TAK hanya segelintir orang saja yang tau ucapan Eyang Jaumiharjo. Hampir semua orang tua seluruh desa mengetahui cerita itu. Mereka percaya. Mereka menunggu datangnya ketika tempat tinggal mereka akan berubah menjadi sebuah kota dengan peradaban besarnya. Masyarakat desa mulai menjunjung anaknya dengan dongeng kebanggaan akan masa depan desanya.

“Kelak, daerah ini akan menjadi kota besar.” Selalu itu yang diucapkan kepada anak cucu mereka.

Tidak lagi. Tidak seperti kakek Kasan. Entah apa yang terjadi. Ada cara yang sedikit berbeda yang disampaikannya kepada cucunya. Ada getaran yang terasa. Mereka tahu, hal yang menurut orang-orang akan terjadi.

Konon, kakek Kasan pernah bertemu dengan Eyang Mardi Jaumiraharjo di Pasar Legi. Pasar yang buka hanya lima hari sekali sesuai dengan perhitungan penanggalan Jawa. Eyang Mardi Jaumiraharjo masih memiliki keturunan dari kerajaan yang tersohor di negerinya. Buyutnya adalah seorang penasihat agung di kerajaan. Katanya pula, ia adalah peramal dan hampir yang dikatakan selalu terjadi.

Kakek Kasan sedang merenungi titik-titik dalam hidupnya. Di seberang kursi, cucunya sudah pulas tidurnya. Menjadi anak kecil yang selalu bergerak tanpa batas. Tak ada permasalahan yang dihadapinya. Tak ada beban hidup yang menimpanya. Yang ia tahu hanya terus saja bergerak, berlari, dan tertawa.

Sardi masih ingat benar ketika membasuh wajah, tangan, dan kaki dengan air wudhu di sungai setiap pagi bersama kakeknya. Ia sangat dinikmati. Kaki terendam di air, sedangkan tangannya menghampurkan air. Dinginnya udara tidak menghalangi niatnya untuk segera memuji Sang Pemberi Nikmat. Halangan kantuk dan rasa lelah sisa sehari lalu begitu menyerang tubuhnya itu. Segera sekuat tenaga ia singkirkan dahulu. Niat di kalbu tak ingin melewatkan waktu. Bersama kakek dengan sajadah tua sebagai alas berdua.

Selepas salat subuh kala itu, kakek berkata pada Sardi, jika kelak ia meninggal, ia tidak ingin dikebumikan di pemakaman umum. Cukup dimakamkan saja di pekarangan rumahnya. Sardi tak mengerti hal apa yang dipikirkan kakek. Ia hanya termenung. Diam ketika kakek membicarakan kematiannya. Tatkala Sardi hidup sendirian menantang ramalan yang pernah diceritakan kakek.

Ruang teduh dengan lubang ventilasi kecil dari anyaman bambu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga. Dua kepala yang tinggal di dalamnya menekuri lantai, terlentang menatap kanopi hidupnya. Kepala yang masih penuh dengan cerita. Mungkin kepala yang penuh dengan derita.

Tak jauh dari keramaian, hanya bertetangga dengan pohon-pohon jati. Jika musim hujan dengan padi, jika musim kemarau dengan jagung. Rumah tetangga kebanyakan berada di seberang sungai. Maka tak jarang ia harus menyebrang terlebih dahulu untuk memanggil tetangga untuk membenahi atap rumahnya. Pun ketika tetangga-tetangganya datang untuk bersilaturahmi dan mendoakan penempatan kakek di surga. Menjadi hal yang mencengangkan ketika Tuhan telah mengirimkan pesan untuk menjemput kakeknya ke surga.

Burung-burung menyaksikan kesakralannya. Hari seolah-olah menyempit. Pusaran waktu seolah-olah telah menggerus bagian besar dalam hidupnya. Sedikit ada aliran melintas. Mata yang melihat pemandangan seperti itu.

Masa kecil Sardi adalah masa kecil yang penuh teriakan, tawa, dan berlari-larian. Waktu itu, Gini, putri tunggal Polo Suripan tinggal di desa yang sama. Gini kecil yang lincah dan pandai menggambar. Dengan matanya yang lincah seperti mata burung parkit, rambut hitam yang lurus dan panjang membuat ia sempurna sebagai gadis kecil.

Gini kecil sangat takut dengan ular dan petir. Ketika musim hujan dan petir-petir memukul-mukul, pohon yang tidak bersalah pun ikut terkena hantamannya. Tak jarang, ia sangat takut keluar rumah karena sering ditakut-takuti temannya bahwa ada banyak ular di luar sana. Gini kecil sontak menangis. Terlihat ujung hidungnya berwarna merah.

Sudah terbayang di kepala Sardi ketika berkebun dan menanam bersama Gini. Ia menjadi teman sebaya yang perhatian dan teman menghabiskan masa kecil dengan berdampingan. Tak jarang Sardi menganggap Gini sebagai istrinya, begitu pula Gini yang menganggap Sardi sebagai suaminya. Jauh di lubuk hati Sardi ada rasa kebanggaannya yang tak bisa disandingkan dengan apa pun.

Tentu saja, Sardi masih ingat ketika menanam pohon mangga di samping rumahnya dengan Gini. Hari itu saat rumah sudah bersih, ia melihat bibit pohon mangga di pojok ruangan. Ia lantas mengajak Gini membopong bibit mangga dan membawanya ke pekarangan rumah. Mereka tersenyum dan tertawa ketika pohon mangga menyatu dengan bumi. Sontak saja mereka berdua membuat janji. “Jika pohon mangga ini sudah tumbuh besar dan berbuah, maka kitalah orang pertama yang akan menikmati manisnya.”

Kehidupan desa yang tentram, burung-burung yang berkicauan sesuka waktu, tetesan embun yang setiap pagi menyapa seketika berubah menjadi riuh. Kedatangan pemilik modal yang ada di ibukota segera menyerbu.

Sore itu, ketika matahari belum sepenuhnya tergelincir, mesin mobil menderu dari jauh. Ribut mereka menerka siapa dia. Dan ketika bayangan kotak meluncur di tengah jalan, masih samar-samar serta meragukan. Sardi melihat sekelompok orang memakai jas hitam dengan sepatu hitam sembari menenteng beberapa koper yang sedang mondar-mandir di hamparan sawah. Dilihatnya, ia sedang menunjuk-nunjuk ke sekeliling arah hingga tangan itu menuding ke arahnya.

Matahari mulai meredup. Di langit beriring kelam satu-satu menutupi guratan jingga. Langka mereka pasti, tak digoyangkan kelabu. Jangkrik yang terlelap sejak pagi menggeliat dan terdengar kembali. Tak lama setelah datangnya orang-orang berpakaian hitam, Bayan desa meminta warga untuk berkumpul di pelataran balai desa. Warga tersenyum. Ada hidangan di sana. Pun ada sangu yang mereka dapatkan. Pak Bayan menceritakan maksud kedatangan orang-orang berpakaian hitam yang tak lain adalah untuk membeli sawah yang ditempati sebagian warga.

Ada maksud di balik senyum itu. Antara menyetujui atau tidak merelakan. Tapi, kehendak itu tak bisa diteruskan. Meski enggan untuk menatap orang yang datang, Sardi mencoba mengulurkan lidah untuk merayu warga untuk menolak.

“Pak Bayan, bukannya tanah di desa ini subur? Dan segala macam tanaman dapat tumbuh subur di sini tanpa petani susah payah merawatnya? Mengapa di desa kita? Mengapa tidak di tanah seberang sana yang tanahnya gersang, berbatu, dan menganggur? Desa kita telah membantu memberi makan negara.” Kalimat yang terlontar dengan getaran mantap.

Warga terdiam. Mencerna ucapan dari seorang pemuda yang telah mantap menjadi manusia. Sebagian warga tersenyum dan saling berbisik. Membicarakan ramalan dan penantian mereka tentang pembaruan desanya akan terwujud dengan datangnya orang berjas hitam dari ibukota.

Tak sulit bagi pemuka untuk mendapatkan yang diinginkan, termasuk tanah yang harus ia rebut dari pemiliknya. Cukup membagi-bagikan amplop tanpa membaca abracadabra maka sekiranya semua akan selesai. Hampir seluruh pemilik tanah menyetujui tawaran melalui Pak Bayan. Pemilik tanah mendapatkan uang dengan nilai yang ukuran bagi mereka sudah cukup mahal, sedangkan bagi orang berjas hitam tak ada bedanya dengan mobil bekas di garasi rumah. Tentu saja hal ini membuat Pak Bayan mendapat kompensasi. Seminggu berselang, Pak Bayan adalah orang pertama yang memiliki sepeda motor di desanya.

Dengan sedikit permisi, suara bising kendaraan merajang seluruh desa. Gemuruh penasaran terpancar pada anak-anak dan warga desa. Selepas sekolah, tanpa makan terlebih dahulu, cukup melepas pakaiannya lalu mereka berlarian untuk mendekat menyaksikan mesin-mesin besar yang sedang meramaikan desanya. Ia mendapatkan hal baru dan lain dari proses bermain dan kesehariannya.

Jalan-jalan di penjuru desa mulai diperlebar. Aspal hitam pekat beradu dengan cahaya matahari mengguyur di tengahnya. Debu-debu melayang di udara. Warga desa mendapatkan rutinitas lain usai tanahnya sudah berganti nama.

Sardi masih tak menerima. Teriakan hatinya kukuh. Setelah tanahnya, ia tak mau rumahnya. Rumahnya juga termasuk ke dalam area yang menjadi proyek orang berjas hitam. Sardi tetap gegabah tak mau pindah meski dengan ganti yang lumayan besar.

Kehidupan berjalan begitu cepat. Gaya hidup orang desa segera ditinggalkan. Pasar-pasar yang dulunya ramai sebagai tempat mereka membeli segala macam, kini mereka bergeser ke toko dekat perempatan jalan. Minimarket dengan keramik dan kaca-kaca yang dingin seolah sedang menyeret layar kehidupan mereka.

Semua anak yang pergi sekolah, orang-orang yang mondar-mandir di jalan sekarang harus membungkus mulut dan hidungnya dengan kain. Debu-debu beterbangan. Bau yang dikeluarkan mesin-mesin pabrik begitu mendominasi udara. Tak ada lagi senyum yang menyapa.

Kini hari-hari Sardi menyatu dengan dinding beton pabrik. Rumahnya menyatu pada batas pagar beton pabrik. Ia masih kukuh tak mau pindah. Setiap malam suara gemuruh mesin pabrik menjadi pengantar tidurnya menggantikan kicauan burung, bahkan telah menggantikan cerita-cerita kakek setiap malam.

Ia tak lagi bisa menghabiskan sore bermain dengan angsa dan mengubur badannya di sungai. Air yang jernih dengan daun-daun bambu hilang. Warna coklat pekat dan bau menyengat menggantikannya. Hingga burung-burung yang terbang pun terlihat ada noda di sayapnya. Tak ada sorak-sorai dan teriakan dari aparat untuk menegurnya. Ah, bagaimana bisa menegur? Jika mulut dan kantong bajunya sudah terisi.

Kehidupan yang berubah di kalangan warga, kebebasan ada di sana. Sebagian pekerja pabrik keluar masuk desa sudah menjadi hal yang biasa. Untuk pertama kalinya, terdengar berita jika seorang gadis telah bunting sebelum menikah. Tak hanya satu, disusul beberapa gadis lain juga.

Terdengar pula kabar di telinga Sardi, orang yang dikasihi semasa kecil juga telah hamil ia tak bisa menerima. Matanya membelalak keluar. Jiwanya terguncang. Ia teringat ketika dulu bermain dengan Gini di bawah pohon pisang. Kini, desa yang ramai dengan kicauan burung berubah menjadi deru mesin-mesin. ***

 

 

Agik N Efendi lahir di Jombang, 8 Agustus 1994. Alumni UNESA dan Pascasarjana UM, sekarang menjadi dosen Tadris Bahasa Indonesia di IAIN Madura. Ia bisa dihubungi di agiknur@iainmadura.ac.id