Cerpen : Matinya Serai dan Ruku-ruku Ibu oleh Arif Purnama Putra

Lihatlah, ayah, orang-orang itu memiuh serai dan ruku-ruku di halaman rumah kita seperti mengambil nakal dari penyamun orang pantai barat. Tidak kulihat ia meminta izin kepada ibu untuk memiuh tanaman kesayangannya itu, selain basa-basi mematah batang. Tidak aku dengar pula ibu marah-marah pada mereka. Halaman kita disiangi olehnya, lapang seperti anak-anak selesai bermain. Rumput-rumput mati, tanah tinggal jejak sepatu. Aku menyuruk ketika dari kejauhan ibu melihat gerombolan itu, ibu tidak bisa berbuat banyak selain mematung di halaman.

“Tarik pelatuk dari bedilmu itu!!” teriak seorang serdadu dari jauh.

“Ikat dia di pohon, buat buhul mati untuk kedua tangannya. Sumpal mulutnya sekalian. Orang mau mati tidak boleh berisik!”

Tiba-tiba suara bedil meletus, seorang pria jatuh bersimbah darah. Merahnya seperti amarah yang mengalir di rumah-rumah dusun kita. Tapi ibu masih berdiri di halaman rumah, sedang aku menyuruk tak tanggung takutnya. Dari celah dinding rumah kita, aku sesekali mengintip.

Lihatlah, ayah, serai dan ruku-ruku ibu tinggal tanaman reyot. Bunganya telah menjadi tanah liat bekas jejak serdadu, aromanya menyebar, seketika hilang dibawa angin. Biasanya ibu akan memberikan tangannya untuk aku cium, agar aku tau bau serai dan ruku-ruku. Atau sesekali ia menyuruhku membedakan mana terong masak dan terong beracun. Ibu memang kerap memberikan pelajaran-pelajaran demikian.

Tapi, ayah, lihatlah. Tak ada lagi yang tumbuh di halaman rumah kita selain tangis sungsang dari letusan bedil, dari satu peluru serdadu yang menembus sampai ke ubun-ubun pria malang itu. Ibu hampir saja jadi sebatang pohon serai di halaman rumah, saking lamanya ia berdiri. Tak ada air mata keluar dari mata ibu aku lihat, apa lagi histeris. Semakin lama aku menatap wajah ibu, semakin merah padam pula raut wajahnya. Matanya sirah seperti nyala matahari, air wajahnya tak surut seperti pasang di dusun kita.

Aku benar-benar tidak bisa berbuat banyak, ayah. Kau pasti tau bagaimana perintah ibu tidak boleh dilanggar. Aku tetap menyuruk di sudut paling jauh, sudut yang kau sendiri tidak dapat menemukannya. Ibu membuatkan sudut khusus untukku, bila sewaktu-waktu situasi genting, setidaknya aku bisa menyelamatkan diri di sana.

Tak ada lagi yang tumbuh di halaman rumah kita selain tangis sungsang dari letusan bedil, dari satu peluru serdadu yang menembus sampai ke ubun-ubun pria malang itu. Ibu hampir saja jadi sebatang pohon serai di halaman rumah, saking lamanya ia berdiri. Tak ada air mata keluar dari mata ibu aku lihat, apa lagi histeris. Semakin lama aku menatap wajah ibu, semakin merah padam pula raut wajahnya. Matanya sirah seperti nyala matahari, air wajahnya tak surut seperti pasang di dusun kita.

Sayang sekali kau belum sempat ke persembunyian ini. Tapi jangan takut, bila musim berbilang baik, kita akan bersembunyi di sana. Lihatlah, ayah, ibu tak kuasa menahan tangisnya setelah para serdadu pergi meninggalkan halaman rumah. Ia masih tetap memberikan isyarat kepadaku untuk tetap menyuruk. Setelahnya aku baru melihat air mata ibu jatuh seperti hujan tengah hari. Hujan yang deras, tapi matahari tetap nyalang. Itu hujan penyakit kalau orang-orang dusun kita katakan. Tapi saat itu aku tidak tau persis, apa yang dirasakan ibu selain amuk—amarah berkelindan.

Setelahnya orang-orang kita keluar, mengkremasi mayat malang itu, satu lubang sudah dipersiapkan untuknya. Tanpa ritual apa-apa layaknya orang mati di dusun kita. Aku melihat dengan jelas ayah, matanya menatap tajam sesampai dalam liang, tak ada kelihatan wajah risau yang mengantarkannya kepada hari naas. Ia berbaring di liang dengan tangan bersimpul ke perut. Sesekali orang-orang melantunkan doa-doa, sebagian menahan tangis, sebagian lagi bisik-bisik gerutu. Lagi, ayah, aku menatap wajah ibu merah padam, sirah seperti matahari tenggelam. Tapi matanya hanya binar yang tak kunjung mengeluarkan bulir air. Aku tidak tau apa yang dipakai ibu bisa sebegitu tenang. Malah, aku melihat sosok berbeda dari ibu yang aku kenal. Ia berubah sejak kejadian di halaman rumah; tidak banyak bicara dan air wajahnya tak surut-surut. Layaknya seorang peminum tuak ragi yang sanggup mengantarkan matanya tak tidur berhari-hari, persis sama seperti merah matamu.

Lihatlah, ayah, apa yang tak mampu lagi kau lihat. Orang-orang yang datang dari sudut-sudut khusus hanya meninggalkan sepatah doa pengantar kematian. Lubang-lubang dibuat sebagai sudut khusus, setelah itu menjadi tempat paling abadi pula dalam hidupnya. Betapa serdadu-serdadu itu meneror kita setiap hari, padahal mereka tidak punya tujuan jelas mendatangi dusun. Entah apa yang mereka cari, entah apa pula yang mau mereka ambil. Toh, semua yang kita punya sudah jadi kepunyaan mereka.

Sudut yang dibuat ibu barangkali kelak juga menjadi liang kematianku. Aku hanya menunggu dewasa, kemudian tinggal sepatah doa pula dari kawan sejawat. Tapi harapanku pada ibu bukan tentang kematian, melainkan bagaimana ia mempekerjakan dirinya berbeda dengan orang-orang lainnya. Nampak seperti perempuan umumnya, namun tak pernah sanggup dipegang siapa-siapa. Kelihatan murah hati, tetapi tak pernah terjebak barangsekali. Para serdadu tak ubahnya seperti gerombolan jawi di tengah padang rumput, jika tak sanggup berebut di sana, mereka akan menyasar padang gerombolan kambing. Aku kira, kita adalah kambingnya. Setelah mereka tak mendapatkan makanan di kota-kota besar, maka dipesuruhlah oleh tuanya untuk bergerilya ke dusun-dusun. Aku benar-benar jadi sentimen kepada mereka, ayah. Tapi sebagaimana yang pernah kau ingatkan, sentimen hanya akan membuat kemampuan kita gampang diterka lawan. Tapi bagaimana lagi, aku benar-benar seorang lemah yang ketika mendengar teriakan “prak!” saja langsung suruk.

***

Begitulah, ayah. Setelah dan sesudah kau tak ada, ibu tidak lagi menanam serai dan ruku-ruku di halaman rumah. Dia lebih acap menghabiskan waktu keluar masuk rimba. Kau ingat seorang pria parubaya yang pernah menampar ibu di depan rumah kita lantaran kau menyeledupkan tuak beracun ke acara pernikahan anaknya. Pria tua buruk menikahi ibu, dan merelakan malam-malam jahanam seranjang. Ibu habis pengharapan, tapi air wajahnya kian surut, matanya tak lagi menyimpan nyala matahari. Tinggal awan kelam bagai mata setan yang kadang-kadang bersembunyi dengan solek tamparan bedak.

Aku masih menyuruk di sudut yang pernah dibuat ibu, ayah. Memadan-madankan diri dari kejaran dan sibuk dengan pelarian-pelarian bodoh yang aku sendiri tidak tau entah siapa yang mengejar. Tubuhku telah dipenuhi ketakutan, kehilanganmu ternyata merenggut banyak pengharapanku. Ditambah lagi, ibu menyerahkan hari-harinya hanya karena ancaman bakal membawa aku untuk kerja paksa, jika ia tidak mengiyakan kata pria tua buruk itu.

Lihatlah, ayah, anak-anak di dusun kita terus lahir. Tetapi sekian banyak yang beranjak dewasa, sebanyak itu pula diangkut oleh para serdadu entah ke mana. Kata karib lama saat kami bersua suatu waktu, “Mereka yang kalah perang, kita pula yang dijajah.” Begitu katanya mengumpat saat kami bersua suatu malam ketika itu orang-orang dusun diburu serdadu lainnya. Ternyata, gugus serdadu itu ada banyak, bukan saja satu gugus yang pernah mengobrak-abrik tanaman serai dan ruku-ruku ibu. Rupanya tiap tahun mereka bergantian dari satu daerah ke daerah lainnya. Sudah seperti binatang saja.

Aku tau, kalau kau mendengar ini langsung di depanku, pasti sudah kau tampar wajahku. Kau akan naik pitam bila mendengar kata-kata provokasi seperti ini, narasi-narasi yang memancing amarahmu. Sama halnya waktu itu, saat seorang serdadu yang kau tantang menarik pelatuk dari bedilnya. Hanya dengan satu peluru kau terkapar seperti seekor ular daun yang tak berbisa, tapi tampak mau menerkam. Sebelumnya kau lihat wajah ibu? Ia bersijihin mengatakan, padamu jangan menjawab dan menantang, tapi kau pantang pula menurut.

Dengarlah, ayah, jika kau tinggal pergi saja ketika mereka memiuh serai dan ruku-ruku di halaman rumah, pasti tidak akan habis percuma hari ibu. Ibu memasang raut wajah begitu surut sebelum kau datang, membiarkan gerombolan serdadu memiuh serai dan ruku-ruku miliknya. Tapi kau malah meneriaki mereka, melemparkan kain sampingmu ke wajah seorang serdadu. Sialnya itu adalah ketua gugus serdadu, sehingga ia punya alasan untuk menyuruh salah seorang anggota melihatkan keberaniannya. Ditambah lagi setelah kejadian itu, aku anakmu ini tak dianggap untuk bisa ikut melawan para gerombolan serdadu. Kata meraka aku tidak punya keberanian. Kau tau siapa yang menarik pelatuk itu? Dia adalah seorang anak laki-laki seumuran denganku. Persis sama denganku, jangankan untuk menarik pelatuk bedil, keluar malam untuk kencing saja dia sangat ketakutan. Tapi setelah hari itu, ia menjadi orang kepercayaan para serdadu di dusun kita. Sedang aku mengembara dari lubang ke lubang persembunyian.

Lihatlah, ayah, serai dan ruku-ruku di halaman rumah kita tak lagi pernah tumbuh. Ibu melarikan diri dari amuk dan kelindan amarah. Air wajahnya kian hari kian surut, dan tampak reyot bagai tanaman yang ambuk diinjak-injak. Tenanglah, ayah, kau telah menyelesaikan segala sesuatu penting di dusun kita; perbudakan dan perlawanan. Kini anak-anak telah tumbuh sebagai seorang pengecut dan sibuk memiuh serai dan ruku-rukunya masing-masing. Lihatlah, ayah, lihatlah. Aku memahat wajah diantara pelarian-pelarian, perlawananku tak cukup menghabisi perjuangan yang sudah kau mulai jauh-jauh hari.

Bersijihin : seseorang yang menangis penuh ratapan.

****

Arif Purnama Putra, lahir di Surantih, Pantai Barat Sumatra. Buku tunggalnya yang telah terbit “Suara Limbubu” (JBS, Yogyakarta 2018) dan sebuah novel “Binga” (Purata Publishing, 2019). Selain menulis satra, Arif juga menulis karya jurnalistik dan ilmiah; esai perjalanan, artikel, opin dan resensi. Karya-karyanya pernah dimuat beberapa media, seperti Suara Merdeka, Haluan, dan Solopos. Sekarang berkegiatan di komunitas Serikat Marewai, redaktur di website Marewai.

sumber : kompas.id, 27 Okt 2022.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *