SUBUH tadi saya dikejutkan oleh kematian seorang lelaki yang tak lagi muda dengan pakaian lusuh dan rambut yang tak terurus di peron sebuah stasiun Bandung kota. Benar-benar kematian yang memilukan.

Berita kematiannya begitu cepat menyebar. Tahu-tahu orang-orang yang hendak menaiki kereta dan yang entah datang dari mana segera berkerumun.

Stasiun seketika berubah jadi lautan manusia dengan suara dengung dari desas-desus yang sudah tak terbantahkan lagi. Mereka penasaran lantaran lelaki yang separuh hidupnya dihabiskan untuk menunggu kedatangan perempuan yang dicintainya itu telah mati subuh tadi dengan sebab-sebab yang tak diketahui.

Pasalnya saya hafal betul lelaki itu, ia pernah diwawancarai sebagai bahan berita pada kolom inspirasi di salah satu media lokal tempat saya bekerja. Bagi saya ia lelaki dengan tekad menunggu paling kuat di muka bumi. Dulu katanya, di stasiun ini, seorang perempuan pernah berpesan padanya untuk terus menungguinya di sini, di stasiun yang kelak jadi tempat kematiannya.

“aku suka kereta” kata perempuan itu sambil menunggu kedatangan kereta.

Lelaki itu tak mau kalah. Ia juga membalasnya dengan perasaan canggung, karena takut kekasihnya tersinggung. “aku tidak suka kereta” katanya “ia seperti ular. Licik. Menyimpan dendam yang begitu buas hingga membuat leluhur kita diasingkan dari surga.”

Perempuan di sampingnya hanya tersenyum dan bertanya “maukah kamu menjaga kereta-kereta ini untukku? Seperti Tuhan yang tetap mencintai ular meski telah mengotori ciptaan terbaiknya?”

“bagaimana caranya?”

“dengan cara menunggu kedatanganku di stasiun ini. Menunggu kedatangan kereta yang membawaku pergi dan kembali”

Di dalam hati, dengan alasan apapun lelaki itu tak mau jadi pawang ular, tetapi ini permintaan kekasihnya, maka ia tak bisa menjawabnya selain dengan kata “baiklah”

Kemudian perempuan itu lenyap diangkut seekor ular dengan tuas dan roda-roda yang tak pernah berhenti berderak dan berderit. Ia tak perlu merasa khawatir meski kecelakaan kereta sering terjadi akhir-akhir ini, sebab ia percaya perempuannya akan kembali dengan selamat, sehat sebagaimana ia pergi sambil membawa harapan yang nyata. Ia hanya pergi satu hari, dan maut tidak akan menghampiri orang yang hanya bepergian sebentar, pikirnya.

Besoknya, pagi-pagi benar ia telah berangkat ke stasiun, setelah sebelumnya mempercantik diri dengan mengenakan kemeja dan jeans terbaik yang dimilikinya.

Itu adalah pakaian yang hanya ia gunakan pada acara-acara tertentu. Acara-acara yang disakralkan. Bahkan ia mandi lebih lama dari biasanya—dengan siul yang lebih merdu dari sebelumnya.

Kini rambutnya telah klimis dan disisir rapi. Dan wangi tubuhnya tak kalah dengan para remaja yang baru mengenal cinta dan akan bertemu kekasih idamannya. Ia tak ingin kelihatan kumal dan kikuk saat perempuan itu tiba.

“setidaknya aku tidak terlihat seperti gembel!” pikirnya kemudian

Ia duduk di bangku stasiun yang sama, bangku yang mengantarkan kekasihnya ke dalam genggaman perut ular. Segelas kopi ia simpan di sampingnya.

Satu jam, ia masih menunggu kedatangan perempuan yang dicintainya dengan penuh pengharapan dan rindu yang tak tertahankan. Ia berharap perempuan itu turun dari bokong ular membawa serta senyum yang berkilauan. Kemudian menghampirinya dengan langkah tergesa lalu memeluknya erat seperti sepasang kekasih yang telah bertahun-tahun tak pernah dipertemukan.

Waktu, ia rasakan lambat berlalu. Seperti langkah langit yang berjalan tanpa napas angin. Lima jam, ia masih bisa menyaksikan seorang masinis menerima sebotol air mineral dari seorang petugas stasiun.

Entah telah berapa kali kepala stasiun meniup peluit sebagai tanda keberangkatan ular peliharaannya, ia masih tetap tak menjumpai perempuan itu.

Ia putuskan bertanya pada petugas loket untuk memastikan kapan kereta yang ditumpangi kekasihnya tiba.

“mohon maaf, keretanya sudah lewat, Pak!” begitu jawaban penjaga loket.

Pasti dia menggunakan kereta lain, batinnya.

Ia kembali duduk, menyandarkan kepalanya ke dinding. Mata sayunya tak kurang mengawasi rel dan kereta yang datang dan menghilang. Dan kini kopinya habis, tapi ia masih menunggu, hingga berjam-jam kemudian perempuan itu tak kunjung datang.

Berkali-kali ular yang telah menelannya itu datang dan berkali-kali pula ia tak memuntahkannya kembali. Sempat ia berpikir kekasihnya salah turun.

“jangan-jangan ia malah turun di stasiun yang tidak seharusnya ia masuki.”

Maka dari itu ia terus menungguinya. Berharap kekasihnya muncul dari luar stasiun membawa serta rasa bersalah dan maaf yang akan terucap.

Hingga berhari-hari kemudian perempuan itu tak juga muncul dari perut ular.

Haram bagi seorang lelaki gampang putus pengharapan, batinnya.

Ia terus menungguinya dengan menu yang sama: pakaian, rambut klimis, serta pengharapan yang sama seperti semula. Tak luntur barang sedikit pun. Seperti biasa, setelah selesai membeli tiket dan membeli segelas kopi dari pedagang asongan, ia duduk di bangku stasiun, tempat di mana ia terakhir kali bercakap-cakap dengan kekasihnya. Berharap perempuan itu tiba di tempat mereka terakhir berjumpa.

Tak jarang ia tertidur sampai larut malam, hingga tak ada lagi ular yang tiba membawa dan menurunkan penumpang. Tak juga penjaga karcis, kepala stasiun, masinis, dan staf daop lainnya telah meninggalkan stasiun, hanya menyisakan seorang penjaga keamanan yang sayup-sayup dari kejauhan berteriak padanya dengan mengancam supaya lekas-lekas meninggalkan stasiun yang sepi dan gelap karena lampu-lampu telah dimatikan.

Ia selalu pulang dengan rasa kecewa yang sengaja ditutup-tutupi.

Sebetulnya pertemuan saya dengan beliau dimulai ketika ibu jatuh sakit dan terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit yang tak jauh dari stasiun. Kesehatannya benar-benar semakin memburuk. Lima hari perempuan yang semasa hidupnya tak pernah memberitahukan siapa ayahku itu dirawat di sana.

“tunggu, kau akan tahu jika sudah waktunya!” begitu selalu jawabnya setiap kali saya bertanya kapan ia akan memberitahu siapa ayah.

Ia perempuan yang selalu mengajarkan saya bahwa menunggu adalah pengejawantahan dari doa panjang yang selalu Tuhan tolak.

“Tuhan tidak akan menerima doa yang terlalu panjang”

“mana mungkin?”

“doa yang terlalu panjang adalah lambang kelemahan dan napsu akan hasrat yang tak pernah terpenuhi”

“lalu mau sampai kapan ibu membuatku menunggu untuk tahu siapa ayah”

Ia tak menjawab, dan tak pernah mau menjawab. Sampai hari kematiannya tiba ia tak juga memberitahu siapa kiranya yang telah menanamkan benih ke dalam perutnya. Hanya saja beberapa jam sebelum maut menjemput ia menitipkan sebuah buku catatan kecil yang sudah tak karuan bentuknya.

“sewaktu-waktu bacalah buku ini, nak!” katanya untuk terakhir kali. “mungkin ayahmu ada di dalam sana”

Tak lama dari itu ibu kehilangan detak jantungnya, dan pihak rumah sakit segera mengurus jenazahnya. Mereka mencabuti berbagai macam selang dan alat-alat aneh yang sedikit orang tahu namanya. Sedangkan saya pergi ke stasiun untuk menenangkan diri. Menyaksikan kedatangan dan kepergian kereta—juga naik turunnya penumpang mungkin akan membuat kesedihan sedikit terabaikan, meskipun tentunya tak akan lama.

“menunggu seseorang?”

Tiba-tiba saja seorang lelaki tua dengan rambut klimis dan kemeja lusuh telah ada di samping saya. Ia tampak tesenyum ketika saya memasang wajah terkejut.

“ya!” saya menjawab sekenanya

Kemudian dengan kharisma seorang orang tua, ia bercerita bagaimana dulu seorang perempuan memintanya untuk melakukan penantian yang hingga hari itu tak pernah terjadi perjumpaan. Dan dari sana saya sempat menganggapnya orang gila. Orang gila yang menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk menunggu kekasih yang tak kunjung kembali.

“kau bisa mencari perempuan lain” kata saya menasihatinya

“aku sudah berjanji”

“untuk tidak mencari perempuan lain?”

“untuk menunggunya di sini”

“itu sia-sia”

“akan lebih sia-sia jika aku tidak menunggunya”

Saya hargai sikapnya.

Kita tahu bahwa lelaki dengan tampang mirip model majalah tahun 60-an dan wangi tubuh yang menggoda pasti bisa dengan mudah mencari perempuan yang lebih bisa dipercaya ketimbang perempuan yang telah meninggalkannya selama bertahun-tahun di stasiun kereta.

Saya sempat berpikir, jangan-jangan perempuan yang ia tunggui sama sepertinya; sama-sama menunggu di stasiun yang lain, dan sama-sama memiliki daya tunggu yang tinggi. Kalau begitu wajar saja jika ia menunggu.

Saya ingin dan harus melihatnya. Melihat perempuan itu datang sambil berlari menuju pelukan lelaki yang telah lama menunggunya. Meskipun keduanya tak muda lagi. Saya harus tahu dulu akhir dari kisah penantian mereka.

Oleh karenanya, setiap hari saya datang ke stasiun. Mengawasi lelaki itu sambil menyusun berita. Menyisihkan beberapa rupiah dari hasil menyusun berita untuk membeli tiket. Tanpa tiket saya tidak akan bisa masuk ke dalam kawasan stasiun.

Namun, lama-lama ada kejanggalan yang saya rasai. Mana mungkin seorang perempuan bisa menunggu hingga bertahun-tahun lamanya. Kalaupun benar, berarti ia adalah perempuan yang telat menikah, atau bahkan mungkin belum pernah menikah. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk melangsungkan pesta pernikahan, malah ia habiskan untuk menunggu lelaki yang juga menungguinya.

Atau mungkin seorang pawang ular lain di luar sana telah berhasil menjinakkan ular yang menelan kekasihnya, juga sekaligus menjinakkan hati kekasihnya?

Itu lebih masuk akal, batin saya ikut berbisik. Tapi apa lacur, sangka itu harus saya buang cuma-cuma, sebab saya tak ingin menggoyahkan hatinya dalam melakukan penantian.

Terlebih lelaki yang telah rela menunggu selama bertahun-tahun itu pasti tak akan percaya kalau perempuannya telah terjinakkan pawang ular lain.

Saya lebih baik diam.

***

Saya seperti tersihir kegaiban. Terhipnotis daya tunggu perempuan dan si orang tua sialan itu. Penantian keduanya seolah mengandung daya magnet yang tinggi, sehingga menarik jalur hidup saya ke dalam kegilaan mereka.

Dan oleh karena keadaan itu, entah telah berapa waktu saya habiskan hanya untuk melakukan hal serupa—pergi dan menyusun berita-berita di stasiun, tak lain adalah untuk menunggu—menyaksikan keduanya berjumpa. Berharap perempuan itu benar-benar turun dari bokong ular seorang diri—tanpa anak dan juga suami.

Tapi sayangnya, subuh tadi saya dikejutkan oleh kematian seorang lelaki yang tak lagi muda dengan pakaian lusuh dan rambut yang tak terurus di peron stasiun Bandung kota. Benar-benar kematian yang memilukan. Lelaki tua itu mati dengan sebab-sebab yang tak diketahui. Mati dengan luka hati yang menganga.

Benar apa kata ibu, menunggu adalah pengejawantahan dari doa panjang yang selalu Tuhan tolak—karena doa yang terlalu panjang adalah lambang kelemahan dan napsu akan hasrat yang tak pernah terpenuhi. Tuhan tak pernah mau menerimanya, apalagi mengabulkannya.

Dan pria tua yang mati mengenaskan itu harus tahu bahwa Tuhan benar-benar cinta kepada dirinya, sehingga menjauhkannya dari harapan-harapan yang ia sangka nyata.

Seperti cerita yang ibu tulis di dalam buku catatan kecil yang ia berikan pada saya di hari kematiannya. Betapa ia pernah membuat kekasihnya berjanji untuk terus menungguinya di sebuah stasiun kereta.

Menungguinya meskipun entah kapan tepatnya mereka kembali berjumpa—atau bahkan mungkin tak pernah sekali pun berjumpa. Tetapi wanita yang mengaku sebagai ibuku itu telah bersumpah atas nama apa pun untuk tidak akan pernah menemui kekasihnya itu lagi.

“Aku tidak ingin ia tahu bahwa aku telah hamil oleh lelaki lain.”

Itu yang ibu tulis di dalam buku catatan kecilnya. ***

 

 

DR Iswanto. Lahir di Karawang, Jawa Barat, pada 1996 dan menetap di Bandung sejak 2014.

 

Maklumat
Jawa Pos Radar Madiun menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, dan esai. Naskah berupa file Microsoft Word dengan maksimal 800 kata untuk cerpen; 500 kata untuk esai; dan maksimal 5 puisi. Cantumkan uraian singkat identitas diri dan kirimkan karya lewat surel ke alamat radarmadiun.litera@gmail.com