Cerpen : Pataka Bertabur Bintang oleh Sori Siregar

Ketika ia memasuki ruang kuliah, serentak mahasiswa yang berada di ruang   itu berdiri sambil meletakkan telapak tangan kanan mereka di dada sebelah kiri. Kemudian  salah seorang di antara mereka bernyanyi. Gertrude terkejut.

Setelah lagu itu selesai dilantunkan    mahasiswa tersebut   semua diam menunggu reaksi Gertrude. Akhirnya dengan tersendat Gertrude berkata: ”Terima kasih untuk kalian semua, karena lagu kebangsaan yang baru saja  dilantunkan salah seorang di antara kalian, membuat saya sadar bahwa hari ini adalah tanggal 4 Juli, hari kemerdekaan bangsa kami dari kerajaan Inggris. Tanggal 4 Juli tahun 1776 adalah hari yang sangat bersejarah bagi bangsa kami. Sekali lagi terima kasih karena kalian telah mengingatkan saya kepada tanggal yang tidak boleh dilupakan itu.”

Semua itu diceritakan Gertrude kepada Farro ketika bertemu dengan suaminya itu di rumah. ”Di luar keinginanku, dalam perjalanan pulang dengan taksi tadi, tiba-tiba aku merasa ingin berteduh di bawah bendera yang kau sebut ’pataka bertabur bintang’ itu. Aku ingin mendapatkan kembali keteduhan itu.”

Farro dapat merasakan makna yang dilontarkan Gertrude, istri yang sangat disayanginya itu. Sejak perkawinannya yang hanya dihadiri belasan temannya yang sedang kuliah di negeri empat musim itu, Farro sudah merasakan akan datang saatnya ketika istrinya menyatakan rindu dan ingin pulang. Tapi Farro tidak menduga saat itu akan datang secepat ini, ketika Gertrude baru satu tahun tinggal di negeri ini.

”Aku juga merasakan seperti itu ketika belajar empat tahun di negerimu. Perasaan  seperti itu timbul ketika aku telah berada tiga tahun di negerimu. Tapi aku berusaha keras membunuh perasaan yang mengganggu itu sampai aku kembali ke negeriku ini tahun lalu. Itu wajar, Gertrude, tapi cobalah pelan-pelan jauhi perasaan seperti itu, karena kau akan lama di sini, bahkan mungkin untuk selamanya.”

Gertrude diam. Dalam kediaman itu ia merasakan banyak sekali yang hilang  dalam hidupnya. Banyak sekali. Ia tidak dapat lagi bertegur sapa dengan kedua orang tuanya dan adik-adiknya, ia kehilangan teman-temannya, ia tidak lagi melihat Billy, remaja yang bertugas sebagai loper koran sebelum pergi ke sekolah, ia kehilangan Black, anjing kesayangannya. Ia memang masih dapat berhubungan dengan keluarga dan teman-temannya  melalui WA atau video call. Namun, jauhnya  keberadaan mereka tidak dapat diatasi oleh telepon pintar itu.

”Lagi pula,” ujar Farro melanjutkan. ”Minggu depan Sorta, sahabatmu itu, akan pindah ke kota ini karena suaminya, Basuki, akan dimutasikan ke sini. Banyak cara yang dapat kau lakukan agar merasa lebih dekat dengan negeri ini.”

Ketika berlari-lari kecil di lapangan di depan  rumahnya, ia mendengar seseorang memanggil  namanya. Ia berpaling dan dari jauh ia menyaksikan  seseorang melambaikan tangannya. Ia menunggu.

”Sorta,”  Gertrude setengah berteriak ketika orang itu berhenti di depannya dengan napas terengah-engah.

”Aku tadi ke rumahmu. Kata Farro kau sedang jogging di lapangan ini, karena itu aku segera ke sini.”

Kedua perempuan itu mengobrol sambil berdiri. Semua berkisar tentang kampus tempat mereka kuliah dulu. Berkali-kali mereka terdengar tawa mereka berderai.

”Kau ke sini untuk liburan atau seminar atau karena keperluan lain?”

”Tidak. Kami pindah. Basuki dimutasikan ke kota ini. Aku senang sekali  kami pindah ke sini. Yang pertama kali menyelinap ke dalam kepalaku adalah kau Gertrude.”

”Setelah istirahat dua minggu Farro langsung mengajar di kampus dan aku menyusul dua bulan kemudian. Basuki masih di Badan Statistik, kan?”

”Ya. Baru satu tahun kami di kota bunga itu, lalu Basuki dipindahkan ke kota ini. Aku sendiri belum bekerja lagi karena  masih menunggu panggilan dari pusat lembaga keuangan induk perusahaan tempatku bekerja.”

”Kami berdua senang sekali melihat Gertrude  betah di negeri ini,” kata Ibu Farro yang datang ke rumah mereka dan menginap selama satu minggu. ”Apa kabar kedua orang tuamu?”

Gertrude tersenyum. ”Hampir setiap hari mereka bertelepon. Alasan mereka rindu. Saya bisa mengerti karena saya adalah anak perempuan satu-satunya yang tidak pernah berpisah dengan mereka.”

”Walaupun betah di negeri kami ini tentunya kau juga rindu kepada kedua orang tuamu.”

”Betul, Ibu. Tapi rindu itu terobati dengan panggilan telepon yang saya terima hampir setiap hari dari mereka itu. Kesibukan saya mengajar dan aktivitas sosial yang saya lakukan dengan Sorta juga membuat saya dapat meredam rasa rindu itu.”

Ketika Farro, Gertrude, Sorta dan kedua orangtua  Farro akan keluar dari pusat perbelanjaan itu, suara musik terdengar keras dari toko elektronik di seberang pusat perbelanjaan itu. Toko elektronik tersebut memang selalu memperdengarkan lagu-lagu yang memekakkan telinga. Hari mendung, isyarat akan jatuhnya hujan.

Tiba-tiba di depan pusat perbelanjaan pecah kerusuhan. Dua kelompok dari kampung yang berbeda saling melempar  batu yang mereka bawa. Ini dilanjutkan dengan bentrokan fisik yang cukup mencemaskan. Dari depan pintu keluar pusat perbelanjaan  tampak jelas orang-orang yang babak belur dan luka-luka. Ketika aparat keamanan tiba sambil melepaskan tembakan dan menyemprotkan air  bentrokan fisik tidak juga berhenti.

Dalam cuaca  mendung dan hujan deras  yang mulai turun kelompok kedua kampung masih terus adu kekuatan. Hujan deras yang tiba-tiba turun  tidak berarti apa-apa bagi mereka. Kedua kampung yang bersebelahan itu memang sering bentrokan, terkadang dua kali dalam sebulan sehingga aparat keamanan senantiasa siaga menghadapi bentrokan tersebut.

Tembakan terdengar lagi dan pada waktu bersamaan  terdengar keras jeritan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” dari toko elektronik di seberang pusat perbelanjaan. Perang tiba-tiba berhenti dan semua yang berperan dalam bentrokan juga mendadak berhenti. Orang yang berwajah sangar dari kedua kampung begitu pula aparat keamanan berdiri dalam sikap sempurna penuh khidmat selama lagu  itu terdengar. Gertrude tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya. Ia benar-benar tidak percaya.

Dengan penuh percaya diri Gertrude mengungkapkan apa yang selama ini tersimpan rapat dalam batinnya. Kepada kedua orang tua Farro ia berkata dengan tenang.

”Apa yang saya lihat minggu lalu benar-benar mengharukan. Wajah-wajah keras yang ingin saling menghancurkan tiba-tiba tersentak ketika mendengar lagu kebangsaan itu. Begitu hormatnya mereka kepada lagu yang penuh semangat dan merupakan simbol negara itu.”

”Toko elektronik di seberang pusat perbelanjaan itu berhasil dengan eksperimennya. Saya dengar dari seseorang pemilik toko yang muak menyaksikan bentrokan terjadi hampir setiap dua minggu itu. Karena itu ia mencoba memutar lagu kebangsaan yang sangat dihormati, pada saat orang diamuk amarah. Ia ingin tahu apakah lagu itu dapat  meredam amarah mereka dan mereka memperlihatkan rasa hormat mereka kepada lagu  itu. Ternyata ia berhasil.”

Sebelumnya telah berbagai upaya dilakukannya tetapi tidak berhasil. Kini ia gembira karena usahanya  tidak sia-sia. Semua yang mereka yang mengadu fisik memperlihatkan rasa hormat itu  dengan tidak sedikit pun bergerak ketika mendengarkan lagu itu padahal ketika itu hujan deras turun. Kemudian ketika lagu itu selesai diperdengarkan mereka semua berlari ke arah yang  berlawanan sesuai dengan tujuan mereka. Tidak ada yang tahu apakah perang akan berlangsung lagi setelah hujan berhenti. Bagi saya itu tidak penting. Rasa hormat yang tulus itu telah mereka perlihatkan tanpa pretensi. Itu yang sangat berkesan bagi saya.”

Kedua orangtua Farro tidak memahami ke mana arah yang dituju Gertrude.

Perempuan berkulit putih itu melanjutkan kata-katanya:

”Itulah sebabnya Bapak dan Ibu saya belum dapat memenuhi permintaan Anda berdua. Berat buat saya mengganti paspor dilanjutkan dengan perubahan status kewarganegaraan saya.  ”Star Spangled Banner” yang diterjemahkan Farrow dengan ”Pataka Bertabur Bintang” itu, benar-benar belum dapat saya lepaskan dan menggantinya dengan yang lain. Terutama setelah menyaksikan yang terjadi minggu lalu itu. Mungkin nanti pemikiran saya berubah dan saya siap menjadi warga sejati di negeri ini.     Saya tidak tahu kapan itu akan terjadi.”

Kedua orangtua Farro baru memaklumi mengapa menantu mereka itu tetap ingin bernaung di bawah bendera bertabur bintang itu. Ia masih membutuhkan naungan itu. Ibu Farro berdiri. Gertrude juga berdiri, Perempuan setengah baya itu memeluk Gertrude.

”Apa pun pilihanmu kau  tetap menjadi menantu kami, Gertrude,” katanya lirih.

Sori Siregar lebih dikenal sebagai penulis cerpen walaupun ia juga menulis novel dan sejumlah tulisan di rubrik kolom berbagai media. Ia pernah dua kali mendapat penghargaan Dewan Kesenian Jakarta untuk novel-novelnya. Beberapa cerpennya juga terpilih dalam Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Kompas. Kini ia menetap di Jakarta. Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

RE Hartanto lahir di Bandung, 1973. Lulus dari Jurusan Seni Murni FSRD-ITB tahun 1998. Hartanto mengelola Klinik Rupa Dokter Rudolfo yang didedikasikan bagi mereka yang ingin belajar menggambar dan melukis dalam disiplin realisme.

sumber : kompas.id, 30 Mei 2021.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *