Kata orang, hanya ada dua jenis hari saja di dunia ini: hari baik dan hari buruk. Aku tidak tahu jenis apa yang akan datang pada hari ini. Jika sudah tahu dari awal ini hari buruk, lebih baik aku tidak melakukan apa-apa. Namun, jika sudah tahu dari awal ini hari baik, maka aku akan menjalaninya dengan suka hati. Sayangnya untuk tahu takdir itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Maka jalan satu-satunya untuk membuktikan hari baik atau buruk yaitu dengan melakukannya.
Aku hampir saja kesiangan pagi ini, sebab semalam keasyikan menonton film. Aku baru sadar bahwa nanti ada rapat dengan para petinggi perusahaan. Untungnya materi yang akan dipresentasikan sudah siap dari kemarin. Maka berbicara di depan mereka bukan perkara yang sangat menyulitkan.
Waktu jam masuk kantor kurang dari satu jam lagi. Aku harus bergegas mandi dan bersiap-siap. Saking buru-burunya, hampir saja handuk tidak terbawa ke kamar mandi. Jika tidak terbawa, mau tidak mau handukan dengan baju kotor atau keluar dari kamar mandi dengan telanjang.
“Ah, sial.” Airnya tidak mengalir. Tidak mungkin air mati karena aku belum membayar tagihan. Dua minggu yang lalu, aku baru saja membayarnya. Setelah berpikir beberapa detik, mandi di kamar mandi tetangga menjadi salah satu solusi.
Satu per satu aku ketuk pintu mereka, tidak satu pun ada jawaban dari balik pintu-pintu itu. Aku memakluminya. Kontrakan ini dihuni para pegawai seperti aku, jam segini mereka tentu sudah berangkat bekerja. Namun aku percaya, di antara dari mereka ada saja yang belum berangkat bekerja.
“Apakah air di kontrakanmu mati?”
“Kau belum mengetahuinya? Semalam pihak perusahaan air membuat pengumuman bahwa pagi ini akan ada perbaikan pipa. Makanya air tidak mengalir.”
“Berarti pagi ini tidak ada mandi?”
“Aku sudah mandi pagi buta. Para tetangga kita juga demikian.”
Apakah ini hari buruk? Tapi aku tidak ingin menghakiminya terlalu dini. Bisa jadi ada kebaikan di nantinya. Berangkat ke kantor tanpa mandi bukan sesuatu yang buruk bukan?
Aku hanya mengganti pakaian. Dengan motor matic ini, aku maju dengan kecepatan cukup kencang. Sayangnya rasa kencang tidak bertahan lama. Sesampainya di jalan raya, jalanan sangat padat kendaraan. Tidak bisa motor ini buat melaju kencang. Bisa-bisa hari ada berita kecelakaan lagi.
Aku sudah mandi pagi buta. Para tetangga kita juga demikian.
Aku masih sabar melajukan motor dengan cukup pelan. Kendati tidak ada setengah jam lagi rapat dimulai, aku harus tetap mengutamakan keselamatan.
“Ah, sial.” Banku terasa tidak seimbang. Aku meminggirkan kendaraan dan turun. Mengecek keadaan ban motorku. Benar saja, ternyata bannya kempes. Apakah bocor? Bisa jadi. Untungnya ada bengkel di sekitarku. Segera aku tuntun motornya.
“Bocor, Mas?”
“Mungkin.”
Montir tersebut mencopot ban dalam lalu mengeceknya. Ternyata benar: ada lubang kecil pada ban dalam. Tanpa berlama-lama, ia menyiapkan peralatan tambal ban dan menambalnya.
Hampir sepuluh menit aku menghabiskan waktu di bengkel ini. Ada rasa gusar ketika montir tersebut sibuk dengan motor pelanggan lain.
“Kayanya sudah beres, Mas.”
Setelah aku tegur, ia langsung menghampiri motorku. Memasang kembali ban dalam dan akhirnya aku dapat melanjutkan perjalanan ke kantor lagi.
Aku berusaha memacu motor dengan cepat. Namun, kepadatan lalu lintas menjadi hambatan. Rasa was-was akan kecelakaan terus menghantui. Tapi rasa itu lebih kecil. Kata orang, hanya ada dua jenis hari saja di dunia ini: hari baik dan hari buruk. Aku tidak tahu jenis apa yang akan datang pada hari ini. Jika sudah tahu dari awal ini hari buruk, lebih baik aku tidak melakukan apa-apa. Namun, jika sudah tahu dari awal ini hari baik, maka aku akan menjalaninya dengan suka hati. Sayangnya untuk tahu takdir itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Maka jalan satu-satunya untuk membuktikan hari baik atau buruk yaitu dengan melakukannya.
“Mas, kamu sudah ditunggu Bos dan klien,” ujar satpam kantor yang melihat aku sedikit berlari. Walaupun aku sudah berlari mengejar waktu, nyatanya tetap saja kalah. Ketika aku buka ruang rapat, mereka semua sudah berkumpul dan saling berdiskusi.”
“Baru sampai?”
“Iya, Bos. Tadi ban saya…”
“Sudah duduk saja sana.”
Apakah ini hari buruk? Aku berasumsi ini adalah hari buruk. Beberapa rentetan kesialan telah aku terima. Sudah kupastikan hari ini buruk, maka aku memilih tidak melanjutkan hari ini.
Kata orang, hanya ada dua jenis hari saja di dunia ini: hari baik dan hari buruk. Aku tidak tahu jenis apa yang akan datang pada hari ini. Jika sudah tahu dari awal ini hari buruk, lebih baik aku tidak melakukan apa-apa. Namun, jika sudah tahu dari awal ini hari baik, maka aku akan menjalaninya dengan suka hati. Sayangnya untuk tahu takdir itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Maka jalan satu-satunya untuk membuktikan hari baik atau buruk yaitu dengan melakukannya.
Pagi ini, aku menjalani rutinitas seperti biasa; bangun tidur, mandi, sarapan, lalu berangkat ke kantor. Tidak ada hal yang aneh pada pagi hari ini. Semua kejadian berjalan seperti biasanya. Keluar rumah, di jalan, sampai kantor tidak ada hal yang menjadi indikasi hari baik atau buruk.
“Hari yang biasa saja,” gumamku dalam hati ketika melihat jam di angka dua belas.
Seperti karyawan yang lain, jam ini merupakan jam istirahat dan makan siang. Aku beranjak dari meja kerja dan tiba-tiba ada seseorang menepuk bahuku.
“Ayo ikut aku. Hari ini tender kita menang. Aku ingin mentraktir beberapa karyawan yang maksimal dalam bekerja.”
“Siap, Bos.”
Siang itu, aku dan tujuh karyawan lain pergi ke luar kantor untuk mengikuti Bos. Katanya, bos akan mentraktir kami di restoran mahal dekat kantor. Tentu saja, omongan pemimpin harus tepat janji.
Ayo ikut aku. Hari ini tender kita menang. Aku ingin mentraktir beberapa karyawan yang maksimal dalam bekerja.
Kami berhenti di restoran tersebut dan masuk di dalam. Walaupun aku sudah beberapa kali makan di tempat ini, namun makan dengan gratis adalah hal yang menyenangkan. Kami memesan secara bebas menu yang ada di sana. Sambil menunggu pesanan, Bos berbincang- bincang terkait pengembangan kantor.
“Kalian yang aku undang makan di sini, bulan depan akan aku naikkan gajinya.”
Apakah ini hari baik? Aku belum bisa memastikan. Aku tidak tahu kejadian apa yang akan menghampiri beberapa jam kemudian. Yang jelas, menjalaninya terlebih dahulu untuk mengetahui hari baik/buruk.
Setelah makan siang, kami kembali ke kantor dan bekerja kembali. Tidak ada kejadian yang berbeda. Semuanya seperti biasa dan rutinitas yang aku lakukan. Hingga jam pulang kerja tiba, masih tidak ada hal aneh.
“Apakah aku boleh ikut denganmu? Bukankah kita satu arah?”
“Boleh. Tentu saja jalan menuju kosmu sering aku lewati.” Siapa sangka hari ini aku bisa pulang bersama bidadari kantor ini? Sebuah keberuntungan aku bisa berduaan dengan sekretaris Bos yang masih lajang dan jadi rebutan pria sekantor. Tanpa pikir panjang aku langsung membawanya di atas motor. Entah karena kedinginan, sesekali dia merapatkan tubuhnya kepadaku. Tentu ini merupakan hal yang menyenangkan bagi pria.
Apakah ini hari baik? Dari beberapa rangkaian kejadian di hari ini, aku bisa pastikan bahwa ini adalah hari baik. Aku akan dengan senang hati menjalaninya hingga mata terlelap.
Aku sengaja melajukan motor dengan agak lambat agar bisa banyak waktu dengannya. Banyak waktu bersamanya berarti banyak hal yang dapat kita obrolkan. Memang, sedari kantor hingga pertengahan jalan, kami selalu mengobrol tanpa henti. Aku lebih suka berbicara dengannya daripada mengendarai motor. Alhasil beberapa kali aku diklakson oleh pengendara lain karena agak ugal-ugalan.
“Sudah kamu fokus saja mengendara.”
“Mengobrol denganmu sungguh mengasyikkan. Aku ingin tahu lebih tentang dirimu,” ucapku sambil melihat wajahnya yang tersenyum dari spion kiri. Aku terlena melihat bibirnya.
“Awas! Depanmu!” Kecantikannya benar-benar membuatku terbang. Tidak, tidak, sebenarnya mobil bak terbuka yang membuatku terbang sebab aku menabrakkan. Sial, kepalaku terbentur aspal dan aku tidak bisa bergerak sama sekali.
Apakah ini hari baik atau buruk? Aku tidak dapat menyimpulkan setelah hal ini terjadi. Barang kali, orang lainnya yang lebih pandai menilai hariku ini.
Banjarnegara, 2022
Bagus Sulistio,- lahir di Banjarnegara, 16 Agustus 2000. Berdomisili di Desa Karangsalam, Susukan Banjarnegara. Saat ini ia menjadi guru wiyata bhakti PAI di SD N 1 Karangsalam dan mentor kepenulisan cerpen di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) IAIN Purwokerto. Ia juga menjadi wakil ketua Forum Lingkar Pena (FLP) ranting Banjarnegara dan anggota di KPBJ. Karyanya pernah menjadi nominator sayembara esai Balai Bahasa Jawa Tengah, Juara 2 esai bahasa Arab FAC FEBI IAIN Purwokerto, Juara 2 Lomba Cerpen Nasional FAH UIN Jakarta, terdokumentasikan dalam beberapa antologi cerpen serta tersiar pada beberapa media seperti Suara Merdeka, Kompas Id, Islami.co, Minggu Pagi, Solopos, Banjarmasin Post, Harian Sultra dan masih banyak lagi.
sumber : kompas.id, 22 Mei 2024.
