Kubuka smartphone second milikku kemudian berselancar di dunia maya. Memelototi unggahan-unggahan video viral. Ada yang memaki pejabat yang korupsi. Mereka tidak suka dengan kebohongan-kebohongan yang selama ini dilakukan para koruptor.
Aku merenungi apa yang kusaksikan dan kubaca di media sosial. Tiba-tiba, tebersit ide. Membuat pendeteksi kebohongan.
”Bagaimana kalau aku buka praktik jual ramuan yang bikin hidung jadi panjang kalau bohong? Kuberi nama Bedak Pinokio.” Aku senyum-senyum sendiri. Lalu bergegas meramu racikan bedak taburnya. Bahan bakunya niat berbohong, dicampur bahan-bahan herbal pilihan. Cara pemakaiannya cukup diusapkan dengan kuas kecil merata di hidung, agar bila nanti ketahuan bohong akan memanjang.
Bagaimana kalau aku buka praktik jual ramuan yang bikin hidung jadi panjang kalau bohong? Kuberi nama Bedak Pinokio.
Kugunakan media sosial milikku untuk promosi. Aku unggah video yang memperlihatkan aku sedang memakai bedaknya sambil menjelaskan Bedak Pinokio cukup sekali usap bolak-balik, khasiatnya hanya bertahan 24 jam. Tidak lupa aku memberi tahu bahwa Bedak Pinokio bisa bongkar kebohongan dengan hidung yang memanjang beberapa inci, tergantung berapa kali berbohong. Dua hingga empat kali aku ingatkan.
Agar tidak mudah diklaim orang lain, aku buat logo tokoh Pinokio yang hidungnya memanjang lalu kutempelkan di atas tutup wadah bedaknya. Kuberikan tulisan kecil-kecil di dalam logonya: Bedak Pendeteksi Kebohongan Nomor Satu di Dunia.
Ternyata banyak peminatnya. Ada ingin coba-coba. Ada yang ingin menguji kesetiaan dan kejujuran pasangan. Ada pula yang benar-benar ingin taubat alias tidak mau lagi berbohong. Mereka menghubungiku lewat direct message, inbox Facebook hingga menulis langsung di kolom komentar akun media sosialku. Bahkan ada yang langsung meneleponku lewat nomor telepon yang kupasang di profil media sosialku.
Aku senang sekali mengetahui banyak orang yang ingin membeli Bedak Pinokio dariku. Orang-orang pun ramai mendaftar jadi reseller atau distributor produk Bedak Pinokio bikinanku. Tapi lama-lama aku tidak habis pikir kenapa mereka mempromosikan produkku tidak sesuai tujuannya seperti agar bisa kabur dari penagih utang, bisa korupsi lebih banyak uang, bisa tetap selingkuh, bisa tipu orang. Mereka seakan pura-pura lupa atau memang beneran lupa Bedak Pinokio justru bisa membuka kedok mereka berbohong, dengan hidung memanjang. Ataukah ini memang sengaja teknik marketing terbaru dari mereka agar nanti kian banyak orang memberi produkku.
Bagus, jadi sekarang saya bisa bohong ngaku miskin biar gak keluarkan sedekah, tapi dapat bansos.
Aku tahu itu disinformasi. Tapi aku biarkan saja, tidak mau mengingatkan mereka. Nanti bisa rugi aku.
”Bapak tahu efek samping Bedak Pinokio?” Aku bertanya kepada salah satu orang kaya yang membeli Bedak Pinokio di toko obatku pagi-pagi. Ia mengangguk.
”Bapak mau coba dulu?” Ia lagi-lagi mengangguk. Kuambil sedikit bedaķ biasa dengan kuas kecil. Lalu kuusapkan ke hidungnya.
”Sudah, Pak.” Ia lantas tersenyum,
”Bagus, jadi sekarang saya bisa bohong ngaku miskin biar gak keluarkan sedekah tapi dapat bansos.” Aku kaget mendengarnya. Hendak menjelaskan yang sebenarnya, tapi ketika tahu si orang kaya tersenyum melihatku kaget, aku urungkan.
”Ada apa, Mas? Mukanya, kok, seperti kaget begitu,” tanyanya. Aku menghela napas.
”Enggak, kok, Pak. Cuma kaget saja, Bapak, kan, kaya raya, kok, gak mau keluarkan sedekah.” Si orang kaya tertawa kecil.
”Uang saya itu dari hasil korupsi, jadi mau saya buat hura-hura, foya-foya saja.” Aku langsung tertegun.
”Tujuan saya ingin beli Bedak Pinokio selain itu, juga ingin membohongi rakyat biar bisa korupsi lebih banyak lagi.” Aku kembali kaget.
”Bapak masih mau korupsi? Enggak kapok.” Aku benar-benar miris mendengarnya.
”Iyalah, korupsi itu enak, menyenangkan, dapat duit banyak tanpa kerja keras.” Aku terdiam. Kupasang wajah masam. Si oknum netizen tidak peduli. Ia sibuk urusi hidungnya
”Hidung saya gak memanjang, kan.” Aku menggeleng. Ia tidak percaya. Memegang hidungnya sambil becermin. Ia tampak senang.
”Saya beli lima.” Ia membayar tunai Bedak Pinokio. Aku senang menerima banyak uang darinya.
”O iya, hidung Mas mancung ya.” Ia menunjuk hidungku. Aku kaget. Baru teringat efek pemakaian Bedak Pinokio untuk promosi kemarin belum sirna. Dan tadi aku berbohong memberinya bedak biasa. Aku pura-pura tersenyum.
”Iya, Pak. Masih punya keturunan bule.” Ia tertawa lebar. Kemudian pergi dari tokoku dengan wajah berseri-seri.
”Ada untungnya membohongi koruptor. Dapat uang banyak,” kataku senang sambil menghitung uang banyak di meja kasir. Tiba-tiba, aku merasa ada bagian wajahku yang makin memanjang. Ah…, ternyata hidungku kembali memanjang. Aku memaki diri sendiri. Mengira sudah lewat 24 jam ternyata belum.
Aku tutup tokoku. Seorang pejalan kaki melihat hidungku yang memanjang beberapa inci.
Baru kusadari menjual Bedak Pinokio ternyata benar-benar harus jujur.
”Hidungnya kenapa, Mas?” tanyanya.
”Baru operasi plastik biar tambah ganteng mirip orang bule.” Aku kembali merasa hidungku tambah panjang. Sebelum ada pertanyaan lagi, aku segera masuk ke dalam toko. Kututup gorden jendela.
Beberapa menit kemudian, kubuka sedikit korden jendela. Kuintip, orang itu sudah pergi. Aku bernapas lega. Baru kusadari menjual Bedak Pinokio ternyata benar-benar harus jujur.
Yogyakarta, 18 April 2025
Herumawan Prasetyo Adhie alias Herumawan P A, Karya cerpennya pernah dimuat di Apajake.com, Bangka Pos, Banjarmasin Pos, Harian Analisa Medan, Majalah Story, Majalah Kuntum, Minggu Pagi, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja, Harian Joglosemar, Harian Rakyat Sultra, Republika, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Jombang, Radar Lampung, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Solopos, Sastra Harian Cakrawala Makassar, Serambi Ummah, Tabloid Nova, dan Utusan Borneo.
sumber : kompas.id, 11 Jun 2025.
