NAPASKU masih menderu setelah selesai melayangkan berkali-kali pukulan di mulut anak perempuan kecilku. Dia nakal. Dia tidak mau makan, padahal aku sudah bersusah payah memasak makanan untuk mereka sepanjang hari.

Gadis mungil itu menangis sambil menutup mulutnya yang sakit. Kutinggalkan dia begitu saja menuju dapur. Aku tak mau luluh oleh tangisannya yang sok polos itu.

Tak sampai dua menit, lelaki sulungku memekik, “Ibu, adik berdarah!” Sementara anak laki-lakiku yang nomor dua menjerit takut dan menangis melihat darah mengucur deras dari hidung dan mulut adik perempuannya.

Aku masih terpaku di dapur memperhatikan itu semua. Tak yakin dengan apa yang sedang aku pikirkan. Rasain! Itu akibatnya jika kamu melawan Ibu! umpatku dalam hati.

Rasanya aneh dan jahat sekali aku bisa berpikir seperti itu. Aku ini seorang ibu, tapi mengapa tega melakukan itu pada anak-anak? Kamu sudah melakukan kekerasan terhadap anak! Tapi, dia layak mendapatkannya, karena dia nakal, tidak menurut!

Suara-suara di dalam kepalaku mulai berisik dan beradu. Kesadaran dan kegilaan bertarung hebat di dalam benakku, berusaha membebaskan akal sehat yang seringkali terpenjara saat senja menjelang magrib. Tubuh dan hatiku lelah. Aku justru kembali melanjutkan pekerjaan di dapur.

Melihat ibunya tidak berbuat apa-apa, kedua anak lelakiku pun hanya bisa diam dalam kebingungan. Apa yang bisa diperbuat anak umur tujuh dan lima tahun dalam situasi seperti itu? Mereka hanya bisa kembali menonton televisi dan membiarkan adik perempuan mereka begitu saja.

Kulirik angka jam di ponsel, pukul 19.00. Sebentar lagi suamiku pulang. Paniklah yang akhirnya berhasil merebut akal sehatku dari kegilaan itu.

Segera aku tergopoh-gopoh meraih handuk basah dan membasuh wajah gadis mungilku yang berlumuran darah. Dadaku mulai terasa sakit dan sesak.

Oh, Tuhan, apa yang telah kulakukan? Aku mulai menangis dan meraung penuh sesal. Apa yang sudah kulakukan terhadap putriku?

“D… Dik… nanti jangan cerita ke Ayah ya,” ujarku pada anak-anak.

Masih dengan bergetar, aku mengulangi sekali lagi apa yang kuucapkan pada anak-anak dengan penekanan penuh pada kalimat “Jangan cerita apa-apa! Nanti Ayah sedih.”

Seperti penjahat yang takut ketahuan, aku berusaha menghilangkan jejak. Aku takut suamiku akan marah besar kali ini demi melihat jejak lebam dan merah yang tak mau hilang dari wajah putri kecilku.

***

“Kamu itu… dasar anak nakal! Tidak tahu terima kasih!”

Lengkingan suara Ibu nyaring terdengar di sela-sela guyuran air ke wajahku. Beberapa kali ibu melakukan itu padaku hingga kuyup tubuhku. Berharap aku akan jera dan tidak nakal lagi.

Aku sudah lupa apa yang menyebabkan Ibu semarah itu padaku. Mungkin Ayah menyebabkannya terluka lagi. Pukulan dan tamparan sering bergantian mampir ke tubuhku tanpa terbendung.

Dua puluh tujuh tahun berlalu sejak kejadian itu. Hari ini seolah terulang lagi. Bukan Ibu yang melakukannya. Tapi aku. Aku yang melakukkannya terhadap putri kecilku satu-satunya.

Seketika aku melihat diriku merupa sosok Ibu. Sosok yang kubenci namun tak mampu kulawan bertahun-tahun lalu. Dia ibuku. Sosok yang terluka namun tak mampu membebaskan dirinya dari belenggu.

Maka akulah yang dia lukai. Hatiku berteriak, aku tak ingin seperti Ibu. Aku bukanlah Ibu.

Kukira aku sudah terbebas darinya saat menikah dan keluar dari rumah Ibu. Tapi ternyata, tidak! ***

 

 

*) Ikedian P, penulis di Klaten.