Cerpen : Pohon Permintaan oleh Sudi Setiawan

Manusia itu aneh. Aneh sekali. Bagaimana mereka yang diberi akal berharap pada sebuah pohon? Apalagi yang diharapkan adalah sebuah kehidupan duniawi. Sekali lagi kukatakan, manusia itu aneh. Aku yang sudah hidup ratusan, bahkan ribuan tahun lamanya, hidup memperhatikan bagaimana sebuah peradaban manusia tumbuh dan perlahan mengalami kehancuran. Aku luput menyaksikannya. Yang pasti, semenjak aku menunggu pohon asem yang tersisa sendiri dari masa ke masa, manusia semakin menjadi-jadi. Entah sejak kapan pula, pohon asem yang kujaga ini menjadi ajang permintaan manusia yang fana yang mereka sebut sebagai Pohon Permintaan.

Pohon Permintaan bagaikan Tuhan kedua yang mereka pinta, apa pun itu. Kekayaan, jabatan, jodoh, dan kadang pula nomor togel. Kuingatkan kembali. Manusia itu juga bodoh. Kalo boleh jujur saja, aku ingin berkata dengan lantang ke telinga-telinga mereka, ”Kau salah meminta kepadaku, penunggu Pohon Permintaan yang kau anggap memberi segalanya. Tuhan yang seharusnya kau minta.” Itu saja. Yang lebih menyebalkan lagi, mereka tidak bisa mendengarkan perkataanku selama ini. Percuma saja aku berkata hingga mulutku berbusa sekalipun.

Hingga semua pandangan buruk tentang manusia itu berubah. Tentu, awalnya aku menolak semua kenyataan itu. Hingga pada suatu kesempatan dan takdir yang telah diputuskan. Aku bertemu dengannya, makhluk mungil bernama anak-anak. Aku masih ingat dengan jelas. Bagaimana anak kecil itu menodong pertanyaan yang membuatku sedih tak berkesudahan.

*

”Kau salah meminta kepadaku, penunggu Pohon Permintaan yang kau anggap memberi segalanya. Tuhan yang seharusnya kau minta.”

Hujan malam ini menjelma seperti sebuah tangisan tanpa henti, entah sejak kapan hujan ini terasa begitu sepi. Bahkan kesiur angin pun bertiup pelan. Hanya mampu menggoyangkan dahan-dahan kecil dari Pohon Permintaan. Apakah perasaanku saja yang merasakan ini? Atau semua makhluk semesta juga merasakan hal yang sama, sebuah kesepian. Sudahlah, bagaimana perasaanmu nanti, ketika mereka tahu si ”Paling Menyeramkan” seantero Bumi Utara ini merasa kesepian? Ini akan menjadi berita lucu untuk para penghuni gaib di kota ini.

Di tengah perasaan gundah gulana, aku kedatangan tamu yang tak terduga, makhluk mungil bernama anak-anak. Duduk termenung setelah ditinggal pria paruh baya dengan motor bersuara bising-sepuluh menit yang lalu. Anak laki-laki itu hanya duduk bergeming, bibir merengut ketakutan dan sepiring sajian di atas kedua tangannya yang kecil.

”Kasihan. Kau hanya menjadi korban dari keserakahan manusia bodoh.” Ucapku, sembari menggeleng-gelengkan kepalaku ke kanan dan kiri. Manusia itu lebih mengerikan daripada kami. Bisa-bisanya, dia meninggalkan makhluk mungil tak berdosa ini sendirian di tengah gelapnya malam.

”Siapa manusia bodoh itu paman?” jawabnya dengan nada kebingungan. Aku terbelangah mendengar jawabannya, kucondongkan badanku yang besar mendekati tubuhnya yang mungil. Mengendus baunya yang sewangi semanggi.

”Kasihan. Kau hanya menjadi korban dari keserakahan manusia bodoh.”

”Kamu bisa mendengarku? Anak cecak?” Tak percaya dengan apa yang baru saja kudengarkan.

”Siapa anak cecak paman?” Ia memutar badannya, mencari keberadaanku yang berdiri tegak di sebelah pohon asem yang berbalut kain motif kotak-kotak berwarna putih yang telah lusuh.

”Benar! Kamu bisa mendengarku.” Entah perasaan senang, atau karena sudah ribuan tahun kesepian. Rasanya, suara-suara kebisinganku selama ini tidaklah sia-sia. Akhirnya, ada manusia yang bisa mendengar celotehan sampahku.

”Anak manis, siapa namamu?” Tanyaku, hati merekah ruah seperti buah yang ranum dengan taring-taring gigi yang menyeringai keluar.

”Aku…” anak itu menggigit bibirnya. Apakah dia ragu? Atau takut karena aku adalah makhluk menyeramkan?

Belum sempat berpikir aneh-aneh yang lain ia menjawab dengan lugu. ”Danu”.

”Danu….” Lanjutku, mangut-mangut mencoba menghafal nama manusia mungil ini. Aku senang, untuk pertama kalinya aku memiliki seseorang yang bisa diajak bicara dari bangsa manusia, terlepas dia hanya anak kecil yang masih polos sekaligus. Perasaanku seperti sedang berbunga-bunga. Perasaan aneh apa ini?

”Kau mencari paman?” Tanyaku, gerak-gerik yang sedari tadi memutar-mutar seakan mencari keberadaanku. Rambut yang dipotong cepak, menambah kesan manis pada anak laki-laki itu.

”Aku hanya bisa mendengarmu paman, aku….”

Nada suaranya rendah, seperti anak burung kutilang yang kerap kali bersarang di pohon yang menangis kelaparan, kecil dan penuh kelemahan. ”Aku tidak bisa melihat.”

Dek! Ah, apa ini!

”Benarkah?” Mendengar itu, ada perasaan yang berkecamuk di hati. Runyam dan tak bisa kujelaskan bagaimana rasanya. Apakah ini rasa kasihan kepada manusia? Ah, aku tidak suka ini. Kenapa aku menjadi sedih!

Danu hanya mangut-mangut pelan, pertanda dia tidak berbohong. Ya, walaupun dia tak mangut-mangut pun, aku percaya kepadanya. Aku bisa melihat kedua matanya berwarna putih, aku tak bisa melihat lebih dalam tentangnya, bagaimana kehidupannya selama ini dan yang pasti bagaimana perasaannya selama ini menjadi buta.

Aku hendak mengelus rambutnya, tapi aku sadar. Tanganku bisa saja melukainya, kukuku terlalu tajam untuk kulitnya yang terlalu lembut. Aku hanya bisa menghela napas.

Kami terikat oleh sebuah percakapan layaknya seorang anak yang mengeluh kepada kakeknya. Tapi tak apalah dia memanggilku seorang paman, hitung-hitung aku lebih muda dari usia yang seharusnya. Walaupun begitu, aku harus berbicara dengan bahasa manusia yang paling sederhana-agar dia paham, suaraku menjadi lebih lembut dan tanpa sadar, aku selalu tersenyum menyeringai. Bahkan mbak-mbak Kunti, mas Poci dan para siluman di sekitar Pohon Permintaan tertawa melihat caraku berkomunikasi dengan makhluk mungil bernama anak-anak ini.

”Paman, kata bapak di sini ada setan mengerikan. Aku takut paman,” ucapnya, layaknya anak-anak yang perlu perlindungan dari orang yang dewasa.

Mendengar itu aku langsung memasang mode seram memastikan semua sosok mengerikan di sekeliling kita berdua untuk pergi jauh-jauh. ”Katanya, setan penunggu Pohon Permintaan ini suka menculik anak-anak sepertiku.”

Mendengar itu, aku seperti dibanting ke tanah setelah dilambungkan tinggi di udara. Bagaimana bisa, yang dibicarakan anak kecil ini adalah aku. Rasanya, ingin sekali aku menyumpah serapah kepada bapaknya malam ini juga. Pernyataan itu memantik amarah sosok penunggu yang paling menyeramkan di Bumi Utara. Sejak kapan aku menculik anak-anak? Bahkan permintaan mereka saja aku tidak pernah aku tanggapi. Apalagi menculik anak-anak seperti Danu? Aku makhluk yang punya hati nurani, layaknya manusia yang ada dunia ini.

”Setan itu tidak jahat. Dia baik sekali, tetapi dia tidak suka manusia yang meminta-minta kepadanya.” Jawabku, mencoba mencari pembelaan atas apa yang mereka katakan. Ini bukan soal pembenaran, tetapi ini adalah pernyataan resmi dariku si penunggu Pohon Permintaan.

”Seperti permintaan bapak ya paman?”

”Benar. Permintaan untuk kaya raya.”

Sudah kuduga dari awal, permintaan manusia itu sama saja. Tak jauh-jauh dari kenikmatan duniawi yang tidak pernah putus.

”Aku sudah bilang ke bapak. Tuhan marah kalau kita meminta kepada setan.” Danu memilih duduk di tanah yang kering dan dedaunan pohon yang jatuh sebagai alasnya. Ya, kalian harus tahu. Di sini hanya ada satu pohon besar yang dikelilingi dengan sajian permintaan manusia, sekali lagi mereka menyebutnya sebagai Pohon Permintaan.

”Danu benar.” Aku ikut duduk, pelan-pelan agar tidak menimbulkan kegaduhan.

”Paman, boleh Danu bertanya?” Kenapa dia suka bertanya? Pikirku.

Aku sebenarnya bukan makhluk sosial seperti apa yang biasanya manusia bilang, aku hanya makhluk halus yang menunggu Pohon Permintaan. Itu saja. Tapi melihatnya yang serba ingin tahu, aku jadi enggan jika melewatkan kesempatan berbicara kepadanya.

”Apa Danu anak pembawa sial? Karena tidak bisa melihat?”

Dek! Mendengar itu, hatiku perih. Sesuatu melukai hatinya yang suci. Bagaimana bisa, anak senaif ini memiliki pikiran yang begitu hina? Apakah bapaknya itu selalu berkata menjijikkan kepada anaknya sendiri? Sekali lagi rasanya aku ingin memberi bapaknya satu bogem mentah yang merontokkan tulang-tulangnya.

”Danu, anak yang baik. Di dunia ini tidak ada anak seperti itu. Semua anak sama saja, dia terlahir sempurna di mata Tuhan. Danu tidak harus berpikir demikian”. Kenapa? Aku ingin memeluk anak ini!

Apakah bapaknya itu selalu berkata menjijikkan kepada anaknya sendiri? Sekali lagi rasanya aku ingin memberi bapaknya satu bogem mentah yang merontokkan tulang-tulangnya.

”Danu sedih.” Ia menunduk. Ia seperti kehilangan jati diri. ”Tidak bisa pergi sekolah seperti teman-teman. Danu tidak beri waktu untuk bermain…. Danu hanya diminta mengantarkan makanan ke tempat-tempat gelap dan menyeramkan….” Anak kecil ini merengutkan bibirnya lagi, wajahnya redup bak malam tanpa rembulan. Ah, kenapa aku merasakan kesedihan manusia.

”Tidak apa-apa, nanti biar paman yang akan memberi tahu ke bapak Danu. Kalo Danu ingin sekolah….” Danu mendongak kepalanya ke atas, wajahnya yang penuh kegamangan seakan tahu bahwa aku berkata demikian untuk menenangkan hatinya yang terluka. Entah, senyumnya yang bermula manis kini terasa begitu pahit di mataku. Hingga, sebuah kalimat keluar dari mulutnya.

”Paman, apa itu kematian?”

”Kenapa bapak selalu berkata pergi saja menyusul ibu yang mati?”

Aku terdiam seribu bahasa.

*

Bulan Juni akan segera berakhir setelah sepekan lebih hujan membasahi seluruh lapisan tanah yang ada di kota ini. Terpaan angin Muson itu juga merontokkan dedaunan Pohon Permintaan satu per satu. Aku mengingatnya sebagai bulan di mana, aku bertemu dengan makhluk mungil bernama Danu di kegelapan malam yang mengerikan.

Amat disayangkan, pertemuan singkat itu berakhir pada kerinduan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Rindu itu memberatkan hatiku, dilepas tak bisa, dilupakan tak sanggup. Apakah manusia-manusia seperti ini. Bagaimana mereka bisa bertahan dengan kerinduan? Dulu, aku menganggap bahwa manusia itu aneh. Dan ternyata, perasaanku pada seorang manusia lebih aneh lagi.

Danu pulang dengan guratan senyum ramah kepadaku, terlihat kelu tetapi menenangkan perasaanku. Ia pulang bersama bapaknya yang gila harta dan kenikmatan duniawi. Sial. Bagaimana anak semanis itu memiliki orang tua sekejam itu! Tuhan apakah takdir malang itu harus jadi miliknya?

Di tengah rasa kesepian yang menggebu, Bakuda-Si Penunggu Bukit Sambung, mendatangiku dengan wajah yang seram penuh kerisauan.

”Seluruh penghuni Bumi Utara sudah mengetahuinya.”

”Apakah itu benar? Kau kesepian Sakti Muji?” Tanya Si Penunggu Bukit Sambung menghadapku, duduk di samping Pohon Permintaan bersamaku.

Aku mendongak ke arah bulan yang menelisik ke dalam kegelapan malam. Berharap benda angkasa itu memahami perasaanku saat ini.

”Apakah manusia bisa hidup dengan kerinduan?” Aku menolehnya-Bakuda, meminta sebuah penjelasan yang tak pernah kutemui jawabannya.

”Kerinduan?” Bakuda berpikir, wajahnya terlihat serius dengan pertanyaanku.

”Ya, perasaan yang sulit kujelaskan. Sekalipun dengan kata-kata, aku tidak tahu kalimat apa yang tepat untuk menggambarkannya.”

”Apakah ini soal Danu?”

”Anak kecil itu…,” suaraku tertahan di tenggorokan. Tertahan di sana dan tak ingin keluar dari mulutku.

”Dia sudah tahu tentang kematian…,” pekiknya. Bakuda ikut memandang bulan yang indah malam ini.

”Tuhan telah memintanya kembali. Dunia ini terlalu kejam untuknya, untuk anak semanis Danu. Kita tahu, Tuhan tidak akan pernah rela permatanya hanya akan menjadi permainan manusia-manusia yang hina. Demikianlah Tuhan berkehendak. Dia lebih menyayangi Danu di surganya.” Bakuda terlihat tenang, apakah dia tahu bagaimana rasanya menahan rindu.

Kita tahu, Tuhan tidak akan pernah rela permatanya hanya akan menjadi permainan manusia-manusia yang hina.

”Ya, kau benar. Dia akhirnya tahu tanpa perlu memintaku penjelasan lagi…,” jawabku sedikit getir memahami arti kematian. ”… Aku hanya sedih… rin….” Belum usai aku meneruskan perkataan ku, telinga mendengar suara yang sudah lama kunantikan, suara renyah kekanak-kanakan yang menggemaskan. Suara itu menumbuhkan gairah rindu yang langsung pecah seketika.

”Paman.”

Dek! Jantung berdebar.

”Aku bisa melihat paman sekarang. Kenapa paman begitu lucu.”

***

Sudi Setiawan, penulis kelahiran Bangka yang sedang mengenyam pendidikan S-1 Manajemen di Universitas Bangka Belitung. Karya cerita pendeknya ”Marthapram” (2022) telah dibukukan dalam Antologi Cerita Pendek Pulpen Saya Jilid IISemangkuk Mi Ayam dan Kenangan (2023) terbit di harian Kompas, dan pemenang sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjudul ”Ketupat Gong di Bukit Nenek” (2023).

sumber : kompas.id, 16 Des 2023.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *