Telanjang matahari kulihat. Jejak kaki mana yang tertinggal di belakang jalan tikus. Semestinya tidak demikan bunyi itu bersembunyi. Ingin menemukannya yang tak ditemukan dalam harapan kosong. Bertanya juga kepada sunyi, mengapa bunyi itu menarik inginku untuk mendekat yang selama ini menjauh?
Apa yang kuminta pada takdir tak begitu berat. Hanya mau jatuh hati pada bunyinya. Padahal belum tentu bunyinya seperti kentut. Adakalanya terdengar samar-samar mendebarkan. Bukan mimpi. Tak habis pikir, bunyi yang memekik mampu membuat kasmaran. Lantas tertidur sampai ngiler di bawah pepohonan Ketapang Kencana di belakang pendopo. Dibilang terkesima lebih daripada itu. Menggilai bunyi itu serasa rindu tak punya rumah untuk berpulang.
Jelas sudah bunyi itu tak pernah menghilang di sepanjang geletar otak. Lengket terus. Seperti lengketnya taik kucing yang terpijak kaki. Menyengat minta ampun. Sudah tahu bau, tetap saja dicium. Tersiksa karena aromanya sudah pasti. Semakin sunyi bunyi itu menyita seluruh hidup. Telah bertaut bunyi itu dalam darah. Rasa yang tertinggal untuk bertemu hanya menyisakan sepetak jarak yang rumit. Tidak juga meragu. Melainkan tak tahan merindu.
Mengabarkan pada tanah yang kemerontang tentang aroma hujan yang dinanti. Rintiknya yang menjadi bait sempurna di tanah leluhur Senembah. Sama denganku yang menantikan bunyi itu menjadi kekasih. Paling tidak, sekalipun menanti masih ada harapan seluas langit. Adakalanya menanti itu bisa membunuh. Yang jelas bunyi itu meninggalkan jejak yang tak ingin dihitung. Dari balik rerimbunan daun, bunyi itu kembali menyentuh hasratku.
Ngiung. Ngiung.
Bunyi menyeringai kuat dari sebalik dedaunan Sonokeling. Tetiba matahari membelai ufuk langit. Tak ditemukan lagi sesuatu hal yang bersembunyi di rerimbunan daun.
Ngiung. Ngiung.
Suara itu telah berpindah ke arah Utara. Mencari untuk menemukan. Sial sudah. Banyak langkah yang tertinggal di lahan kemerontang yang retak. Aroma menyengat getah rambung terendus pekat oleh indera penciuman. Ngiung belum juga ditemukan. Padahal matahari sudah seperempat perjalanan menaungi semesta. Entahlah.
Bunyi itu kerapkali kudapatkan kembali di pematang sore. Terlebih saat matahari mulai mengatup berpaling pada senja. Angin berkesiur membelai ujung daun Tengkawang. Sesekali menggugurkan dedaunannya di pelataran tanah liat. Bolehkah mengeluh pada sunyi yang diam? Belum juga kutemukan Ngiung. Sedari tadi aku sudah memandang tajam ke arah pohon Zombi itu. Bagaimana aku tidak menyebutnya Zombi? Setiap kali melewati pohon itu leherku bergidik. Tegang semua urat leherku. Sontak ingin kebelet pipis. Aneh tahu. Entahlah-entahlah.
Sudah seminggu lewat dua hari. Belum juga ketemu si Ngiung. Mengapa aku percaya kepada dua Voldemort itu? Kata mereka, Ngiung cuman ingin kentut sebentar. Makanya aku percaya dengan perkataan Mbah Lunto dan Nyai Singah. Melepaskannya walau terpaksa. Menyesal. Andai saja aku tak percaya dengan perkataan manis mereka berdua. Tentu saja aku akan memiliki Ngiung seumur hidup.
Jatuh hati untuk pertama kalinya saat berada di kuburan. Berlarut-larut sudah kumenangis di makam seseorang yang kucintai. Belumpun genap setahun bapak mati, mati pula emak.
Lemahnya aku ini. Menangis sesenggukan bagai kuda meringkik. Dari ujung seberang di balik pepohonan Lantana. Kulihat Ngiung bertengger di situ. Terang saja bunyinya yang parau membuatku tertarik untuk mendekat ke arahnya. Aku telah melupa bagaimana aku menangis. Lupa juga tentang airmata punyaku. Tak meratap lagi di kuburan. Aku asyik menikmati si Ngiung beratraksi. Suaranya melengking sampai membuat telingaku pekak. Tapi aku suka. Samasekali tak menggugat caranya bersuara. Untuk pertama kalinya aku bisa berpaling dari airmata semenjak bertemu dengan Ngiung.
Sudah berbagai cara kita lakukan untuk melenyapkan anak setan itu. Tetap saja nihil.
Mereka saja yang enggak ngerti makna. Bagiku bunyi yang dikeluarkan oleh Ngiung merupakan bunyi paling abadi di semesta. Betapa tidak, suara itu mampu memecah kesunyian yang berlagak jadi sok periang. Tak kugubris Mbah Lunto, apalagi Nyai Singah. Mereka berdua sering bertekak hanya gara-gara aku. Benci setengah mati dengan Ngiung. Mereka bilang Ngiung jelmaan iblis bertanduk Unicorn.
Suaranya kerapkali mengganggu mereka berdua yang tengah istirahat di Pendopo Kidul. Mereka juga meyakini, suara Ngiung sebagai bunyi keramat untuk memanggil roh jahat ke kampung. Takut roh jahat emak dan bapak balas dendam kepada mereka berdua yang telah menyia-nyiakan aku. Mereka hanya ingin menguasai harta peninggalan orangtuaku. Aku apalah. Budak malang yang selalu dibenci setengah mati. Tak hanya membenciku, mereka juga teramat membenci Ngiung yang baik hati.
”Owalah, bisa stres aku. Saban hari harus mendengar suara nyeleneh Ngiung si bedebah itu,”
”Kau pikir, kau saja yang stres, ha! Aku juga terkena imbasnya.”
”Siapa suruh mengajak anak setan itu untuk tinggal di sini?”
”Wes, toh. Bentar lagi Magrib. Ora ilok gerutu terus-menerus. Seng sabar wae.”
”Sabar-sabar, endasmu itu!” sahut Mbah Lunto.
”Jadi, apa mau kita buang saja setan gila itu ke neraka?”
”Aku tak habis pikir dengan bocah tengik itu. Jadi gila semenjak ditinggal orangtuanya mati. Eh..eh…gilanya jadi bertambah kuadrat saat ketemu Ngiung. Heran tenan aku,” sambat Nyai Singah.
”Sudah berbagai cara kita lakukan untuk melenyapkan anak setan itu. Tetap saja nihil,” sahut Mbah Lunto.
Mendengar perbincangan dua siluman jahat itu membuatku ingin kabur bersama Ngiung. Betapa piciknya mereka berdua seperti bandit di film Harry Potter. Begitu orangtuaku mati, mereka mendadak baik. Kutahu itu ada maunya. Entah mengapa sesepuh di kampung percaya begitu saja dengan mereka berdua? Padahal banyak warga kampung yang iba atas nasib yang terjadi padaku. Namun sesepuh di kampung tak memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk merawatku. Entahlah oh entahlah.
Badanku saja yang bongsor. Tapi kelakuan seperti bocil. Kata warga kampung aku kurang sak muk. Ada kurang-kurangnya gitu. Biar saja mereka bilang aku kurang sak muk. Yang penting semasa orangtuaku hidup, mereka berdua menilaiku sebagai anak yang waras. Terbukti toh, seluruh lahan rambung yang berhektar-hektar. Mereka wariskan kepadaku. Karena aku pernah bilang kepada mereka berdua ingin membangun rumah amal. Tentu saja untuk anak-anak yatim piatu di kampung. Kini warisan lahan itu telah dikuasai oleh dua Voldemort kurang ajar itu.
Aku bersumpah serapah akan aku kutuk Mbah Lunto dan Nyai Singah jadi batu. Tapi kan mereka berdua bukan anak durhaka. Mana bisa jadi batu seperti cerita Malin Kundang. Orang yang sudah tua bangka dan bau tanah seperti mereka berdua cocoknya dikutuk jadi apa ya?
Aha. Aku baru ingat. Mereka akan aku kutuk jadi Scooby-Doo. Anjing baik hati kepunyaan Shaggy. Ups nanti dulu. Mereka berdua tak pantas jadi anjing baik hati. Mereka kan jahat. Lantas dikutuk jadi apa? Ya, sudahlah mereka akan aku kutuk jadi Ngiung biar mereka belajar untuk menjadi binatang yang paling bersyukur. Tak mempermasalahkan mengapa bunyinya begitu memekik bahkan terlalau mengusik.
Tengah malam saat petugas ronda selesai keliling kampung. Mbah Lunto dan Nyai Singah menerobos masuk ke dalam kamarku. Mencuri Ngiung yang tengah tidur pulas bersamaku. Dengan mata kepalaku sendiri, aku tahu aksi kejahatan yang telah dilakukan oleh dua Voldemort itu. Ekor Ngiung telah terpenggal. Mistis. Aku hanya bisa melongo.
”Ngiung mau kentut sebentar. Biarkan ia menemukan ekornya sendiri,”
”Ekornya masih terlempar jauh ke neraka,”
Samar-samar terdengar suara lirih seperti tengah berada di dalam gua.
Tersihir. Tumbang seketika. Entah ajian apa yang digunakan oleh dua manusia terkutuk itu. Tega benar mereka memisahkan aku dengan Ngiung. Antara sadar atau tidak. Langit menghitam pekat. Angin gunung berkesiur lantang. Apakah bumi Senembah telah murka? Melihat seorang menungso lemah seperti diriku teraniaya. Kulihat Mbah Lunto dan Nyai Singah punya sayap. Wajah mereka mirip sekali dengan Ngiung. Kedua mata mereka mendosol persis si Ngiung. Yang jelas kini mereka tengah bertengger di pepohonan Tengkawang. Telingaku dengan jelas mendengarkan bunyi nyaring itu. Mereka berdua telah dikutuk oleh semesta menjadi Ngiung.
Itulah manusia berhati iblis. Merampas yang bukan haknya. Bahkan memisahkan dua makhluk ciptaan Tuhan yang sudah seperti keluarga. Lambat laun kucium semerbak aroma Lantana. Menusuk hidung. Di makam emak dan bapak, kulihat Ngiung tengah hinggap di bawah batu nisan. Nelangsa. Yang kulihat hanya imajinasi liarku belaka. Sekalipun Ngiung hanya seekor cenggeret yang punya suara parau. Kehadirannya yang tak disukai oleh warga kampung. Membuatku tak akan berpikir dua kali untuk mengutuk mereka menjadi Ngiung.
Ngiung. Ngiung.
Bumi Senembah kembali pekat dengan langit menghitam. Sesayup angin dari Selatan berhembus dengan lirih kencang. Di atas langit beribu-ribu cenggeret beterbangan meliuk-liuk bagai prajurit perang yang ingin menaklukkan. Hingga detik ini, jejak Ngiung belum juga kutemukan dalam harap yang tak terjawab.
Di balik semak belukar, Mbah Lunto dan Nyai Singah bersembunyi. Terendus sudah jejak mereka berdua. Kematian tak mampu dihindari. Nyawa menjadi buruan yang paling dikejar. Mereka berdua seperti dua lilin yang akan segera padam, karena angin badai menerjang dengan ganas. Diserbu, dihalau, dibinasakan dalam sekejap mata. Mati dalam keburukan yang menjadi buah yang mereka tanam dahulu.
Aku sendiri duduk di samping makam emak dan bapak. Berdoa sebagai jalan mengutarakan rasa rinduku kepada mereka berdua. Tak kutemukan keberadaan Ngiung. Siapa lah aku yang mengharapkan untuk bertemu dengannya? Tak juga menemukan rindu. Segala cerita tentang Ngiung terus bermunculan di geletar otak. Kudapati sunyi dan hujan bercinta dalam semusim kali ini. Entahlah, aku ingin pulang bersama emak dan bapak. Barangkali bisa bertemu dengan Ngiung di negeri kudus yang suci. *****
(TG Morawa Gang Murni 2024 SDN 104234 Medan Senembah)
Sumiati Al Yasmine, penulis fiksi yang berdomisili di Medan Senembah TG Morawa.
sumber : kompas.id, 17 Mei 2024.
