”Cepat lari ke kamar. Cepat. Kalau tidak, kita akan ketahuan oleh mereka!” Aku gegas menuju kamar yang dimaksud oleh Mei dengan penuh kekhawatiran. Kami beriringan berjarak beberapa langkah saja. Mei berlari tak kalah panik denganku. Aku mengekor di belakang dirinya dan merasakan ketergesaan. Di luar, suara keributan terdengar memekakkan telinga diiringi dengan suara kaca pecah dan suara-suara lainnya. Kerusuhan pecah dan ribuan orang berlalu lalang di jalanan.
Semua bermula ketika harga kebutuhan pokok mulai melonjak. Hampir semua kebutuhan harganya meningkat drastis. Ada yang meningkat berkali-kali lipat. Termasuk harga kebutuhan pokok meningkat lima hingga sepuluh kali lipat. Lebih dari itu, barang-barang juga mulai langka. Termasuk ketika mereka datang ke toko yang kujaga, mereka pulang dengan tangan hampa. Beberapa meninggalkan toko dengan memakikan kata-kata mengutuk.
Pada akhirnya apa yang kami takutkan pecah. Orang-orang mulai turun ke jalan dan menjarah semuanya. Tak peduli itu makanan, pakaian, atau pun barang-barang lainnya sekalipun itu barang penting tak penting. Krisis telah terjadi, emosi tak bisa lagi diredam dan dipadamkan. Hanya ada nyala api dari diri mereka. Aku merasakan itu di hari-hari sebelum hari ini. Kini bara api itu nyata adanya dan merembet ke segala arah. Aku merasa toko yang kujaga pasti tak luput dari amuk massa. Aku dengan cepat menutup pintu toko milik orangtua Mei. Di toko ini, kami menjual hampir semua kebutuhan yang dibutuhkan orang-orang. Bisa disebut toserba, hanya saja lebih sederhana dan lumayan luas. Jadi tempat ini kupikir akan menjadi sasaran utama massa yang turun ke jalan. Terlebih keluarga Mei adalah keturunan. Bisa dipastikan, bahaya akan mengancam.
Krisis telah terjadi, emosi tak bisa lagi diredam dan dipadamkan. Hanya ada nyala api dari diri mereka.
Toko ini menyatu dengan rumah tinggal keluarga Mei. Aku sendiri juga ikut tinggal di sini sejak umurku belasan. Aku membantu dan bekerja di sini sudah cukup lama sehingga ketika aku mengajak Mei menutup toko, tanpa pikir panjang ia menyetujui. Setelah menggembok semua pintu, lantas kami bergerak dan berlari menuju rumah di belakang. Lebih tepatnya, Mei mengajakku masuk ke kamarnya. Sesaat setelah sampai di kamarnya, aku terkejut ketika Mei mengajakku menggeser kasurnya. Aku mengangkat dan menyandarkan kasur itu ke tembok bersama dengannya.
Setelah menoleh, keterkejutanku semakin menjadi-jadi ketika ternyata di bawah kasur itu ada sebuah pintu kecil. Mei membukanya. ”Cepat masuklah!” Aku lekas menuruti perintah Mei. Menuruni tangga disusul Mei di belakangku setelah menutup pintu itu. Aku memasang wajah kebingungan. Lantas secara tidak sadar pertanyaan terlontar dari mulutku. ”Sejak kapan?” ”Keluargaku meyakini suatu saat hal ini pasti akan terjadi. Jauh sebelum kau ke sini, rubanah ini sudah ada,” jawab Mei sembari bergegas menuruni tangga. ”Untuk sementara, kita akan di sini,” lanjutnya.
Sampai di bawah, aku melihat ada lorong terbentang jauh ke depan. Tapi aku dan Mei hanya duduk di lantai ujung tangga. Kami duduk bersebelahan. Napasku tersenggal karena panik. Begitu pun dengan Mei. Kami menarik napas panjang lantas mengembuskannya. Pikiranku melayang ke orang tua Mei yang sedang membeli stok toko ke luar kota. Bagaimana dengan nasib mereka di luar sana. Tapi kekhawatiranku terpecah karena perkataan yang terlontar dari mulut Mei.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tapi untuk saat ini kupikir inilah tempat yang paling aman bagi kami. Aku menatap Mei. Ia menunduk. Kurasa ia sedang menenangkan diri. Aku meraih pundaknya dan berkata semua akan baik-baik saja, semua pasti akan berlalu. ”Lin,” kata Mei. Lantas ia mengangkat kepala, menatapku, dan berkata, ”jika kita mati hari ini, atau aku yang mati lebih dulu karena orang-orang itu, tolong ingat apa yang kusampaikan padamu?” Aku bingung menangkap maksud dari apa yang dikatakan Mei. Aku menarik tanganku dari pundaknya, lantas menegaskan posisi dudukku. Aku menatapnya, kepala Mei menengadah lantas menoleh ke arahku. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat manis. Tak lama setelahnya ia menatap lorong di hadapan kami.
”Aku akan menceritakan rahasia keluargaku. Tapi hanya padamu saja. Kau bisa dipercaya, kan?” kata Mei padaku. Ia mengatakan dengan agak berat dan tegang. Tapi wajahnya tetap menatap lurus ke depan. Lalu ia menolehkan wajahnya ke kiri dan kanan menatap tembok yang penuh coretan atau barangkali catatan yang disengaja. Aku yang duduk di sampingnya lantas menatap wajah Mei. Aku mencoba menerka apa yang ingin ia katakan. Tapi aku gagal membacanya. ”Jika aku nanti pada akhirnya akan mati. Jagalah rahasia ini dari siapa pun. Jangan pernah ada yang tahu selain hanya kau saja.” Mei mengatakan dengan wajah yang serius. Kini ia menatapku. Kami saling memandang. Kelopak matanya cerlang penuh pengharapan.
Aku memeluk Mei. Mencoba menenangkannya. Mei membalasnya dengan pelukan erat. Kurasakan embusan napasnya di tengkukku. Napasnya berat dan kupikir kegelisahan menyelimuti dirinya. Aku meyakini itu karena kurasakan jantungnya berdetak cepat. Ia melepas pelukannya. Menarik diri lantas duduk kembali seperti semula. Aku merasakan kehampaan dalam dirinya. Kupikir itu adalah rasa putus asa akan hidupnya yang terancam. Berkali-kali aku menenangkannya. Kukatakan padanya semua akan baik-baik saja. Kugenggam tangannya erat. Kusapukan ibu jariku perlahan ke kulit luar telapak tangan Mei sebagai tanda bahwa aku bersimpati padanya.
Jika aku nanti pada akhirnya akan mati. Jagalah rahasia ini dari siapa pun. Jangan pernah ada yang tahu selain hanya kau saja.
”Di keluarga ini, masing-masing orang punya rahasia. Aku tentu juga punya. Tapi jauh tak ada apa-apanya dibandingkan dengan rahasia-rahasia lainnya di rumah ini,” kata Mei. Matanya kembali menatap tembok yang penuh coretan. ”Maksudmu?” tanyaku penuh selidik dengan tetap tenang. ”Lihat itu,” katanya tenang disertai dengan gerakan kepala dengan maksud menunjukkan tulisan yang ada di hadapannya.
Aku mendongakkan kepala melihat tembok yang ditunjuk oleh Mei. Lalu aku mulai mencermati dengan lekat dan membacanya. Aku memincingkan mata karena kalimat di tembok samar. Lantas kutanyakan pada Mei apa maksudnya tulisan itu. ”Itu adalah tulisan orangtuaku. Mereka menulis ini sebagai rahasia umum bagi keluarga. Tak ada orang yang tahu di luar sana. Termasuk saudara kami sendiri. Itu adalah buku catatan sederhana mengenai toko dan hal-hal yang diprediksi Baba. Ini menjadi rahasia keluarga kami. Bahwa toko ini didirikan dengan mati-matian oleh Baba. Bahkan ancaman selalu datang ketika pertama kali toko ini berdiri.” Mei bercerita dengan serius. Matanya berkaca-kaca tapi tetap tenang.
Aku hanya diam dan menyimak setiap kata yang dikatakan Mei. Tak mau barang sedikit kata pun terlewat. Aku mendengar dengan seksama dan bahkan tak berniat sekali pun menyela. ”Ada masalah yang lebih besar. Rahasia ini mungkin bukan hanya ada di keluarga ini, tapi juga keluarga-keluarga keturunan yang lain. Bahwa untuk membuka toko sampai seperti sekarang, perlu uang besar untuk menyuap pejabat dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Agar apa? Tentu agar usaha toko ini tidak tersentuh dan bisa melanggeng. Tapi kau tahu, di balik keuntungan toko ini, yang di mata orang-orang memiliki keuntungan besar, sebenarnya keuntungan toko ini mengalir ke kantong orang-orang yang melindungi kami. Meskipun kami tahu bahwa mereka jauh lebih busuk dari yang orang-orang tahu. Apalagi orang-orang partai itu, mereka jauh lebih busuk dari bangkai.” Mei bercerita dengan leluasa. Meski kurasa ia juga tertekan dengan keadaan di luar.
Aku masih terkesiap. Mencoba memahami lebih jauh apa yang dikatakan Mei. Aku masih ingin mendengar lebih darinya. ”Lalu rahasiamu?” tanyaku penasaran. ”Lihat itu,” kata Mei dengan mendongakkan kepala mengarah ke tembok yang lain. ”Apa itu?” tanyaku dengan pelan namun penuh harap. ”Soal itu. Jadi begini. Sejak dulu sebenarnya kelahiranku tak pernah diharapkan. Kau pasti tahu alasannya. Orang yang lahir dari rahim keturunan tak pernah diharapkan karena penderitaan demi penderitaan akan diterima. Kelahiran merupakan bencana kau tahu. Sentimen orang-orang pada kami sangat gila. Jadi sampai saat ini, aku masih jarang keluar dari rumah dan lebih suka di rumah dan tak berhubungan dengan orang banyak. Demi diriku juga demi keluargaku.” Mei bercerita dengan sangat serius. Matanya berkaca-kaca. ”Tapi yang perlu kau tahu, Tuhan bisa saja tidak menyelamatkanmu. Tapi aku yakin jika nantinya kita mati, kita akan berada dalam pelukan Tuhan,” kata Mei mantap dan tegas. ”Jika masih sempat, akan kuceritakan rahasia-rahasia lainnya yang kuketahui. Semua ada di lorong rubanah ini,” tambahnya.
Aku menunduk. Lantas menatap tembok berisi catatan yang dimaksud Mei. Namun hal yang tak kami duga terjadi. Suara gemuruh muncul tepat di atas kepala. Suara-suara memenuhi pintu masuk rubanah tempat kami saat ini. Tiba-tiba semua yang ada di depanku seolah kabur. Tulisan di tembok lesap. Semakin samar. Semakin memudar. Kurasa tulisan itu telah berpindah dari mulut Mei lantas masuk ke kepalaku. Aku menunggu saat-saat itu. Lalu semuanya gelap.
Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Dosen di Universitas Dehasen Bengkulu, alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022). Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.
sumber : kompas.id, 07 Okt 2023.
