INT-RUANGAN-MALAM HARI
Tarjan menyandar ke dinding.
“Aku kena pilek gara-gara es limun yang disuguhkan istri temanku. Sepertinya dia menaruh hati padaku. Namun, belum kutanggapi sebab pekerjaan kantor menumpuk. Pagi itu istriku menyuruhku membawa tisu. Agar dia tidak curiga cintaku padanya sedang berkurang, kuambil selembar. Kumasukkan ke saku. Di bus kota, aku bersin. Sebelum umbel mirip sperma itu muncrat, kusambut dengan tisu, lalu kulemparkan ke luar jendela. Terjadilah bencana. Melibatkan pejabat tinggi. Penyelidikan polisi akhirnya mengarah kepadaku.
Tasumi segera menukas: menampakkan wajah geram.
“Orang ini hanya membual, Kawan-kawan. Aku akan menganalisis bualan itu satu per satu untuk membuktikannya. Pertama, soal istri temannya yang disebutnya menaruh hati padanya itu. Ada yang disembunyikan. Apalagi laki-laki yang dikecewakan perempuan sukanya cari pelarian. Begitu juga perempuan.
CUT TO:
INT-RUMAH-MALAM
Tarjan bertengkar dengan istrinya. Dituduh tidak sayang lagi.
CUT TO:
INT-RUMAH-MALAM
Istri temannya Tarjan berantem dengan sang suami. Dituduh tidak lagi sayang.
CUT TO:
INT-KANTOR-SIANG
Temannya Tarjan pilek berat. Bos menyuruh pulang agar tidak menulari seluruh kantor. Tarjan menawarkan mengantar dan tidak ditolak.
CUT TO:
INT-RUMAH-SIANG
Sepeda motor memasuki halaman luas. Turun dari sepeda motor, temannya Tarjan masuk kamar. Istri temannya datang menyuguhkan es limun merah untuk Tarjan. Duduk di sofa di depan Tarjan.
“Perkawinan tanpa petualangan, ternyata membosankan,” kata perempuan berbibir merah.
Tarjan mengangguk. Gerakan kecil bagian atas tubuh itu menyelamatkan suasana yang kaku. Perempuan bergaun merah tipis tersenyum.
“Perkawinanmu baik-baik saja, kan?” tanya si perempuan.
“Seperti lukisan pemandangan,” jawab Tarjan, tersenyum masam.
“Seburuk itukah?” si perempuan tertawa.
“Bisa jadi lebih buruk jika yang memandang lagi kena katarak.”
Lima belas menit kemudian, Tarjan menandaskan es limun yang disuguhkan padanya, lalu kena pilek tiga hari kemudian.
FADE OUT
CUT TO:
INT-RUANGAN-MALAM
“Cerita selanjutnya kita sudah tahu dari cerita orang ini. Tak lain dan tak bukan soal tisu yang dibuangnya lewat jendela kaca bus kota. Lalu membuatnya berurusan dengan polisi,” ujar Tasumi, tertawa. “Tuduhannya tidak main-main: subversif, sabotase, dan terorisme. Edan, kan? Bohongnya maksudku.”
Bukti kedua, perihal pekerjaan kantor yang menumpuk-numpuk di mejanya. Tasumi melanjutkan analisisnya. Yang disebut orang ini mejanya, sebenarnya bukan mejanya, melainkan meja temannya yang izin tidak masuk kerja tiga hari gara-gara pilek. Meja orang ini bersih; pekerjaan hari itu dia selesaikan hari itu juga. Perihal pekerjaan temannya yang diaku orang ini sebagai pekerjaannya, sebagian memang dikerjakannya, tapi bukannya tanpa alasan.
CUT TO:
INT-RUMAH-SIANG
Tarjan datang membesuk temannya. Membawa buah tangan berupa pekerjaan temannya yang sudah selesai. Tarjan kembali bertemu dengan istri temannya: berbibir merah, bergaun merah, menyuguhkan es limun merah, duduk di sofa merah.
“Perkawinan memang membosankan jika tanpa petualangan,” kata perempuan itu, tersenyum.
“Kamu ingin berpetualang ke mana?” tanya Tarjan, setelah membangun keberanian.
“Kamu sendiri beraninya sampai di mana?” si perempuan tersenyum nakal.
Tarjan menandaskan es limun. Lebih manis daripada hari sebelumnya. Di sebuah kamar, temannya sedang berbaring. Badannya menggigil, demam, dan sakit kepala.
FADE OUT
CUT TO:
INT-RUANGAN-MALAM
“Tebak sendiri yang terjadi selanjutnya,” Tasumi tertawa, bahkan mengikik-ngikik.
Yang ketiga, soal tisu. Walaupun tidak sangat salah, tetap perlu diluruskan. Memang benar yang mengambilkan tisu, istrinya orang ini, tapi hal itu didahului oleh kesalahan. Istri orang ini datang bulan, menyuruh anak laki-lakinya beli pembalut wanita di swalayan, tapi pulang justru bawa tisu. Walaupun begitu, si istri tidak memarahi anaknya; sejak kemarin dilihatnya suaminya bersin-bersin.
CUT TO:
ETX-HALAMAN-PAGI
Tarjan dicegat istrinya di halaman saat hendak ke kantor.
“Bawa tisu! Buat buang ingus.”
“Tak perlu. Sebentar lagi sembuh. Sudah minum obat.”
“Jangan membantah!”
Si perempuan mengambil segumpal tisu, menjejalkan ke jaket suaminya. Tarjan diam; membiarkan. Wajahnya marah. Begitu keluar dari kompleks perumahan, gumpalan tisu itu dirogoh, lalu dibuang ke tempat sampah. Lima ratus meter kemudian, sepeda motor bocor, kedua ban kena paku. Tarjan meninggalkan sepeda motor di tukang tambal ban, naik bus kota.
FADE OUT
CUT TO:
INT-RUANGAN-MALAM
“Nah, di dalam bus kosong, tapi penuh debu itulah orang ini hendak bersin. Dia lalu teringat tisu yang dibuangnya dan merasa sedikit menyesal. Meskipun demikian, tetap dirabanya saku jaket, dan ternyata masih tertinggal selembar. Seperti yang kita ketahui bersama dari cerita orang ini, tisu berisi umbel yang dibuang dari kaca jendela itu, lalu menimbulkan bencana,” Tasumi tertawa. “Coba pikirkan! Masuk akal tidak?”
CUT TO:
ETX-DALAM BUS-PAGI
Tiba-tiba angin bertiup kencang. Tisu pun melayang, mengarah ke jalur cepat, masuk mobil yang kacanya terbuka; lalu menempel pipi pejabat tinggi yang sedang duduk di kursi penumpang. Begitu menyadari ada benda putih melayang dari udara lalu tiba-tiba hinggap di pipinya, seketika sang pejabat tinggi berteriak keras sekali, membuat sang sopir kaget, lalu mengerem mobil secara mendadak. Tindakan itu membuat kaget sopir di belakang mobil sang pejabat tinggi.
CUT TO:
INT-RUANGAN-MALAM
“Kata orang ini, kecelakaan beruntun itu melibatkan ratusan mobil dan menewaskan lima belas orang. Bahkan, sepuluh di antaranya tergencet bodi mobil hingga perlu gergaji mesin untuk mengeluarkan tubuh setengah remuk itu. Selain itu, puluhan orang menderita luka berat maupun ringan,” Tasumi tertawa. “Bualan yang sangat keterlaluan, bukan?”
Tasumi lalu menjelaskan analisisnya yang kelima, perihal penyelidikan polisi. Sopir si pejabat tinggi itu yang pertama diinterogasi. Si sopir terluka, tapi tidak parah. Boleh pulang setelah seminggu dirawat di rumah sakit.
CUT TO:
INT-RUMAH-SIANG
“Saya mendengar Tuan saya berteriak keras sekali. Sangat panik. Takut terjadi apa-apa, saya segera menginjak pedal rem sekuat-kuatnya….”
Penyidikan selanjutnya ditujukan pada sang pejabat tinggi. Dua petugas senior yang diberi tugas itu. Si pejabat tinggi terluka, tapi tidak parah. Kakinya berdarah kena pecahan kaca.
CUT TO:
INT-RUMAH-SIANG
“Mula-mula saya tidak tahu apa itu. Saya kira hewan atau apa yang menerobos sela-sela kaca. Saat itu saya hendak membuang puntung rokok. Saya kaget, lalu berteriak. Sebisa-bisanya benda putih yang lengket seperti permen karet itu saya singkirkan. Sepertinya tisu atau apa….”
CUT TO:
INT-RUANGAN-MALAM
Penyelidikan lalu diarahkan pada si tisu. Mobil mewah ringsek yang ditumpuk seperti kerupuk di kantor polisi itu dibongkar. Benar saja, di bawah karpet mobil, selain darah kering, ditemukan tisu. Bercak hitam kecokelatan seukuran koin itu masih ada. Diperkirakan umbel yang sudah kering. Seperti yang sudah kita ketahui dari cerita orang ini, dari hasil penyelidikan DNA dan sidik jari, tuduhan lalu diarahkan kepada orang ini. Rumah orang ini digeledah. Celakanya, ditemukan buku-buku yang dianggap berbahaya. Ada kaitan dengan kelompok ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Seorang psikiater lalu ditugaskan menganalisis profil orang ini berdasarkan buku-buku yang ditemukan di kamar tidur. Didapat kesimpulan: orang ini sedang coba menggabungkan kedua jenis ekstrem itu. Sangat berbahaya.
Penyelidikan lalu dilanjutkan untuk mengungkap motif. Seorang kriminolog mengajukan beberapa hipotesis. Apa yang menyebabkan umbel itu menempel pada tisu? Mungkinkah pemilik DNA yang ditemukan pada tisu itu sedang pilek? Apa yang menyebabkan tersangka pilek?
Sesuai dengan jawaban orang ini saat diinterogasi, petugas lalu mendatangi rumah temannya orang ini. Hasil investigasi membuat bulu kuduk dua petugas khusus itu berdiri. Ditemukan indikasi sangat kuat: orang ini sedang mendekati atau didekati kelompok tertentu. Kelompok yang sangat berbahaya. Kalau dulu, gambarnya hanya dua, alat pertanian dan pertukangan. Untuk kasus orang ini, jumlahnya empat, walaupun tidak lagi berupa gambar, melainkan simbol: es limun, bibir, sofa, dan gaun. Semua berwarna merah.
“Coba kurang heboh apa lagi bualan itu? Namun, bagi orang ini, hal itu sepertinya masih kurang….”
“Pejabat tinggi yang kena umbel itu akhirnya meninggal dunia,” kata Tarjan, memotong ucapan Tasumi.
“Ah, bualan apa lagi ini?” sahut Tasumi. “Jangan didengarkan, Kawan-kawan! Kalian bisa sakit kepala.”
“Kena tumor?” tanya seseorang, tanpa benar-benar ingin tahu.
“Tidak,” sahut Tarjan, tetap tersenyum.
“Pesawat yang dinaikinya jatuh?” tebak yang lain, asal saja.
“Tidak juga,” sahut Tarjan. “Kena serangan jantung….”
“Jangan didengarkan! Itu hanya bualan!” Tasumi kembali berteriak.
Tarjan berdiri, tersenyum-senyum, berkitar-kitar di depan orang-orang di ruangan itu, bicara sambil cengar-cengir:
“Saat berobat ke Singapura untuk menyembuhkan luka psikologis akibat kena umbel, selain diantar istri asli, sang pejabat tinggi ditemani istri palsu meskipun sambil sembunyi-sembunyi. Mereka menginap di hotel berbeda. Begitu tahu si istri tua pergi shopping, si istri siri gegas mendatangi rumah sakit. Menjelang memeluk tubuh sang pejabat tinggi, sejengkal sebelum bibirnya mencium pipi, perempuan bekas artis itu bersin. Umbel-nya muncrat. Kena muka sang pejabat tinggi….”
Ledakan tawa terjadi di ruangan itu. Bahkan, hampir merobohkan dinding.
FADE OUT
ETX-HUTAN-DINIHARI
Tarjan diambil tiga petugas menjelang dinihari. Dibawa ke tempat sepi, lalu dieksekusi. ***
Kajen, 30 November 2022
Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangi lomba dan dimuat di media cetak serta online. Novel Ikan-ikan dan Kunang-kunang di Kedung Mayit menjadi Juara I Perpusnas Writingthon Festival pada Oktober 2022. Adapun naskah lakon Ikan-ikan di Kedung Mayit menjadi nomine Lomba Naskah Lakon Dewan Kesenian Jakarta pada Desember 2022.
