Cerpen : Gadis Minang dan Bunga Sakura di Kepalanya oleh Anugrah Ghani

Pernahkah kalian mendengar kelas Bahasa? Ya, kelas Bahasa yang ada pada jenjang SMA. Kelas yang dianggap kurang brand-nya. Tentu, karena kebanyakan di antara mereka akan memilih kelas IPA. Tetapi, gadis 16 tahun itu mempunyai mimpi yang tinggi untuk keputusannya berada pada kelas Bahasa.

Mimpi yang terasa tidak mungkin. Ia bisa membayangkan bahwa kelas itulah yang akan mengantarkan ke masa depan yang ia cita-citakan sejak kecil. Entah apa awal dulunya. Ia menjadi seorang penyuka bunga sakura. Ia menghiasi dinding kamarnya dengan tempelan gambar-gambar bunga sakura. Yang diambil dari internet.

Sungguh tak ada yang meragukan indahnya bunga sakura. Termasuk gadis Minang itu. Gadis itu tak pernah berhenti bermimpi berada di tengah bunga sakura. Ia memilih jurusan Bahasa setelah menentang opini dari kedua orangtuanya dan suara keras itu membuat rumah mereka seketika terguncang, ”Jurusan Bahasa tidak akan membuat kamu kelak bermasa depan yang cerah.”

Para anggota keluarga pun mulai mengumpat. Apakah jurusan Bahasa memperbaiki nasibnya, atau berujung dengan ijazah tamat SMA saja. Namun, ia tetap melanjutkan pilihannya seperti tak terjadi apa-apa. Ia berangkat sekolah berjalan kaki. Untung-untung kalau ada kawan yang lewat, bisa ia mendapatkan tumpangan. Ia akan pulang sebelum pukul empat. Sebelum Amak dan Abaknya pulang dari sawah; sekolah di salah satu SMA unggul yang ada di daerahnya sampai pukul tiga sore. Ia lanjutkan dengan privat bahasa Jepang dengan Sense Lin.

Jurusan Bahasa tidak akan membuat kamu kelak bermasa depan yang cerah.

Setiba di rumah, ia memberesi piring kotor bekas makan uni dan adik-adiknya. Tepat jam setengah tujuh senja, ia akan masuk ke kamar dan membuka sebuah catatan kecil. Catatan itu merupakan isi pembelajaran bahasa Jepang-nya dengan Sense Lin setiap harinya. Pada hari Minggu ia akan ikut Amak dan Abaknya ke ladang, tak layaknya gadis Minang sekarang pada umumnya. Lelah Abaknya mengumpat, akhirnya tak ada lagi pembahasan rumit itu di tengah kebersamaan mereka.

Sayangnya, semua tak berubah saat prestasi pertama didapatkannya. Sebuah sertifikat yang ia bawa pulang. Selembar sertifikat dari sebuah media digital karena tulisan cerpennya dimuat sebagai salah satu yang ditayangkan pada bulan itu.

Abaknya menatap kosong kertas itu. Seakan-akan yang dibawa anaknya tak ada artinya.

”Sekarang apa gunanya kau jadi penulis?”

”Hah.”

”Saya tak ada mendengar ada yang bisa menjadi hebat dengan menulis.”

Abaknya semakin tak terkendalikan.

Gadis itu makin terluka.

”Kau bawa selusin pun tak ada guna.”

”Abak salah, tentu sangat berguna.”

”Apa gunanya? Buat apa?”

”Mengantarkanku ke negeri Sakura, untuk apa lagi?”

Dengan sedih tak tertanggung, ia bergegas menuju kamar. Dipandangi bunga-bunga sakura. Dilihatnya setiap sudut kamar, seakan ada yang dicari. Gadis itu teringat sesuatu saat sedang belajar dengan Sense Lin; kalimat penuh harapan, ”Cita-cita kau yang tulus itu, suatu hari akan kau dapatkan.”

Gadis itu seketika sadar, ternyata cita-citanya masih mendapat dukungan. Baginya, Sense Lin tidak hanya sekadar guru privat, tetapi seperti ibunya. Awalnya ia tak yakin. Esok akan semakin tegar. Nanti Amak dan Abak pasti akan mendukungnya. Ia lihat bunga-bunga sakura itu bermekaran di dalam kamarnya. Novel Getar Asa Negeri Sakura ia kembali buka dan baca dengan rinci per lembarnya. Ia melirik dengan teliti, membaca dengan memahami bunga-bunga sakura bermekaran, lalu berjatuhan, berjatuhan lagi, terus-menerus. Bunga sakura bertebaran di kakinya, sampai ke sekelilingnya. Begitu ia larut dalam suasana yang ada di kepalanya.

Dalam hati ia bertanya, bunga sakura seindah itu, mana mungkin bisa ia tidak bahagia. Kebahagiaannya menembus awan seketika itu. Terlintas di otaknya untuk mengumpulkannya. Apa tidak rugi jika membiarkan saja bunga-bunga itu. Ia lupa pada senja yang beranjak. Buta pada keadaan yang hanya menembus ruang sadarnya.

Sekilas ia merasa berdebar cepat. Malam ini ia tak akan nyenyak jika belum membicarakan kepada Abak. Namun, ia sadar Abak bukannya selama ini tidak pernah berpihak kepadanya? Otak dan hatinya berperang seketika itu. Bersiap untuk terlempar untuk sekian kalinya. Ia pun tak peduli pagi, saat Abaknya menyimpulkan; sakura lebih mengganggu kewarasannya.

Abak menyuruhnya berpikir beribu kali. Tak lagi ada keinginannya untuk membahas itu lagi dengan Abak. Ia juga mulai mencopot satu-persatu gambar bunga sakura yang ada di dinding kamarnya agar tak ada lagi bayangannya tentang bunga sakura. Tak dipedulikannya sidik Amak setiap kali masuk ke kamarnya. Saat ditanya kenapa mencopot semua gambar di dinding, ia menjawab, ”Tidak akan mungkin orang seperti kita bisa ke negeri sakura.”

”Apa kau sudah menyerah?”

”Nanti aku bertentangan terus dengan Abak.”

”Jadi sekarang kau takut bermimpi?”

”Sudah terbit berapa tulisanmu bulan ini? Mungkin lebih dari lima. Aku bisa mendapatkan jalur prestasi. Dan juga sedang gencar belajar untuk mendapatkan beasiswa,” bisiknya sambil beranjak dari ranjang. Matanya kosong seketika itu.

Amak memilih pergi, diam seribu bahasa.

Jadi sekarang kau takut bermimpi?

Ia pun balik memperhatikan satu gambar sakura yang masih tersisa di dinding. Dikerahkan seluruh otaknya untuk kembali istikamah dengan cita-citanya itu. Ada tawa lepas yang melintas seketika, berada di bawah gugurannya bunga sakura. Sayang, semuanya telah dihancurkan lebih dulu. Di ujung hari keinginannya tak lagi ia suarakan.

Terlampau kesal, ia berjuang secara diam-diam. Tak peduli lagi, semakin digencarkan usahanya. Ia telah mengikuti semua saran dari Sense Lin. Kekuatan itu akhirnya kembali membawa energi positif untuknya. Melihat itu, Sense Lin memberikan pengetahuan lebih. Semakin fasih, semakin bersemangat. Aroma bunga sakura membekap kembali di udara. Ia menikmati dan kembali membayangkan.

”Kalau SMA itu biasa kuliah dulu, kalau kalian kuliah di Jepang, setelah kuliah kalian akan langsung dapat pekerjaaan dan gaji sama dengan UMR orang Jepang, tapi itu tergantung dari keinginan kalian masing-masing.”

Sense Lin kembali mengipaskan sebuah vitamin positif.

Setelah mendengar hal tersebut, keinginannya ke Jepang lebih kuat lagi.

”Apa tidak susah Sensei, kalau mau kuliah?”

”Kamu sudah dapat sertifikat F-5 (level dasar bahasa Jepang). Sebenarnya kamu sudah bisa ke Jepang, tapi magang, kalau mau kuliah minimal punya level bahasa Jepang F-4.”

Hari berlalu mendekati kelulusan, ia selalu tekun dalam belajar bahasa Jepang. Sampai terdengarlah kabar baik itu. Ia lolos F-2 yang di mana Sensei Lin malah gagal.

”Kamu bisa kuliah di Jepang dengan beasiswa, ada beasiswa paling bergengsi yang diadakan oleh Jepang. Pergi dibiayai, hidup di Jepang dibiayai, tanpa ikatan dinas dan yang lebih penting, akan dikuliahkan di Universitas of Tokyo. Universitas yang masuk kategori 10 besar dunia.”

Sen tampak bahagia dengan senyum menghiasi wajahnya sepanjang memberikan penjelasan itu. Meskipun begitu, tentu ia harus minta persetujuan Abak dan Amak dulu. Belum tentu juga berita bagus ini baik untuk kedua orangtuanya itu.

Ide untuk meminta bantuan kepada Datuk pun sekilas melintas setelah beberapa hari itu. Agaknya hanya Datuk yang bisa membantu. Ia memasuki rumah Datuk. Rumah yang terbuat dari kayu dan kelihatan sudah sangat lama. Namun, cukup terawat dan masih sangat kokoh. Ia bercengkerama dengan Datuk siang itu. Di tengah terik dan embusan angin yang berasal dari danau yang terlihat jelas dipandang dari rumah Datuk. Datuk yang merasa cucunya itu sangat berkeinginan keras tidak sekali pun mematahkan sepanjang ia menjelaskan tentang Jepang kepada Datuk.

Angin selalu tahu kapan ia harus berembus. Apalagi saat itu, saat di mana ia juga berusaha agar angin membawanya terbang jauh. Ia tidak membenci angin karena angin adalah karunia Tuhan dan karena angin juga yang akan membawa ke segala arah. Angin memasuki seisi ruang di rumah Datuk. Ia sedang memegang sebuah surat undangan ke Jepang dan angin seakan ingin merebutnya darinya. Sekumpulan angin kembali membawa aroma wanginya bunga sakura.

Akhirnya ia berhenti menerawang. Dilangkahkan kakinya dengan yakin pulang ke rumah. Makin banyak saja keraguan. Sengaja ia mempercepat langkah agar hatinya tak terlalu berdebar kencang. Mengusik dirinya sebelum bertemu dengan Abak. Langkahnya terhenti tepat di depan Abak. Ia memberikan selembar kertas undangan dan tanda diterima kuliah di Jepang.

Setelah Abak membaca beberapa lembar kertas itu. Dilemparkan ke meja di depannya. Seketika itu ia sudah dapatkan keputusan. Tidak akan Abak mengizinkan memenuhi undangan itu. Tak akan bisa ditawar. Tidak akan.

”Kau tidak akan pergi ke Jepang!”

”Kau itu seorang gadis dan tidak akan bisa menjaga diri!”

”Dan bagaimana jika nanti cuma nama kau saja yang pulang lagi?”

”Kau akan kuliah di sini saja. Tidak jauh dari kami.”

Diam. Tak satu pun kata yang ia ucapkan. Abak masih kokoh tidak akan mengizinkan. Agaknya Abak benar-benar terpengaruh dengan bisik-bisik tetangga yang mengatakan banyak yang pergi ke Jepang hanya pulang nama. Bahkan, ada yang tak tahu rimbanya. Apalagi budaya di negeri sakura itu sangat bertolak belakang dengan Minang. Meskipun ia mengatakan tidak akan mengubah budayanya. Pasti Abak tidak akan mau juga.

Kau itu seorang gadis dan tidak akan bisa menjaga diri!

Esok harinya, kompleks itu gempar. Tubuh seorang gadis ditemukan tak bernyawa. Digenggamannya begitu banyak potongan-potongan gambar sakura. Seketika penghuni rumah itu histeris. Tetangga pun berdatangan. Isak, tangis pecah. Tak sedikit tetangga yang ikut menangis di senja itu.

Wajah Abak pucat. Dalam hati ia menyesal. Andai waktu itu ia mendukung keinginan besar anak gadisnya itu. Andai ia tak mengerasinya. Andai sejak awal ia memahami anaknya yang ingin sekali ke negeri Sakura, andai ia biarkan saja.

Abak memeluk anak gadisnya terakhir kali. Mengambil potongan gambar sakura di genggamannya. Tak tertahan, isaknya menyayat. Saking terguncangnya, lelaki paruh baya itu tak menyadari tak ada seorang pun tampak di sekeliling gadis itu.

Amak yang tak terima berkali-kali kehilangan kesadarannya. Begitupun dengan uni dan adik-adiknya tampak berteriak histeris bersamaan.

Amak tak hentinya memeluk anak gadisnya itu setelah Abak melepaskannya.

Amak tak terkendalikan seketika itu. Ia mengumpat.

Senja jatuh dengan terluka. Senja mengantarkan pada malam kegelapan. Sunyi pekat, tak satu pun suara jangkrik menghiasi. Tubuh gadis Minang itu membeku dan tampak sengsara. Jiwa dan raganya mati bertepatan dengan hari jadwal keberangkatannya ke negeri Sakura. [*]

Anugrah Ghani

Catatan:

[1] Abak (bahasa Minang) = Orangtua laki-laki

[2] Amak (bahasa Minang) = Orangtua perempuan

sumber : kompas.id, 19 Okt 2023.

Article Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *