ASAP dan gemeretak api membubung di jalan utama Ankara malam itu. Anka turut membakar toko roti Orhan Fatih. Ia beringas mencari-cari Saad, salah seorang pekerja di toko roti. Ia mengenal Saad sebagai imigran gelap Suriah yang bekerja di Ankara. Semula, ia bersimpati kepada Saad, yang meninggalkan negaranya agar dapat hidup tenteram di negeri orang. Tetapi, ketika Saad mulai akrab dengan Akila, adik kandungnya, bila membeli roti ke toko itu, ia mulai membencinya. Tak ingin pemuda imigran gelap itu menjadi adik iparnya kelak.
Sebenarnya Anka sungkan kepada Baba, seorang polisi tua, yang bertugas di Ankara. Ia juga sungkan kepada Orhan Fatih, pemilik toko roti. Ia pernah mendengar cerita mengenai Orhan Fatih, lelaki setengah baya yang baru tiga tahun pindah dari Damaskus. Leluhur Orhan Fatih merupakan keturunan Ottoman yang disingkirkan Ataturk dari Turki dan mesti mencari suaka ke Suriah. Ketika keturunan Ottoman diperkenankan kembali ke Turki, Orhan Fatih memilih tinggal di Ankara, mendirikan toko roti yang laris dikunjungi pembeli.
Anka mulai tak senang kepada Orhan Fatih karena mempekerjakan imigran gelap dari Suriah. Lebih tidak senang lagi Anka karena tiap sore Baba selalu mampir ke toko roti Orhan Fatih, membeli baklava. Polisi tua itu dilayani Saad dengan ramah. Kadang mereka berbincang-bincang akrab. Anka mendengar kisah ini dari teman-temannya. Ia berharap suatu ketika terjadi keributan antara anak-anak muda dan imigran gelap dari Suriah untuk memperoleh peluang mengusir mereka dari toko roti Orhan Fatih.
Kemarahan anak-anak muda pada pekerja toko roti Orhan Fatih mulai memanas ketika salah seorang imigran gelap itu berkelahi dengan pemuda di jalan. Seekor anjing liar ditendang seorang pekerja toko roti. Teman Anka menegur. Terjadilah perkelahian. Anka mengikuti penyerbuan malam hari ke toko roti Orhan Fatih. Mereka menyerang para pekerja toko roti yang kebanyakan berasal dari Damaskus. Anka ingin melukai Saad, yang malam itu terkena hajar teman-temannya dan mencari perlindungan ke polisi tua. Kedatangan polisi tua menyelamatkan toko roti dari kebakaran dan melindungi para pekerja dari amuk anak-anak muda. Anka tak ingin tertangkap Baba, ayahnya. Dia buru-buru menyelinap, menghindar dari kobaran api toko, kepulan asap, dan gaduh perkelahian.
Dalam hati, Anka masih memendam dendam kepada Saad dan orang-orang imigran gelap yang bekerja di toko roti Orhan Fatih.
***
SIANG itu Anka berhadapan dengan Baba yang pensiun dari dinas kepolisian. Baba ingin membawa keluarga pindah ke Konya. Baba berharap dapat belajar tari sema dan menemukan ketenangan batin di makam Rumi. Anka mencari dukungan Anne, ibunya, dan Akila, untuk menolak kehendak Baba menempati apartemen di Konya, tak jauh dari Mevlana Museum. Tetapi Anne dan Akila mengikuti kehendak Baba menempati apartemen di Konya.
Tanpa dukungan Anka, Baba tetap dalam pendiriannya pindah ke Konya. Anka melihat Baba rajin berziarah ke makam Rumi dan belajar tari sema. Baba tak lagi menyukai perdebatan. Ketika Anne memilih meninggalkan apartemen dan dibawa seorang lelaki setengah baya untuk menempati rumah di antara ladang delima bukit kapur kota tua Hierapolis, Baba membiarkannya. Tak ada lagi Anne di apartemen yang mereka tempati.
Sering kali Anka marah seorang diri, tanpa lawan, karena Baba cenderung diam, berdoa, dan mendengar iringan musik sufi. Ia pun memutuskan pindah ke Istanbul untuk bekerja sebagai pemandu wisata turis. Ia memang mesti meninggalkan Baba yang tak lagi punya nyali untuk menghadapi dunia. Yang memberatkan hati, ia mesti meninggalkan Akila, adik perempuannya. Tetapi ia yakin, adik perempuannya akan memiliki ketetapan hati untuk meninggalkan Baba.
Hati Anka lega ketika menerima kabar bahwa Akila bekerja sebagai pramugari penerbangan internasional di Istanbul, dan Baba tinggal seorang diri di apartemen. Tak ada alasan bagi Anka untuk membenci Baba yang menghukum dirinya sendiri dengan kesunyian. Tetapi, ketika ia pulang untuk menengok Baba dan melihat Saad bekerja di Mevlana Museum, kembali kemarahannya menyala.
“Bagaimana mungkin Saad bisa berada di kota ini?” tanya Anka kepada Baba, menggugat.
“Ia kerja di Mevlana Museum dan menjadi penari sema di Mevlana Cultural Centre.”
“Baba yang mengajaknya tinggal di kota ini?”
“Memang aku yang menawarkan kerja di Konya. Rupanya ia lebih bisa menikmati hidup di kota ini,” balas lelaki pensiunan polisi.
“Akila masih sering bertemu dia?”
“Bila Akila pulang, dan Saad mampir ke apartemen, tentu mereka bertemu.”
“Aku tak suka bila hubungan mereka menjadi serius. Aku tak mau punya adik ipar seorang imigran gelap.”
Diam-diam Anka sering mengintai Baba dan Saad di luar Mevlana Museum. Ia mengambil jarak dengan mereka. Terutama Baba, seperti bisa mencium keberadaan Anka, selalu bersikap sangat hati-hati. Lelaki muda itu menjadi sibuk dengan kebencian dan prasangkanya terhadap Baba dan Saad. Ia gelisah, marah, bahkan membenci Saad, yang selalu menikmati ketenangan sebagai seorang pekerja kebersihan di Mevlana Museum dan penari sema di Mevlana Cultural Centre.
Kadang Anka melihat Baba dan Saad berbelanja etli ekmek, roti daging mirip pizza berbentuk memanjang. Kemudian mereka berpisah. Ketika Akila pulang dan Saad berkunjung ke apartemen, Anka merencanakan perbuatan yang lebih keji pada pemuda imigran gelap itu. Ia mulai berpikir untuk menembak mati Saad dengan senapan berburu. Ia ingin menyelamatkan adik kandungnya dari penderitaan hidup bersama seorang imigran gelap, penari sema, yang lebih mencintai kesunyian.
Kedatangan Orhan Fatih ke Konya, yang sempat singgah di apartemen dan bertemu dengan Baba, membangkitkan kecemasan di hati Anka.
“Saya tak ingin kehilangan Saad,” kata Orhan Fatih. “Dulu leluhur saya, sebagai keturunan Ottoman, diusir dari Turki. Mereka menetap di Damaskus, senantiasa dilindungi leluhur Saad secara turun-temurun. Ketika saya berpamitan hendak kembali ke Turki, ayah Saad sempat titip anak bungsunya itu agar tetap hidup bersama saya. Kakak lelaki Saad sudah meninggal dalam pertempuran. Ayah Saad tak mau anak bungsunya juga ikut mati di medan perang. Saya datang ke kota ini untuk memastikan Saad dalam keadaan baik.”
***
PENEMBAKAN terhadap Saad sudah dipersiapkan Anka. Ia ingin menghabisi nyawa pemuda penari sema itu bukan di pelataran Mevlana Museum. Terlalu suci membunuh pemuda imigran gelap itu di dekat makam Rumi yang dikeramatkan. Ia ingin menembak mati Saad di pelataran Mevlana Cultural Centre setelah pergelaran tari sema. Setelah matahari tenggelam, jam 21.00, tari sema dipergelarkan di Mevlana Cultural Centre. Sepulang dari pertunjukan, ledakan senapan pemburu akan menghabisi hidup pemuda imigran gelap. Tetapi Anka menjadi bimbang karena Orhan Fatih melindungi pemuda imigran gelap itu. Sepertinya Orhan Fatih sudah mengerti, Anka akan membunuh Saad dengan senapan berburu pada malam setelah pertunjukan tari sema. Orhan Fatih tak pernah menjauh dari Saad. Lelaki setengah baya pemilik toko roti itu senantiasa mendampingi Saad. Ia melakukan perjalanan dengan mobil sedan dari Ankara ke Konya tentu bukan semata-mata ingin berziarah ke makam Rumi dan menonton tari sema.
Anka mengikuti Orhan Fatih dan Saad semenjak sore ketika mereka berangkat dari Mevlana Museum menuju Mevlana Cultural Centre. Mereka naik mobil sedan dan Anka mengikuti dengan taksi. Sopir taksi sempat bertanya, untuk apa senapan berburu itu dibawa pada malam hari menjelang pertunjukan tari sema. Ia mengisahkan senapan berburu itu akan digunakan untuk memburu anjing liar. “Di Istanbul, kota tempat tinggalku, selalu berkeliaran anjing liar. Aku sering memburu anjing liar dan menembaknya pada malam hari. Senapan ini juga akan kugunakan untuk membunuh anjing liar di kota ini.”
Sopir taksi itu tak bertanya lagi. Ia memang melihat anjing-anjing liar di kota ini, tetapi tak sebanyak seperti di Istanbul. Tentu penumpangnya memiliki maksud tertentu dengan sebutan “anjing liar” yang akan ditembaknya. Anka turun di dekat pelataran Mevlana Cultural Centre, di tempat yang terlindung pepohonan. Ia menanti pergelaran tari sema berlangsung di dalam gedung. Ia sama sekali tak ingin menonton tari sema. Ia terbiasa menonton tari perut di Hodjapasha Cultural Centre ketika membawa turis-turis berkeliling Turki. Sambil minum anggur, mereka melambungkan fantasi tentang geliat pinggul, perut, dada, bahu, dan rambut penari yang tersibak, seirama sitar, gendang, dan dawai biola. Anka selalu terkesima pada hentakan-hentakan pinggul, lenggok tubuh, dan getar dada kenyal penari.
Kembali terlintas dalam benak Anka, bagaimana membidik senapan berburu dengan tepat mengenai sasaran: kepala Saad. Ia terbiasa membidik anjing liar yang terus bergerak di sudut-sudut Kota Istanbul, menembak, dan membiarkan bangkainya tergeletak begitu saja. Tak ada anjing liar yang luput dari buruannya. Kali ini yang dibidik adalah seorang penari sema, yang tak banyak bergerak. Tentu lebih mudah untuk mengarahkan bidikan senapannya. Sekali letupan senapan berburu, tergeletaklah penari sema itu. Ia tak ingin memikirkan apa yang bakal terjadi setelah peristiwa penembakan pemuda imigran gelap itu. Mungkin ia akan mencapai suatu perasaan puas yang menggeletarkan tubuhnya.
Malam setelah pertunjukan tari sema, orang-orang menghambur dari Mevlana Cultural Centre. Dua orang berjalan menuju ruang parkir. Baba melangkah di belakang mereka. Lelaki setengah baya itu pasti Orhan Fatih. Pemuda berpenampilan tenang itu pasti Saad. Orhan Fatih seperti mengetahui bila Anka sedang membidikkan senapan berburu ke tubuh Saad. Orhan Fatih menutup pandangan Anka agar tak tepat membidik ke tubuh Saad. “Menyingkirlah! Jangan sampai kau kena tembak!” desis Anka geram.
Tangan Anka bergetar ketika ia tak memiliki ruang tembak yang leluasa. Dalam pandangan Anka, Saad masih mengenakan jubah putih dan topi menjulang, bercahaya, menyilaukan pandangan matanya. Ia tidak bisa tepat membidik. Lagi pula, tubuhnya bergoyang dan lemas. Ia paksakan untuk menarik picu senapan berburu. Sesosok tubuh roboh di pelataran. Tetapi bukan Saad yang tersungkur. Peluru bersarang di bahu kanan Orhan Fatih. Anka masih terpaku serupa patung kayu lapuk. Hingga ia mendengar suara langkah-langkah kaki berderap. Baba meringkus Anka dan menelepon polisi. Tergetar suara lelaki pensiunan polisi itu, “Bawalah anak lelakiku yang keji! Adili dan hukumlah dia. Aku tak pernah mengajarkan kebencian serupa ini!” ***
Konya, Turki, Juli 2022
Keterangan:
Baba = ayah
Anne = ibu
S Prasetyo Utomo lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Sejak 1983, ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di sejumlah media massa. Kumpulan cerpen terbarunya Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).
