Cerpen : Bising oleh May Wagiman

”Brak!!” Apartemenku bergetar.

Aduuuh…! dalam hati menggerutu kesal. Berisik! sudah tahu apartemen ini usianya sudah uzur. Usia 30 tahun untuk ukuran gedung apartemen, kalau di usia manusia mungkin sudah harus pakai tongkat atau dipapah, sungutku berbaring di tempat tidur.

Meskipun terdengar melodramatik, aku tak peduli. Kesal habis karena setiap kali pintu apartemen diempas keras, apartemen kecilku ini bergetar kuat. Belum lagi kalau shutter jendela tertutup. Getaran keras dan bunyi shutter sering kali membangunkan tidur.

Pindah aja, suara di kepala menyela. Aku mau, tapi…. Lokasi apartemen ini strategis. Lima menit jalan kaki ke stasiun kereta api. Daaan… areanya dekat dengan Kichijoji. Untung banget! teman kantor kasih lihat hasil survei kantor properti lokal. Kichijoji ada di ranking pertama area tempat tinggal paling populer.

Menurutku, setidaknya pendapatku pribadi, area Kichijoji tetap di spot tertinggi sampai sekarang. Ada taman besar, banyak toko-toko kecil unik, puluhan restoran dan kafe trendi untuk hang out. Kurang apa lagi? tinggal di dekat area ini praktis dan menguntungkan.

Gedung apartemenku beberapa kali direnovasi. Pemerintah Jepang sangat ketat untuk masalah standar keselamatan. Kebayang kalau tiba-tiba ada gempa besar. Sayangnya satu hal, renungku. Bagian yang direnovasi cuma bagian luar gedung. Bagian dalam apartemenku, sih, masih saja sama.

Mungkin, untuk mengganti kerangka bangunan gedung, seluruh gedung harus dirobohkan dan semua penghuni apartemen harus keluar. Aku tak yakin pemiliknya mau ambil risiko kehilangan pemasukan dari 10 sampai 20 apartemen yang disewakan. Pilihan untukku cuma: tetap tinggal di sini atau mencari apartemen baru. Galau.

***

”Brak!!”

”Gila! apa enggak tahu ini sudah jam 11 malam,” pekikku. Berseru sendiri.

Aku baru selesai mandi dan berniat langsung mengempaskan badan ke tempat tidur karena ada meeting daring besok pagi. Alih-alih bisa langsung tidur perasaanku penuh rasa kesal.

”Berisik! berisik!” teriakku menutup mulut dengan bantal. Dinding apartemen kayu yang tak terlalu tebal bisa membuat tetangga kiri kanan menelepon nomor 110.

”Sabar… sabar….” Aku berkata sendiri sambil mengelus dada.

Kubuka Ipad dan mencari-cari video yang biasa aku dengar kalau otakku dalam kondisi hyperactive ter-charged 100 persen. Akhirnya aku tekan video sleep hypnosis, meletakkan gadget di atas meja kecil di samping tempat tidur, dan perlahan terhipnotis.

***

Tim kerja di kantor saat ini bekerja dari rumah untuk proyek baru kami selama seminggu sambil mencari data yang perlu. Pagi ini tepat pukul sembilan semua teman kantor sudah muncul di layar monitor. Diskusi langsung dibuka.

”BRAK!!”

Kali ini bunyinya lebih kuat daripada biasa. Hampir kupikir ada gempa bumi.

Kamar apartemenku bergetar hebat.

”Ronan-san, nani sore? (apa itu?)” Salah satu rekan wanita bertanya kaget.

”Tetangga menutup pintu,” jawabku di bahasa Jepang.

Bikkuri shita! Itsumo sou nano? (Kaget! selalu seperti itu?)”

”Maaf, bikin kaget. Enggak selalu, tapi sering. Maaf, maaf.” Aku tersenyum kecut sambil meminta maaf beberapa kali.

Semua rekan di layar menunjukkan wajah ikut bersimpati.

Perasaan tak enak terus ada sepanjang hari. Kapan fenomena membanting pintu ini mulai? Tiga tahun yang lalu, mungkin? Sepertinya sejak aku mulai tinggal di apartemen ini. Sering terlintas di pikiranku untuk membuka pintu dan melihat siapa biang kerok kebisingan ini. Jangan-jangan tak hanya satu orang.

Maaf, bikin kaget. Enggak selalu, tapi sering. Maaf, maaf.

Namun, aku selalu ragu untuk melabrak langsung. Pertama, aku khawatir dengan balasan verbal yang mungkin tak enak. Kedua, aku cemas dengan statusku sebagai orang asing. Siapa tahu ternyata ada hukum tentang melabrak orang lain di negara ini. Bisa panjang urusannya.

Perlu dipikir matang-matang. Mau lapor pemilik gedung sepertinya susah.

Karena aku tak tahu siapa yang bisa ditegur. Menuduh tanpa bukti bukan hal yang patut juga. Galau, galau….

Pindah aja. Lagi-lagi suara di kepala.

Aku mau, tapi….

Lokasinya itu… dan biaya sewanya. Terjangkau kocek. Aku menggaruk-garuk kepala sambil terus makan hati di depan laptop. Selain juga, aku beralasan, tak ada jaminan di tempat yang baru tak ada problem yang sama.

***

Seminggu lewat cepat. Waktunya untuk mulai bekerja kembali dari kantor.

Setelah tujuh hari terbiasa dengan bangun agak siang, pagi ini harus ada usaha ekstra untuk bangun lebih pagi dan bersiap untuk mulai mengejar kereta api lagi.

Mengecek ulang apa yang harus dibawa hari ini. HP, laptop, charger, dompet, kartu e-money untuk kereta, beberapa berkas dokumen; semua ada di dalam ransel hitam. Aku segera beranjak untuk keluar. Melirik jam tangan, masih ada waktu tujuh menit untuk mengejar kereta api pukul 07.03 pagi.

Aku menutup pintu dan bergegas mengunci.

Tiba-tiba. ”Sumimasen! (Maaf/Permisi!).”

Aku menoleh ke arah suara dari apartemen di sebelah kiriku. Kepala seorang laki-laki muda (anak kuliahan?) terlihat dari pintu yang setengah terbuka.

Tak menyangka. ”Ya.” Aku menjawab sopan.

Sumimasendekireba shimeru toki nishizukani shite moratte mo yoroshii desu kasumimasen.”

Wajahku menjadi merah seketika.

Gomen nasaiWakarimashitaSumimasen! (Maaf! Mengerti. [Lain kali tutup pintu pelan-pelan]. Maaf!)” jawabku langsung dan cepat-cepat berjalan ke arah stasiun.

Kereta api pukul 07.03 terlewat. Di peron aku berdiri mengantre dengan wajah masih seperti kepiting rebus. Tenang, tenang, bujukku dalam hati. Rasa malu memenuhi dada. Saat duduk di kereta, baru aku bisa menengok kembali kejadian beberapa menit yang lalu.

Salah satu biang kerok kebisingan itu ternyata, aku!!

Kenapa bisa seperti ini? pikiranku bertanya-tanya mencari celah alasan yang mungkin bisa dipakai. Seingatku selalu menutup pintu pelan-pelan. Membanting pintu sepertinya tak pernah. Kuingat-ingat lagi…, iya betul! selalu pelan, otakku mengajukan dalih.

Tunggu! suara lain di kepala memprotes. Mungkin kamu sama sekali enggak sadar kalau selama ini selalu menutup pintu dengan kuat. Enggak sepelan yang kamu pikir sebelumnya. Suara di otakku terus menganalisis.

Bisa jadi tetangga kiri kananku, bahkan di depan kamarku, frustrasi dengan bunyi pintu yang kututup selama ini. Tapi… mungkin mereka juga menimbang-nimbang lama seperti aku untuk mengeluh. Sampai akhirnya tetangga sebelah, yang mungkin sudah tak kuat lagi, memutuskan untuk menyampaikan keluhannya. Dengan sangat sopan, pula.

Ha-ha! kudengar suara di kepalaku menertawakan.

Betapa ironis. Sang penuduh menjadi salah satu yang tertuduh. Perjalanan selama di kereta api seperti blur. Tak ingat saat turun di stasiun Tokyo dan berjalan ke arah gedung kantor dengan rasa malu yang masih menggantung.

***TAMAT***

Catatan:

1. ”Sumimasendekireba shimeru toki nishizukani shite moratte mo yoroshii desu kaSumimasen.”: ”Maaf, kalau bisa tolong tutup pintu pelan-pelan. Maaf.”

2. Nomor 110: Nomor telepon polisi di Jepang.

Bernama pena May Wagiman, penulis ini berasal dari kota Bandung. Meskipun bisa dibilang telat menerjuni dunia tulis menulis, May merasa lebih baik telat daripada tak dimulai sama sekali. Saat ini aktivitasnya diisi dengan mengajar dan menulis, tak hanya cerita pendek, tetapi juga artikel di Kompasiana.com. Selain sebagai pengajar dan penulis freelance, ia mengisi waktunya dengan membaca, berlatih yoga, atau melukis.

sumber : kompas.id, 15 Mei 2024.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *