Aku tak perlu bertanya untuk tahu letak rumah itu. Sebab, aku mengingat gapura bergonjong sebagai petunjuk saat pertama kali kami mengunjunginya dua dekade silam. Tak ada yang berubah, pikirku. Gapura itu masih berdiri mengangkangi jalan dengan ukiran limpapeh yang tak juga berubah. Aku menyelinap ke jalan setapak mendaki yang dipenuhi pohon-pohon kapuk raksasa persis di belakang gapura tersebut. Setibanya di depan rumah itu, seorang perempuan paruh baya terlihat kesulitan memasukkan ujung benang ke lubang peniti setelah berkali-kali mengulumnya. Aku menghela napas lalu mengucap salam. Perempuan paruh baya itu manatapku mereka-reka lalu berdiri seraya menyipitkan mata. Kemudian, ia berlari merentangkan tangan ketika akhirnya sadar bahwa aku adalah anaknya.
*
Kami duduk berdekatan di atas lapik pandan rombeng. Ia bersimpuh. Aku bersila. Nyaris tak ada perabot yang menghiasi ruangan itu. Sejatinya, rumah itu terbagi dua bagian; satu ruangan tempat kami duduk sekaligus dapur dan satu lagi kamar tidur kecil tanpa tirai. Di tengah-tengah rumah, ada tiang penyangga yang masih kelihatan kokoh.
Ia membelai rambut dan lenganku dengan telapak tangan yang kasar sehingga membuatku geli dan merasa sedikit risih.
”Apa ini asli?” katanya takjub memegangi rambut keemasanku.
Aku mengangguk.
”Kenapa kau tak bilang akan datang?”
“Dengan cara apa aku bisa menghubungimu?”
Ia tersenyum, meraih nampan berisi pisang menghitam yang dikerubungi lalat buah, dan kemudian menyodorkannya padaku.
”Bagaimana kabar adikmu?”
”Dia baru saja lulus dan berencana mengambil S-2.”
”Kalian tumbuh cepat sekali.”
Ponselku kembali berdering. Dua panggilan tak terjawab.
”Kau tidak suka pisang, ya?”
Aku menggeleng.
“Makanlah,” katanya mengupasi kulit hitam itu. ”Kulit ini memang kelihatan busuk, tapi isinya tidak. Nah, lihat.”
Demi sopan santun, aku meraih dan memakannya. Ternyata memang masih bisa dimakan.
Ponselku kembali berdering.
”Kenapa tak diangkat? Siapa tahu itu penting.”
”Sebentar,” ucapku.
Aku keluar kemudian kembali ke dalam setelah membuang beberapa detik mendengar ocehan yang kembali memaksaku menumpahkan sisa-sisa air mata.
”Kau kenapa, Nak?” katanya cemas.
Aku menggeleng. Tidak berani menatapnya. Saat sibuk mencari charger di dalam tas, aku menyeka pipi dengan telunjuk sembari menyampirkan rambut yang tergerai ke belakang telinga.
”Ada apa?”
Aku menggeleng. “Di mana colokannya, Tek?”
Ia menatapku bingung lalu tersenyum canggung.
“Kau tak berubah, Sayang. Terakhir kali ke sini, kau merengek—mengamuk pada ayahmu karena melewatkan acara kesayanganmu. Apakah kau lupa bahwa rumah ini belum dialiri listrik bahkan setelah bertahun-tahun kemudian?”
Kami duduk berdekatan di atas lapik pandan rombeng. Ia bersimpuh. Aku bersila. Nyaris tak ada perabot yang menghiasi ruangan itu. Sejatinya, rumah itu terbagi dua bagian; satu ruangan tempat kami duduk sekaligus dapur dan satu lagi kamar tidur kecil tanpa tirai. Di tengah-tengah rumah, ada tiang penyangga yang masih kelihatan kokoh.
Wajah Rudy Tabootie bersama yang lain tiba-tiba melintas di kepalaku saat ia menyebut acara kesayangan.
“Mungkin di surau bisa. Kau masih ingat, kan, jalannya?”
Aku mengangguk, walau ragu.
*
Aku berdiri di ambang pintu menyaksikannya bergumul dengan asap. Ia membuka tutup periuk nasi, mengeluarkan sebuah bungkusan berplastik hitam lalu mengarih dengan tangkai centong dan menyalin ke dalam cambung nasi. Di dalam plastik itu ternyata ada segenggam cabe merah, dua buah tomat kecil, setengah papan petai, serta beberapa siung bawang merah dan putih. Kemudian, ia menumbuk pecah semua bahan itu dalam batu giling lalu menuangkan cairan kuning-cokelat dalam botol sirup yang mirip minyak jelantah.
“Ah, sudah pulang,” katanya menenteng cambung dan piring bersamaan.
“Makanlah, hanya ini yang ada.”
Aku menelan ludah, bukan karena lapar. “Bagaimana denganmu?”
“Aku puasa.”
“Nanti saja, bersama-sama.”
“Tidak,” sanggahnya, seraya meletakkan makanan itu di atas lapik pandan,
“Sambalado uwok patai ini pasti nikmat bila bertemu dengan nasi hangat. Lagipula magrib masih lama.”
“A—aku tidak lapar.”
“Tentu kau lapar, Sayang,” ujarnya. Wajahnya begitu asih. “Jauh-jauh datang ke mari, bagaimana mungkin kau tidak merasa lapar?”
Aku tidak bisa berbohong. Itu benar. Barangkali dia juga lapar. Aku mengisi piring kanso dengan sesendok nasi lalu memasukkan lado itu sedikit saja.
“Sebaiknya kau pakai tangan!”
“Tidak, aku terbiasa seperti ini.”
Ia tersenyum dan menggeleng-geleng kecil. “Kau tak berubah, Sayang.”
Aku mengendus-endus nasi itu sebelum mengunyahnya. Aroma dan rasanya tak seburuk yang kukira. Aku menyuap sekali lagi untuk memastikan bahwa lidah serta penciumanku tidak keliru. Ya, benar. Ini nikmat seperti yang dia bilang. Aku menambah nasi sesendok lagi dan memutuskan memasukan potongan petai ke dalam mulut untuk pertama kali. Rasanya empuk dan legit.
Jika tahu rasanya akan semanis ini, mungkin aku kan sering meminta Tek Sum di rumah membuatkannya sekali-kali.
“Kau juga harus mencoba kulitnya, Nak.”
“Apa?” tanyaku kaget. “Kulit petai ini memangnya bisa dimakan?”
“Cobalah.”
“Tidak! Aku bukan kambing!” kataku tertawa.
Ia juga tertawa lirih. “Ayahmu tentu takkan melewatkannya.”
Aku mengangguk. “Yang jelas, aku tak menyangka minyak jelantah itu akan seharum dan senikmat ini,” ucapku seraya tetap mengunyah.
“Itu bukan minyak jelantah, Sayang,” jawabnya tersipu. “Itu minyak tanak—dari minyak kelapa yang disangrai lama.”
“Benarkah?”
Ia mengangguk. “Andai saja aku punya sedikit jeruk nipis.”
“Memangnya kenapa dengan jeruk nipis, Tek?”
“Pasti akan bertambah nikmat!”
“Oh Tuhan, ini sudah jauh melampaui rasa nikmat.”
Ia tiba-tiba menunduk.
“Tentu saja,” katanya, lalu diam sesaat sebelum melanjutkan, “Sebab lidahmu belum pernah merasakannya, bukan?”
Aku ragu antara menggeleng atau mengangguk.
“Lagipula, ibumu kan tak pernah membuatkannya untukmu.”
Aku berhenti menyuap lalu menatapnya. Aku bingung saat ia menekankan suaranya kala berkata demikian. Aku mengambil segelas air dalam ceret emas dan meminumnya dalam sekali teguk.
“Apa kau masih marah kepada ibuku, Tek?” ucapku pelan sembari mengelap mulut dengan tisu yang kubawa.
Ia memalingkan muka ke jendela. Seperti mengenang sesuatu, yang begitu sentimentil untuk diingat. Air mata perlahan berlinang di pelupuk matanya. Lalu, ia menyeka perlahan. Aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku merasa perlu meminum segelas lagi disaat perutku sudah terasa begitu kembung.
“Tek, atas nama ibuku, keluarga besarku, aku minta maaf!”
Ia menggeleng cepat. “Ibumu telah melanggar adat!” sahutnya dengan suara gemetar. “Seharusnya ayahmu dimakamkan di sini, di tanah kaumnya!
Begitulah seharusnya ketika seorang datuk meninggal. Tapi ibumu yang keras kepala itu tak peduli dan memilih menyelesaikan dengan caranya sendiri. Kau tahu, para leluhur di atas rumah ini telah mengutukiku karena membiarkan itu terjadi.”
Aku terdiam.
“Pernahkah dia memikirkan betapa besar malu yang harus kutanggung karena ulahnya itu?” Ia menggeleng sekali lagi. “Tidak! Dia tak pernah!”
“Ma—af,” ucapku menunduk.
“Kau tahu, Nak, bukan itu yang membuatku benci padanya, tapi, di saat-saat terakhir ayahmu, dia tak mengizinkan kami menemuinya, bahkan setelah dia pergi pun, ibumu tetap tak memberi kami kesempatan untuk melihat pusaranya. Dia benar-benar sin—.”
Aku pikir rumah ini dapat memberiku rasa aman dan nyaman, tapi setiap rumah yang kukunjungi ternyata sama. Aku benar-benar tak tahu lagi ke mana harus pergi. Aku menahan kedua lengan ketika tubuhku tiba-tiba berguncang. Aku menangis. Perutku kembali bergejolak. Aku memejamkan mata begitu dalam, berharap semua ini tak pernah terjadi.
Lalu ia buru-buru mendekapku dengan erat. Sambil terisak, ia membawa kepalaku rebah di pundaknya. Bau asap masih mengendap di pakaian serta rambut peraknya tapi aku tak peduli. Sudah lama aku tak merasakan pelukan sehangat dan setulus ini. Tentu tidak pada malam penuh omong kosong itu dan tidak pula pada saat-saat lelaki itu berjanji kelak akan menikahiku.
“Maafkan aku, Sayang,” ujarnya membelai pundakku dengan gerakan naik-turun. “Tak seharusnya aku berkata seperti itu kepadamu. Ini jelas bukan salahmu. Aku tahu itu. Maafkan aku!”
Kami tetap berpelukan seperti itu untuk waktu yang lama, tanpa disadari.
*
Hari yang aneh, pikirku, adalah hari dengan beragam perasaan berkelindan di dalamnya. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, paling tidak sekali setahun. Dan aku baru saja mengalami hari itu hari ini.
Kami banyak mengobrol petang itu, sampai-sampai dibuat lupa oleh suara beduk.
Pukul sembilan aku pamit. Dan kepergianku yang mendadak itu tentu saja mengejutkannya.
“Kau mengecewakanku, Sayang,” katanya enggan melepasku pergi dengan raut wajah sedih. “Kupikir kau akan menginap!”
Aku tersenyum, berusaha melepaskan genggamannya yang begitu erat.
“Lihat, semua sudah kusiapkan! Kau bisa tidur di atas dipan. Sementara aku di lapik pandan.”
“Maafkan aku, Tek. Aku buru-buru.”
Ia melepaskan tanganku. “Berjanjilah untuk sering datang mengunjungiku,” ujarnya menyapu air mata. “Lain kali, ajak juga adikmu yang nakal itu, aku benar-benar merindukannya!”
Aku mengangguk. “Pasti, Tek!”
Di kota kecil itu tak ada kafe, restoran apalagi pub. Aku memutuskan kembali ke surau. Di sana aku bertemu lagi dengan lelaki tua yang memakai kopiah kusam dan sarung kotak-kotak tengah memasangi pasak jendela. Di lehernya, melingkar gulungan kabel mikrofon. Aneh.
“Mau sholat?” tanya lelaki itu padaku dengan suara unik.
Aku mengangguk kemudian mengambil mukena buluk yang tersampir di atas pembatas.
“Jika sudah selesai, saya minta tolong matikan lampu dan tutup pintu depan,” pintanya padaku.
Aku kembali mengangguk. “Pak, bolehkah saya mengecas ponsel sekali lagi? Saya mohon, sebentar saja?”
“Silakan.”
Dan ketika ponselku kembali menyala, belasan—tidak, puluhan pesan masuk bergantian. Aku tak tahan melihatnya lalu membalas satu demi satu hingga jatuh tertidur.
***
Yoga Zen. Lahir di Tanah Datar, 22 Agustus 1997. Sekarang Yoga hanya fokus membaca dan menjadi buruh di Batusangkar.
sumber : kompas.id, 11 Agt 2022.
