Cerpen : Mereka Memaksa Kami Pindah ke Bulan

SEJAK Alexis mengumumkan adanya kejanggalan dalam kabin lift luar angkasa yang mengangkut kami menuju Bulan, aku teringat tubuh Mamak yang tinggal tulang belulang di padukuhan. Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku teringat Mamak.

Jauh sebelum namaku masuk dalam daftar manusia yang harus hidup di Bulan, aku memang tak berniat meninggalkan kampung nenek moyangku ini. Terlebih, sumpah yang aku ikrarkan saat Mamak berjibaku dengan malaikat pencabut nyawa.

Selaku satu-satunya petuah adat yang tersisa, Mamak kerap bersuara lantang melawan penguasa yang bersatu padu dengan angkatan bersenjata yang hendak menggusur kami dari tanah sendiri. Mamak tak pernah memberi ruang diskusi sebab pada akhirnya, pemerintah tak pernah berpihak pada kami.

“Persetan dengan ecocity kalian!” hardik Mamak saat seorang utusan pemerintah bertamu ke rumah dengan membawa sekoper rupiah. Ia meminta Mamak mengajak semua kepala keluarga meninggalkan pulau secara baikbaik.  Terserah pindah ke mana.

“Jauh sebelum negara ini merdeka, leluhur kami sudah

menempati tanah ini,” kata Mamak sembari menunjuk-nunjuk udara.

“Itu hanya bualan kalian semata. Buktinya, tak satu pun warga di sini memiliki sertifikat.”

“Bagaimana bisa kami memiliki sertifi kat?” raut muka Mamak memerah. Aku tahu, tak lama lagi, puncak amarah akan menguasai tubuh ringkihnya itu. “Puluhan tahun kami mengemis, tapi penguasa tak pernah menyerahkan sertifikat. Tapi, giliran bayar pajak, kami dikejar-kejar macam hewan

buruan. Bahkan kepada buronan yang mencuri uang negara jauh lebih baik perlakuannya daripada kepada kami.”

Tamu lelaki itu berdiri. Gemeretak giginya terdengar nyaring saat menatap Mamak tajam.

“Jangan salahkan kami bila melakukan kekerasan!” ancamnya

saat beranjak dari ambang pintu.

Mamak tak menjawab. Ia memilih memejamkan mata. Entah

mantra apa yang ia ucap, bibirnya komat-kamit menyebut asma Lah Ta’ala. Sedetik kemudian, terdengar suara gemeresak dari arah timur. Udara terasa membelit dan melilin.

Tak lama kemudian, udara itu melewati aliran kangai yang

menyemburatkannya ke daratan. Makin lama, ukuran angin lesus makin besar. Dari semula seukuran batang pisang, kini sebesar pohon pinang.

Segala apa yang dilintasi angin lesus ikut terangkat dan masuk ke pusaran. Pohon-pohon tercerabut dari akar. Beberapa anak buah lelaki yang berada di halaman, saling pandang manakala angin ini berputar-putar dan berjalan

mengarah ke mereka.

“Berhenti!” desis Mamak.

Angin yang meliuk-liuk di halaman mendadak terhenti.

“Terjang!”

Dua mobil dinas digilas habis. Kendaraan itu berputar-putar di tengah pusaran angin.

“Pergi!”

Seketika angin lenyap. Lelaki berbaju safari itu berdiri gemetar. Wajahnya pucat pasi. Tak lama kemudian, ia lintang pukang ke arah timur.

Sepeninggal utusan penguasa itu, tubuh Mamak makin melemah. Semula badannya panas tak keruan. Ia menguat-nguatkan badan manakala tamu itu berkunjung dan memaksa bertemu.

Tapi, setelah peristiwa angin lesus, kesadaran Mamak terombangambing layaknya kapal yang timbul tenggelam diterjang badai. Mirisnya, Mamak tak lagi bisa bicara. Satu-satunya suara yang muncul dari tenggorokannya adalah bunyi gelegak mirip air mendidih. Aku merasa ada sesuatu

yang hidup di tubuh Mamak dan tak mau keluar, dan ini terjadi hampir sepekan lamanya.

“Rang! Arang!”

Teriakan Hindun terdengar amat menghentak.

“Arang!” teriaknya lagi.

Kali ini, ia tak berujar salam dan menerobos masuk ke kamar di mana aku tengah menunggui Mamak yang terbatuk-batuk.

“Gawat, Rang. Mereka datang lagi. Mereka bawa mobil yang

jauh lebih besar. Jumlah orangnya ratusan. Kita dikepung, Rang. Dikepung! ”

Mamak terbatuk-batuk. Matanya mengerjap-ngerjap. Darah hitam merembes ke dada. Sontak aku mengambil kain dan hendak membersihkan. Sayangnya, Mamak menepis tanganku dan gerakannya seolah mengusir.

“Mamak mau aku menghadang mereka?”

Susah payah Mamak mengangguk-angguk. Napasnya kian tersengal. Namun, tangannya kembali menunjuk-nunjuk udara.

Kebimbangan yang aku rasakan amat sulit digambarkan. Aku

tahu, Mamak tengah bersiteru dengan ruh di tubuhnya. Akan tetapi, apa yang bisa aku perbuat saat tak punya senjata melawan penguasa?

Aku ikrarkan sumpah mati takkan meninggalkan padukuhan di telinga Mamak. Seusai itu, aku mengajak Hindun menuju titik nagari, tempat di mana Mamak sering memimpin upacara adat. Tak laki, tak perempuan, seluruhnya berkumpul. Mereka sepakat mempertahankan tanah nenek moyang.

Angin lesus tiba-tiba datang dari arah timur. Ia membelit

apa-apa yang menghadangnya. Makin lama, angin itu kian

menggila. Orang-orang bersorak sorai. Mereka tahu, Mamak ikut membantu perlawanan. Hindun menepuk bahu lantaran aku

sendiri yang tak berteriak kegirangan. Mana mungkin aku bersenang-senang saat aku tak tahu nasib Mamak di ujung pembaringan? Aku berjalan paling depan menuju aparat yang lengkap dengan senjatanya. Hindun turut berjalan di sampingku.

“Pulau ini seluas tujuh belas ribu hektare. Tidak cukupkah kalian membangun proyek nasional di belahan pulau lain, tanpa mengusir kami yang mendiami pulau ini sejak ribuan tahun lalu?”

Aparat itu merengsek maju tanpa menghiraukan perkataanku. Aku dan orang-orang tak takut. Kami kembali maju bertepatan angin lesus bergerak menyerang aparat. Saat angin ini menuju mobil pengangkut gas air mata di mana

aparat menembakkannya ke segala arah secara membabi buta, angin lesus mendadak lenyap. Aku tahu sesuatu telah terjadi pada Mamak. Suasana mendadak kaos. Gas air mata terus disemburkan pada kami. Orang-orang berlarian tak

terkendali. Tak sedikit saudara se-nenek moyangku ini bergerak serampangan menyelamatkan nyawa. Sialnya, aparat justru meletuskan senjata api. Hindun menarikku ke belakang. Berdua kami lari menyelamatkan diri.

Sesekali aku menoleh ke belakang. Ke arah mayat orang-orang yang tergeletak di atas tanah leluhur. Puluhan burung gagak berputarputar di atas langit. Aku terhenyak saat tiba di pelataran rumah. Mamak telah tiada. Badannya kaku. Bisaku hanya merunduk. Tapi, aku tak bisa berlama-lama di sana. Bersama orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri, aku bawa tubuh Mamak ke selatan. Ke tepi pantai yang memang tak dihuni orang.

Jumlah kami dua puluh lima. Hanya kami yang tersisa di antara dua ratusan orang. Aparat yang mengejar kami sampai tepi laut, akhirnya mengeluarkan maklumat, kalau kami boleh hidup di tepi pantai ini, dan jangan kembali ke jantung pulau, tapi jangan meninggalkan pulau. Barang siapa mencoba lari, akan dihabisi langsung oleh aparat yang berjaga di sepanjang bibir pulau.

Setidaknya, itulah yang mereka ucapkan. Mengurung kami di

pulau sendiri. Ucapan mereka yang konon hanya membangun

separuh pulau, nyatanya telah merampas seluruhnya. Sebulan

usai peresmian ecocity, mereka menyodorkan daftar nama yang akan diterbangkan ke Bulan.

“Satu-satunya tempat tinggal untuk kalian adalah di luar

angkasa. Tak usah khawatir soal tempat huni, makanan atau yang lain. Kami tanggung,” ucap Alexis yang fasih berbicara bahasa Indonesia.

Tawaran ini tak serta merta aku setujui. Bukan soal makanan atau tempat tinggal, melainkan sumpah setiaku pada padukuhan. Sialnya, wacana manusia hidup di Bulan dalam

jangka waktu panjang telah disetujui pemerintah pusat. Mereka berdalih suatu kehormatan yang luar biasa lantaran warga negaranya ditawarkan hidup di luar angkasa.

Alexis juga menyebut kami sisa penduduk pulau sebagai orang beruntung lantaran di luar negeri sana, orang berlombalomba ingin terbang ke Bulan dan harus membayar milyaran rupiah padahal status mereka sebatas turis. Tapi, kami tak usah bayar apa-apa dan bisa hidup di sana selamanya.

“Jangan terkecoh, Hindun,” kataku saat mendapati Hindun

bersorak saat mendengar penjelasan Alexis. “Pemerintah

pusat menukar kita demi proyek nasional ecocity sialan itu.”

“Maksudmu, kita jadi kelinci percobaan untuk melihat seberapa lama manusia sanggup hidup di Bulan, dan sebagai gantinya, penguasa dapat kucuran dana untuk membangun proyek eco city di pulau lain?”

Aku mengiakan pernyataan Hindun. Mendadak ia mengelus dada saat menyadari betapa liciknya kehidupan ini. “Tapi, kita tidak punya pilihan, Rang.”

Giliran aku yang mengelus dada. Hindun benar. Tak ada

pilihan untuk manusia terbuang seperti kita. Pulau sudah dikuasai. Tak sejengkal pun tersisa untuk kami. Alexis kembali mengulang pengumuman kalau lift luar angkasa—proyek pertama badan antariksa di mana pesawat ulangalik telah digantikan dengan lift ini, dan tak ada manusia mencobanya kecuali aku dan penduduk pulau mengalami kebocoran udara.

Alexis segera memerintahkan dua puluh lima orang penduduk

pulau memeriksa kabin. Bilamana mendapati bagian yang bocor, harap segera memberi tahu Alexis. Sontak semua orang yang tengah mengenakan pakaian astronot dan telah dilatih sebelumnya di Pasifik mengikuti instruksi Alexis. Kami yang melayanglayang di dalam kabin lift dan berkomunikasi lewat audio yang terpasang di helm berusaha mencari lubang yang dimaksud.

Oh, sebentar. Di depan mataku, di bagian segel katup, ada sebuah lubang sekecil seukuran jari kelingking. Aku yakin, inilah penyebab lift dari karbon nanotube ini tersendat. Aku masih menatap lubang ini dan tak menggubris pertanyaan Alexis di ujung sana. Sialnya, lelaki ini malah bergerak mendekat.

“Apa yang kamu lihat, Rang?”

Suara Alexis terdengar tajam. Lewat audio di helm astronot, aku bisa mendengar tekanan suaranya yang memberat.

“Apa yang kamu lihat?!”

Sengaja aku menutupi lubang itu. Meski tak mudah bergerak

dan menutupi pandangan Alexis lantaran di kabin tak lagi ada gaya gravitasi, aku tak mau Alexis melihatnya.

“Dasar bodoh! Apa yang kamu lihat?!” bentaknya saat berusaha menyingkirkan aku dari tepi jendela.

“Kamu mau kita mati? Lubang itu ada di belakangmu, kan?”

Bisaku hanya menyeringai. Terlebih lubang itu kian menganga lebar. Agaknya, ucapan Alexis memang benar. Makin besar lubang ini, lift makin tak terkendali. Katup terlepas. Udara yang masuk terasa menarik-narik. Orang-orang berusaha menyelamatkan badan dengan berpegangan pada apa yang bisa dipegang. Teriakan panik menyeruak ke seluruh ruangan saat tekanan oksigen nyaris di titik nol.

Alexis masih berusaha menarik tubuhku. Tapi, aku keburu

mendorong tubuhnya seraya menyeringai. Bukankah hanya

senyuman seperti ini yang bisa aku lakukan saat tanah leluhur dirampas penguasa sendiri? (M-2)

sumber : Media Indonesia, 14 Jan 2024.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *