? Apa ibu tidak curiga pada sikap polisi yang lelet dalam menangani kasus kematian ayah?

Aku memainkan buku-buku jariku. Menatap ruangan yang baru saja dimasuki ibu dengan tatapan kesal. Jika setelah ibu dimintai keterangan terkait ayah, tetapi tidak ada tanda-tanda akan tertangkapnya pelaku, maka aku akan….

Ah, Nara! Apa yang kamu pikirkan? Mengapa berpikir yang tidak-tidak hanya karena marah dengan takdir yang tidak pernah berpihak kepadaku?

Harusnya aku menuruti ucapan ibu. Bersikap tenang dan berkepala dingin, sembari menunggu kabar tertangkapnya pelaku pembunuhan ayah.

***

Ya, harusnya aku berpikir tenang dan berkepala dingin. Tapi rasanya, semua itu tidak ada gunanya! Ini sudah lima tahun lebih semenjak kepergian ayah. Dan mirisnya, kasus kematian ayah perlahan hanya menjadi berita yang tidak lagi dipandang. Bahkan media massa tidak lagi memberitakan kabar perkembangan terkait kasus yang telah memakan satu nyawa di malam itu.

Aku di sini, duduk menyendiri di dalam kamar. Membaca berita-berita lima tahun lalu dengan saksama. Mencoba menemukan kalimat-kalimat yang begitu mengganjal di hatiku. Beberapa kata telah aku tulis di kertas putih. Kalimat-kalimat itu hampir memenuhi kertas putih tersebut.

Mati secara tidak wajar. Kejadian ini terjadi sekitar lima jam lalu. Sebenarnya siapa pelaku pembunuhan ini? Apa motif pelaku? Identitas korban hampir dihilangkan. Rupa dan fisik korban hangus terbakar. Apa ini berkaitan dengan perseteruan kantor? Mengapa pihak polisi belum mengungkapkan pelaku hingga saat ini?

Kalimat-kalimat itu membuatku berpikir keras. Mengapa berita kematian ayah secepat itu lenyap dalam waktu dua tahun terakhir? Bahkan polisi tidak lagi memberikan laporan terkait perkembangan kasus ayah ke rumah kami. Seolah polisi telah melupakan kasus kematian itu dengan begitu cepat, atau kasus ayah malah dimasukkan ke daftar tunggu karena tidak menemukan titik terang dari kasus itu?

Tuhan, sebenarnya siapa yang tega menghilangkan nyawa ayah? Mengapa pelaku itu begitu gesitnya menghindar dari kasus yang berat ini? Harusnya pelaku itu telah mendekam di penjara selama berpuluh-puluh tahun. Harusnya pelaku merasakan sengsara atas perbuatannya.

”Nara, ayo makan!”

Aku menoleh saat ibu memanggilku dari arah dapur. Aku segera membereskan barang-barang ”penyelidikan”-ku di tempat yang aman. Aku tidak ingin ibu tahu apa yang sedang aku lakukan. Ibu sudah lebih dari cukup untuk melupakan luka yang masih terasa menusuk di hatinya. Sekarang ibu sudah lebih dari cukup untuk menerima kenyataan yang masih terasa pahit untuk dirasakan dan diingat kembali.

”Ibu masak apa nih?” Aku mendekati ibu, memeluknya dari belakang saat ibu sibuk menata makanan di meja makan.

”Tumis kangkung dan sambal ikan tempe. Kamu pasti capek setelah seharian belajar untuk menghadapi UAS besok, kan? Jadi, ibu rasa hari ini kita harus makan enak,” ujar ibu tersenyum.

Senyum yang paling aku rindukan sejak lima tahun lalu. Senyum yang aku harap terbit di bibir ibu. Senyum yang membuat hangat rumah ini walau memang akan ada ruang hampa mendera di hati ibu ataupun di hatiku.

”Hm, bener banget. Soalnya capek makan ayam goreng sama ikan goreng saja. Pengen ada variasi lain,” ucapku mulai menyendok nasi di mangkok berukuran besar.

”Maaf ya, ibu tidak selalu memperhatikan kamu, padahal harusnya sekarang ibu ada di samping kamu. Menemani kamu belajar….”

”Ibu ngomong apa sih? Enggak ada yang perlu disesali, lagian aku sudah besar. Sudah bisa melakukan apa pun sendiri. Umurku sudah 21 tahun, bahkan aku sudah bisa pergi ke kampus sendiri. Berteman dengan banyak orang dan melakukan aktivitas orang dewasa yang sebenarnya. Walau memang sangat sibuk sekali,” ocehku tertawa garing. Mulai menyuap nasi dengan lauk-pauk yang ibu buat.

Tanpa sengaja, aku menatap raut wajah ibu yang sendu. Aku menyelesaikan kunyahan terakhirku, lalu menggenggam tangan ibu erat.

”Bu, tidak perlu disesali lagi. Tak ada yang perlu ibu ingat lagi. Jika memang sekarang satu-satunya jalan adalah dengan ibu sibuk bekerja, aku tidak masalah, Bu. Asal ibu kembali seperti dulu lagi,” ujarku menatap ibu lembut.

Maafin ibu, Nara. Seharusnya ibu melarang ayah….”

”Bu, sudah. Itu sudah berlalu,” potongku menenangkan ibu.

Tok-tok-tok!

Aku dan ibu kompak menoleh ke arah sumber suara. Saling menatap satu sama lain karena tak biasanya sore begini orang mampir ke rumah kami. Terlebih lagi, aku dan ibu memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih tenang.

Ibu beranjak berdiri, diikuti olehku di belakang ibu. Saat ibu membuka pintu rumah, dua orang polisi berdiri tepat di depan pintu. Kejadian seolah seperti reka ulang yang pernah terjadi olehku lima tahun lalu.

”Selamat siang, kami dari kepolisian. Memberi konfirmasi bahwa pelaku telah ditangkap dan kami meminta keluarga korban untuk dapat datang ke kantor polisi saat ini juga,” ucap polisi tersebut dengan tegas.

Aku dan ibu tentu kompak menatap bingung pada apa yang diucapkan polisi itu. Tanpa berpikir panjang, aku dan ibu mengangguk pelan dan segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor polisi.

***

Aku dan ibu menatap bingung di ruangan yang terasa asing bagi kami. Selang beberapa saat, sekumpulan orang masuk ke dalam ruangan tersebut. Beberapa di antaranya memakai seragam. Namun, tiga orang memakai kemeja yang terkesan seperti orang berada.

”Selamat sore, Bu. Bagaimana kondisi keluarga Ibu hari ini? Apakah baik-baik saja? Saya turut berdukacita atas kematian suami Ibu dan turut prihatin atas kasus kematian suami Ibu,” ucap seorang polisi berbadan besar. Dia tersenyum ke arahku seolah senyumnya itu membawa berita gembira bagi keluarga kami.

”Sore, Pak. Kabar saya dan anak saya baik. Terima kasih atas ucapan belasungkawanya, Pak,” balas ibu sopan.

Polisi tersebut tersenyum simpul. Mulai bersikap serius menatap aku dan ibu yang hanya duduk di sofa di seberangnya. Sementara orang-orang yang mengikutinya ada yang berdiri dan duduk di antara dirinya.

”Tadi mungkin Ibu sudah mendengar bahwa pelaku yang telah membunuh suami Ibu telah tertangkap oleh polisi. Maaf atas keterlambatan kami dalam menyampaikan informasi ini. Namun, karena mengingat kasus ini sudah lama berlalu, kami ingin ibu mempertimbangkan beberapa hal atas aju banding yang telah kami terima dari pelaku terkait masa hukumannya. Bagaimana Ibu? Apakah Ibu bersedia?”

Aku yang mendengar ucapan polisi tersebut tentu mengernyit bingung. Tak paham dengan yang dimaksud aju banding masa hukuman untuk pelaku.

”Maksud Bapak bagaimana?” tanyaku menyela ibu dengan cepat.

Polisi itu tersenyum simpul kepadaku. Lalu mulai menjelaskan maksud ucapannya. ”Pelaku mengaku memang terlibat dalam kasus pembunuhan almarhum Pak Randa dan hal itu diakuinya seminggu yang lalu. Pelaku mengakui kesalahannya, tapi dia meminta aju banding atas masa hukumannya, karena dia merasa bahwa kejadian lima tahun lalu itu terjadi saat dirinya masih berumur 16 tahun. Dan hal itu dinilai dengan undang-undang perlindungan anak pada masa itu,” jelas polisi tersebut menatapku secara intens.

Mendengar hal itu, tentu saja aku langsung naik pitam. Apa maksudnya dengan aju banding masa hukuman? Tidakkah dia tahu bahwa aku dan ibu menunggu kabar tertangkapnya pelaku selama lima tahun dan dengan seenaknya pelaku mengatakan bahwa dia melakukannya saat dirinya di bawah umur?

Hoo, jadi maksud Bapak, pelaku tidak memiliki hak untuk dihukum berat sesuai undang-undang kasus pembunuhan? Dan, menurut Bapak, kejadian itu terjadi lima tahun lalu sesuai dengan umur pelaku yang melakukan tindakan kejinya tanpa berpikir panjang? Apa ini sebuah permainan? Apa pelaku memiliki orang dalam di sini? Apa bapaknya seorang polisi sehingga dia dengan sekena hati membunuh orang dan menyadari perbuatannya setelah lima tahun?”

Aku menatap sinis kepada tiga orang yang ternyata duduk di antara polisi berbadan berisi itu. Menunjuk mereka dengan terang-terangan.

”Hei, apa kau kira nyawa orang itu hanya main-main saja? Apa kau kira hukum dapat dibeli dengan uang bapakmu yang merupakan seseorang yang penting di negeri ini? Hah! Harusnya orang seperti kau….”

Hei, apa kau kira nyawa orang itu hanya main-main saja? Apa kau kira hukum dapat dibeli dengan uang bapakmu yang merupakan seseorang yang penting di negeri ini? Hah! Harusnya orang seperti kau….

”Nara, sudah.” Ibu menarik tanganku erat. Menyuruhku untuk duduk kembali dan menenangkan diri.

”Sepertinya anak almarhum Pak Randa sudah sangat menahan emosi, ya,” ucap polisi tersebut terkekeh kecil.

Polisi tersebut mengeluarkan amplop berwarna coklat yang cukup tebal. Lalu menyodorkan amplop tersebut ke arah aku dan ibu.

”Jika ibu dan anak ibu bersedia atas kesepakatan tersebut, maka masalah ini selesai tanpa perlu proses yang panjang. Hal ini tentu saja mengingat bahwa kasus kematian almarhum Pak Randa terjadi lima tahun lalu dan telah lama hilang dari berita media massa,” ucap polisi tersebut. Menatap aku dan ibu dengan begitu lekat. Seolah mengatakan bahwa tak ada gunanya juga aku dan ibu memperpanjang kasus ini.

Mengingat bahwa kami bukanlah orang yang berada di mata mereka. Aku tersenyum sinis. Mengambil amplop coklat itu, lalu melemparkan amplop itu tepat di depan wajah pelaku. Aku segera menarik ibu untuk ikut berdiri.

”Anda kira, keluarga saya segampang itu terluluhkan dengan suapan uang yang tidak seberapa, huh? Jika kasus ini memang tidak dapat ditangani oleh pihak kepolisian, maka saya sendiri yang akan turun tangan, mengadu kepada lembaga yang lebih tinggi. Dan saya akan mengungkap kebusukan kalian semua!” marahku menunjuk mereka dengan tatapan sengit. Menantang mereka atas apa yang mereka perbuat kepada aku dan ibu.

Aku segera menarik ibu keluar dari sana. Dengan hati yang menggebu-gebu, aku berjanji, kasus ayah akan aku selesaikan sendiri. Aku akan menemui lembaga pengadilan yang lebih tinggi dan mengungkapkan semua keganjalan yang telah lama aku temukan selama lima tahun ini. Aku tidak akan segan-segan mengungkap kebusukan dari pihak kepolisian tersebut.

Tuhan, aku tahu ini sulit. Tapi, aku mohon, beri aku kekuatan untuk dapat menyelesaikan kasus ayah yang masih belum menemukan titik terang.

Raudhatul Tassya Khairunisa, lahir di Medan, Sumatra Utara. Merupakan mahasiswi jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Berdomisili di Padang, Sumatera Barat.

sumber : kompas. id,24 Mei 2024.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *